Ilustrasi : Ditanty Chica Novri

Penulis: Isnaini Siagian

Ada seorang teman mengatakan: “Berislam itu tidak gampang, karena ada konsekuensinya yang kadang terasa berat dijalani.”

Sahabat-sahabatku, kali ini ana akan membahas Nikmat Membaca Al-Quran dan Bahaya Melupakannya. Ana yakin, antum adalah orang-orang yang sudah akrab dengan Al-Quran. Pasti antum sudah membawanya ke mana-mana, baik sekolah, kampus, masjid, tadarusan, dan lainnya. Memang ini kebiasaan yang harus kita pertahankan sampai tidak ada batasnya.

Kita dianjurkan oleh para jumhur ulama untuk membaca Al-Quran sedikitnya sepuluh ayat dalam sehari. Jika lebih banyak lebih baik lagi, tapi mungkin sulit. Jadi yang terpenting bacalah. Lalu istiqomahlah bersama Al-Quran.

“Thaahaa. Maa anzalnaa ‘alaikal qur’aana litasyqaa. Illa tadzkiratal limayyakhsya. Tanziilam mimman khalaqal ardha wassamaawaatil ‘ulaa…”

Mendengar alunan suara Al-Quran itu, bergetarlah hati Umar bin Khatab. Semula bermaksud menghajar adiknya, Fatimah, yang telah memeluk Islam. Tiba-tiba berbalik seratus delapan puluh derajat karena mendengar bacaan di atas. Saat itu juga Umar minta diantarkan kepada Rasulullah untuk dibimbing memeluk agama Islam.

Sungguh enak sekali didengar jika Al-Quran itu dibaca dengan perlahan. Apalagi kalau dengan suara yang merdu, pasti akan membuat hati rindu. Rangkaian kata Al-Quran telah mampu melantakkan keangkuhan orang-orang yang berjalan di muka bumi ini. Lalu berubah manjadi orang yang terbaik dalam sejarah kemanusiaan.

Ana ingin berbagi kepada antum sekalian tentang kiat-kiat untuk menikmati indahnya lantunan ayat suci Al-Quran. Di antaranya adalah membaca dengan perlahan, tertib dan tidak tergesa-gesa. Baik bacaan kita sudah bagus ataupun masih terbata-bata, jika ini diamalkan, insyaallah kita bisa menikmatinya. Sesekali buka artinya, renungkan, hayati dalam hati, maka kita akan semakin cinta pada Al-Quran.

Selain itu khusyuklah ketika membacanya, jangan sambil melakukan hal lain. Antum bisa membacanya bakda subuh ataupun salat fardu lainnya, atau waktu yang lebih baik dan tenang adalah saat qiamulail.

Rasulullah SAW. Pernah menyuruh Ibnu Mas’ud untuk membacakan Al-Quran kepadanya. Maka bertanyalah Ibnu Mas’ud: “Ya Rasulullah, bagaimanakah aku membacakan untukmu, padahal Al-Quran diturunkan kepadamu?” “Aku ingin mendengar dari orang lain,” jawab Rasulullah.

Ibnu Mas’ud berkisah: Maka aku bacakan surat an-Nisa sampai pada ayat ‘Fakaifa idzaa ji’naa ming kulli ummatin bisyahiidiw waji’naabika ‘alaa haa-ullaa-I syahiida, Nabi bersabda: “cukup sampai disini”. Ketika aku menoleh kearah Nabi, kulihat beliau bercucuran air mata.

Sahabat-sahabat, pada hadis itu terlihat betapa Rasulullah menikmati bacaan Al-Quran orang yang di luar dirinya. Beliau khusyuk hingga larut hatinya dalam alunan Al-Quran. Beliau terharu, menangis, dan bercucuran air mata. Bukan karena susah, tapi karena tergugah oleh ayat suci Al-Quran.

Sahabat Ibnu Mas’ud memang terkenal bagus bacaanya. Ia ahli Qur’an sebagaimana sahabat Abu Musa al-ASy’ari. Tentang Abu Musa, Rasul SAW. mengungkapkan kekagumannya dengan sabdanya: “Sungguh engkau telah diberi oleh Allah tenggorokan bagaikan tenggorokan Nabi Daud As.

Pada kesempatan lainnya, Rasulullah mengatakan kepada Abu Musa, bahwa semalam beliau mendengarkan bacaanya. Maka Abu Musa kaget, lalu berkata: “Andaikan aku mengetahuinya, tentu aku akan baca lebih merdu lagi dari itu untukmu ya Rasullah.”

Begitulah, membaca ataupun mendengarkan bacaan orang lain tetap bernilai. Bahkan ketika bulan Ramadan dianjurkan untuk tadarus, saling mendengarkan bacaan dan saling mengoreksi kesalahannya sehingga bacaan kita akan semakin lebih bagus.

Mungkin di antara kalian sering mendengarkan kaset murottal di masjid-masjid, atau Mp3 sendiri. Nah, bacaan dan nada lagunya sesuai selera kita sendiri.

Hanya tinggal antum program, terserah berapa pun banyaknya. Terbata-bata juga tidak menjadi masalah. insyaallah akan tetap berpahala. Don’t worry about making mistakes. The more you know your weaknesses, the harder you will learn. The more you learn, the fewer mistakes you will make. Begitu kata orang bijak.

Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang lupa terhadap Al-Quran. Jika seseorang melupakan Al-Quran, akan mendapat azab-Nya, lingkungan pun bisa terkena imbasnya. Bahkan tidak hanya di dunia, melainkan juga di akhirat.

Pertama, orang yang melupakan Al-Quran akan berada dalam kesesatan (Dhalaamum mubiin). Karakteristik orang-orang yang melupakan Al-Quran lebih suka membuat keonaran, keributan dan kerusakan. Diingatkan tidak terima, tanpa disadari ia rusak dan binasa dengan sendirinya. Naudzubillah.

Kedua, Dhayyiqun haraj, dadanya akan terasa sempit akibat himpitan beragam masalah yang menimpanya. Sementara pertahanan dirinya rendah. Sehingga dadanya selalu terasa sempit dan jauh dari (ketenangan).

Fitrahnya, setiap orang sebenarnya mempunyai banyak masalah. Tapi Allah akan melapangkan dada orang yang hatinya dekat dengan Al-Quran, sehingga mampu bersabar dan tegar mengahadapinya. Ia pun berpahala besar, dan akhirnya loloslah ia dari kepungan masalah itu.

Antum dan saya, pasti mempunyai banyak masalah, baik dari keluarga sendiri, teman, guru, bahkan dari dalam diri sendiri. Misalnya remaja berhadapan dengan masalah jerawat yang banyak, sampai ke percaya diri. Kalau kurang iman, kurang membaca Al-Quran atau nasihat dari ustaz-uztaz, bisa saja diri menjadi minder, mudah murung, ingin rasanya mengasingkan diri saja. Tidak sedikit remaja yang seperti ini. Solusinya? Dekatlah dengan Al-Quran.

Ketiga, Ma’isyatun dhan, kehidupan yang serba sulit. Hal ini berkaitan erat dengan yang kedua. Begitu seseorang meninggalkan dan melupakan Al-Quran, maka ia akan beramal berdasarkan sesuatu di luar Al-Quran yang merupakan sumber cahaya kehidupan. Setiap orang bebas untuk memilih yang mana, yang mengambil berarti hidupnya akan terang, jauh dari kegelapan, ia pasti melangkah di jalan ilahi, Insyaallah. Sementara yang mengabaikannya, pasti menjumpai kegelapan hidup. Nah jika dituntut untuk memilih, kalian mau jalan terang atau gelap? Seperti Firman Allah di dalam surah Thaha ayat 124 yang berbunyi: “Dan barang siapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.Naudzubillah.

Keempat, mata hatinya buta atau Umyul bashirah. Orang yang buta mata hatinya tentu tidak dapat membedakan antara yang benar dengan yang salah. Boleh jadi ia melakukan kesalahan, namun ia memandangnya sebagai kebenaran. Kalau begini jadinya, bagaimana ia bisa diterima masyarakat? Buta hati mengakibatkan seseorang tidak bisa mengambil pelajaran dari kehidupan yang ia saksikan. Padahal betapa banyak kekuasaan Allah yang ditampakkan-Nya di alam semesta ini.

Kelima, fasik atau fusuk. Orang disebut fasik bila telah melakukan dosa besar. Bila setan telah menjadi teman, melakukan kejahatan menjadi kebiasaannya. Awalnya ia berani melakukan dosa-dosa kecil, lama-kelamaan berani melakukan dosa-dosa besar. Karena terbiasa dengan perbuatan dosa, hari-harinya dipenuhinya dengan kemaksiatan. Astaghfirullah.

Seperti yang tertera dalam firman Allah surah Al-Baqarah ayat 27 yaitu orang fasik adalah orang yang merugi. Mereka adalah orang-orang yang melanggar perjanjian Allah dan memutuskan apa yang seharusnya dihubungkan. Naudzubillah.

Wallahua’lam.

Penulis adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, semester IV

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

1 KOMENTAR

Comments are closed.