Addin 335: Larangan Gibah dalam Islam

(Ilustrator/Muhammad Tri Rahmat Diansyah)

Penulis: Putri Nur Meyliani As

Siapa yang tidak tahu dengan gibah? Aktivitas yang satu ini, sudah sangat eksis di telinga kita atau tanpa disadari ternyata kita sudah melakukannya? Wallahua’lam. Istilah gibah dikenal dengan sebutan ‘menggunjing’ atau trennya disebut dengan ‘gosip’. Gibah merupakan aktivitas yang dilakukan dengan maksud membicarakan hal negatif tentang seseorang yang tidak mengetahuinya. Singkatnya, gibah adalah membicarakan aib seseorang.

Hal ini sejalan dengan Hadis dari Abu Hurairah, Nabi Salallahu alaihi wasallam bersabda: “Tahukah kamu apakah itu gibah?”. Sahabat menjawab: “Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Rasul bersabda: “Gibah itu, jika engkau membicarakan keadaan saudaramu yang ia tidak suka dengan hal yang disebut atau dibicarakan kepada orang lain”. Ada yang bertanya: “Bagaimana pendapat (Rasulullah Salallahu alaihi wasallam) jika padanya ada yang telah dibicarakan?” Rasul menjawab: “Jika ada padanya tentang sesuatu yang dibicarakan, maka engkau telah melakukan gibah kepadanya dan jika tidak ada padanya apa yang telah dibicarakan, maka engkau berbuat buhtan terhadapnya”. (HR. Muslim 2589)

Islam secara tegas melarang perbuatan gibah. Pelaku gibah diibaratkan dengan orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri. Hal ini sejalan dengan firman Allah Subhanahu wa ta’ala: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang”. (Q.S. Al-Hujarat: 12)

Mengapa Allah Subhanahu wa ta’ala sampai mengibaratkan pelaku gibah sama seperti orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri? Apakah gibah begitu berbahaya? Gibah merupakan salah satu penyakit hati yang dapat menjatuhkan citra atau kehormatan seseorang. Pelaku gibah biasanya selalu mencari-cari kesalahan atau kekurangan yang ada pada diri orang lain. Bak kata pepatah ‘gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak’.

Kehadiran gibah di tengah masyarakat dapat menjadi pemicu adanya pertengkaran. Hal ini dipertegas oleh Rasul dalam suatu hadis yang berbunyi: “Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Salallahu alaihi wasallam bersabda: “Cukuplah keburukan bagi seseorang dengan meremehkan saudara muslimnya sendiri. Bagi setiap muslim haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas muslim yang lain”. (H.R. Muslim 2564)

Di era modern ini, gibah telah menjadi wabah penyakit yang telah menjamur di kalangan masyarakat luas. Aktivitas ini dapat dilakukan dengan mudah oleh berbagai kalangan seperti remaja, ibu rumah tangga, pekerja kantoran, dan lainnya. Selain itu, para pelaku gibah memanfaatkan adanya kemajuan teknologi dalam melancarkan aksinya. Bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi?

Hari ini, mulut bukan satu-satunya alat untuk berkomunikasi, melainkan tangan pun turut serta dalam hal itu. Dahulu, tangan hanya dikenal sebagai alat peraba, bukan alat untuk berkomunikasi. Namun, seiring dengan erkembangan zaman, adanya benda-benda elektronik seperti gawai membuat tangan juga menjadi juru bicara. Hal ini dapat dilakukan dengan sangat mudah, tinggal menggeser, menekan tombol, dan lainnya. Allah berfirman: “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”. (Q.S. Yasin: 65)

Pemanfataan media teknologi lainnya juga dapat menjadi pemicu kehadiran gibah, misalnya televisi dan radio. Umumnya, televisi dan radio merupakan media informasi. Sayangnya, ada pula program televisi dan siaran radio yang mengajak masyarakat dalam melakukan aktivitas gibah seperti gosip entertainment dan lainnya. Dengan berbagai fenomena di atas, maka jelaslah bahwa gibah telah menjadi tren masa kini yang sudah melekat pada diri masyarakat luas, tetapi hal tersebut dapat dihindari. Sebagai pengguna media yang bijak, diperlukan beberapa tips untuk menghindari gibah atau gosip, yaitu:

  1. Berkumpul dengan Orang Saleh

Salah satu solusi untuk menghindari gibah adalah berkumpul dan bergaul dengan orang yang saleh. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengikuti majelis taklim, pengajian, dan lainnya. Selain itu, kita dapat memanfaatkan media sosial pula. Ini menjadi salah satu cara yang efektif dalam menghindari gibah.

Rasulullah Salallahu alaihi wasallam juga menganjurkan umatnya agar tidak salah dalam memilih pergaulan. Beliau bersabda: “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk adalah ibarat seorang penjual minyak wangi dan pandai besi. Seorang penjual minyak wangi akan memberimu minyak wangi, atau kamu dapat membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak dengan hal yang demikian, kamu akan tetap mendapatkan bau harum darinya. Sementara, seorang pandai besi bisa jadi (percikan apinya) dapat mengenai pakaianmu, dan kalau tidak, maka kamu tetap mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap”. (H.R. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

  1. Menjaga Lisan

Hal yang paling sulit dilakukan manusia adalah menjaga lisannya. Melalui lisan, manusia dapat lebih mudah menciptakan penyakit hati. Gibah merupakan salah satu penyebab terciptanya penyakit hati. Bak kata pepatah ‘diam itu emas’, inilah kalimat yang sebaiknya menjadi pedoman saat kita ingin melakukan gibah. Selain itu, Allah Subhanahu wa ta’ala juga memperingatkan manusia untuk menjaga lisannya, karena akan ada yang senantiasa mencatat setiap ucapan manusia. Firman Allah Subhanahu wa ta’ala: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya, melainkan ada di sisinya Malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)”. (Q.S. Qaf: 18) 

  1. Banyak Mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala

Memperbanyak untuk mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala adalah solusi agar kita terhindar dari kemaksiatan, salah satunya adalah gibah. Dengan mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala, maka kita akan selalu merasa diawasi oleh-Nya, dan dapat menumbuhkan rasa mahabbah kepada-Nya. Firman Allah Subhanahu wa ta’ala: “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku”. (Q.S. Al-Baqarah: 152) 

Biodata Penulis

  • Nama : Putri Nur Meyliani As
  • Jurusan/Semester : Pendidikan Agama Islam/VII
  • Fakultas : Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
  • Nomor Ponsel : 0813-6151-1798
  • Instagram : @putrinurmeyliani