Addin 353: Jilboobs: Tren Hijab Tertutup atau Terbuka?

- Advertisement -

(Ilustrator: Putri Ayu Dahniar Harahap)

Penulis: Nadia Prasiska 

Ketika mendengar kata jilboobs? Apa yang akan terlintas dipikiran Anda? Sebagaimana diketahui bahwa jilboobs berasal dari dua kata yakni, jilbab dan boobs. Jilbab adalah pakaian kurung atau gamis yang berguna untuk menutup aurat bagi kaum hawa, sedangkan boobs adalah kosakata yang berasal dari bahasa Inggris yang artinya payudara atau dada. Jadi, jilboobs adalah model berpakaian Muslimah yang tidak mengikuti kaidah syariat Islam dengan melanggar prinsip-prinsip berjilbab dengan menonjolkan area payudara. Sehingga tampak jelas lekukan demi lekukan pada diri wanita tersebut.

- Advertisement -

Lalu, bagaimana ciri-ciri jilboobs tersebut? Biasanya, jilboobs terlihat dari cara berpakaian wanita dengan menggunakan baju yang ketat dan transparan, legging atau celana yang pas badan, serta pemakaian kerudung yang tidak menutupi dada. Bisa disimpulkan bahwa, jilboobs ialah cara berpakaian dengan mengusung gaya Islami, tetapi dengan konsep lebih kekinian agar tidak ketinggalan zaman.

Jika ditelusuri lebih jauh, fenomena jilboobs sudah marak pada tahun 2014. Di tahun-tahun sebelumnya juga tak dapat dipungkiri sudah ditemukan kaum hawa yang mengenakan model berpakaian seperti ini. Awal mula ini terjadi karena munculnya ‘jilbab lepat’ yang dipadu padankan dengan celana ketat (jeans) dengan baju yang pas di badan.

Masyarakat yang mulai peka terhadap fesyen atas kebutuhannya membuat pakaian memasuki masa tren tersendiri di zaman sekarang. Berbagai model pakaian Muslimah mulai dibongkar dan disesuaikan dengan kebutahan pasar dan mode. Sayangnya, tidak sesuai dengan syariat Islam. Contohnya, jilboobs yang merupakan bentuk fesyen yang keluar dari kaidah aturan berjilbab.

Pembahasan maslahat jilboobs berdasarkan hukum dapat dilihat dalam surah Al-Ahzab ayat 59 dan diperjelas dalam surah An-Nur ayat 31: 

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Ahzab: 59).

Makna jilbab dari ayat tersebut, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa jilbab adalah kain lebar (baju kurung/gamis) yang dipasang menutupi khimar (kerudung). 

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya, janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS. An-Nur: 31).

Sudah jelas Islam menyuruh Muslimah untuk berpakaian secara sederhana, tidak berlebihan. Menutup dengan sempurna, bukan menutup tetapi seperti telanjang. 

Sehingga dengan berpakaian jilboobs, jelas tidak ada bedanya dengan mengumbar aurat yang seharusnya ditutupi dan tidak diperlihatkan kepada yang bukan mahramnya. Padahal sudah jelas terdapat ancaman bagi wanita yang seperti ini dijelaskan dalam hadis, yaitu:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Sallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Dua jenis penghuni neraka yang belum pernah aku lihat. (1) Sekelompok orang yang membawa cambuk seperti ekor sapi dan dia gunakan untuk memukuli banyak orang. (2) Para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, jalan berlenggak-lenggok, kepalanya seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk surga dan tidak mendapatkan harumnya surga, padahal surga bisa dicium sejarak perjalanan yang sangat jauh”. (HR. Ahmad 8665 dan Muslim 2128).

Sayangnya, dewasa ini banyaknya kaum hawa yang ingin menjadi objek tontonan kaum adam. Mereka tak segan mengikuti perkembangan zaman dan tenggelam dalam gemerlap dunia fesyen. Di mana dengan alih menutup aurat, tetapi tak seleras dengan yang sudah disyariatkan sejak zaman Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka bangga dengan menggunakan gaya jilboobs dan memamerkannya di sosial media yang dimiliki. Padahal jika menilik hadis di atas bahwa wanita dilarang menunjukkan auratnya kepada yang bukan mahramnya.

Sesuai dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara tegas telah mengeluarkan fatwa haram mengenai pemakaian busana bagi Muslimah yang masih memperlihatkan lekuk tubuh. Hal ini termasuk bagi wanita pengguna jilbab, namun tetap mengenakan busana seksi yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang kini dikenal dengan istilah jilboobs.

Walaupun kita hidup di zaman milenial seperti sekarang bukan berarti kita dapat menyalahi aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh syariat Islam terutama dalam hal berpakaian untuk Muslimah. Mengikuti fesyen yang ada pada saat ini tak mengapa, tetapi kita harus paham bahwa adanya kewajiban menutup aurat secara kafah. 

Untuk itu, tren jilboobs tidak dianjurkan untuk diikuti oleh para Muslimah. Terkhusus untuk anak-anak muda yang hidup berdampingan dengan canggihnya teknologi. Akhirnya, mereka banyak mengikuti tren ini dikarenakan untuk terlihat seksi dan menggoda juga modis bila dipandang mata. Persepsi seperti ini yang harus diluruskan sehingga tidak menimbulkan persepsi sesat di kalangan generasi muda Islam.

Sebaik-baik perhiasan di dunia adalah wanita saleha. Jadi, berhijrahlah secara kafah dan perbanyak langkah untuk datang ke majelis ilmu agar tidak salah alur dalam berpedoman. Apalagi dalam berbusana sesuai dengan syariat Islam. Oleh karena itu, yuk berhijab syar’i, Ukhtyna! Selalu ingat bahwa berhijab itu kewajiban, bukan pilihan!

Biodata Penulis:

  • Nama: Nadia Prasiska
  • Fakultas: Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)
  • Jurusan: Pendidikan Agama Islam (PAI) Semester VIII
  • IG: @nadiasyira_pra

Share article

Latest articles