Addin 334: Ringankan Langkahmu ke Masjid

(Ilustrator/Mhd Faris)

Penulis: Tri Kurniati

“Salatnya seorang pria berjemaah pahalanya 27 derajat dibanding sendirian di rumah atau di pasar. Demikian itu, karena jika ia berwudu sempurna, lalu ia pergi semanata-mata untuk salat berjamaah, maka setiap langkahnya mengangkat satu derajat dan diampuni satu dosanya. Jika ia salat, maka malakat selalu berselawat selama ia di majelis salat tanpa hadas, “Ya Allah, ampunilah ia dan rahmatilah ia”, dan dianggap mengerjakan salat sepanjang menunggu waktu salat.” (HR. Bukhari Muslim)

Pernahkah terlintas dalam benak kita betapa berat dan jauhnya langkah kaki ini menuju masjid? Padahal, suara azan berkumandang terdengar jelas di telinga yang jaraknya hanya sekitar 400 meter. Sedangkan jarak ke kantor atau kampus mencapai 5 km, bahkan masih melewati macetnya jalanan kota. Terlalu berambisi mencari kebahagiaan dunia sampai menjadikan kita lupa akan akhirat. Terlalu berambisi menjadikan kita terlihat kaya di mata manusia, tetapi lupa bahwa kita terlalu miskin di hadapan Allah.

Terlalu banyak alasan yang membuat kita sendiri tidak sadar telah jauh dari rumah Allah. “Mas, ayo, ke masjid. Azan sudah berkumandang,” ajakan tetangganya. “Iya Mas, duluan saja. Saya salat di rumah, kebetulan anak lagi rewel,” pungkasnya. Keesokan harinya, tetangganya melihat laki-laki itu berangkat ke kantor pagi-pagi sekali dan terlihat sangat terburu-buru. “Pagi Mas, buru-buru banget. Mau ke mana?” tanyanya. “Ini Mas, mau ke kantor. Ada meeting dadakan dan ada beberapa berkas yang harus diselesaikan. Duluan ya, Mas,” sambil melajukan kendaraannya.

Dari percakapan dua tetangga di atas, terlihat jelas bahwa manusia terlalu berambisi dengan hartanya. Padahal, belum masuk jam kerja. Namun, rela berangkat lebih awal, sedangkan sudah masuk waktunya salat malah bersantai-santai, berasa tidak ada beban sedikit pun. Kita selalu takut dipecat oleh atasan. Pernahkah kita merasa takut dipecat sebagai hamba Allah?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Setiap langkah menuju tempat salat akan dicatat sebagai kebaikan dan akan menghapus kejelekan”. (HR. Ahmad 2283)

Mungkin, sebagian orang berpikir bahwa jam salat masih panjang. Ah, tanggung nih, lanjut dululah, salat masih panjang. Setelah pulang kerja badan terasa lemas, ketiduran atau lain sebagainya. Alhasil, kita meninggalkan kewajiban sebagai umat muslim. Padahal, sudah dijelaskan dalam hadis, bahwa setiap langkah kaki menuju masjid atau tempat ibadah akan dicatat sebagai pahala.

Sebaik-baiknya salat bagi laki-laki adalah salat berjamaah di masjid. Sesuai dengan para fuqaha (ulama ahli fikih) menegaskan dengan mengimbau agar memperpendek langkah menuju masjid dan tidak tergesa-gesa (berjalan dengan tenang) ketika menuju masjid.

Dalam Islam, salat menjadi sebuah kebutuhan, pengharapan kita terhadap-Nya, meminta perlindungan dan pengampunan hanya kepada-Nya. Karena, Tuhan tidak butuh kita, kitalah yang membutuhkan Tuhan. Jangan merasa menjadi orang yang paling tidak membutuhkan siapa pun. Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya.

Bukan tidak mungkin kita menjadi seseorang yang paling benar, seseorang yang hanya akulah yang dapat membantu orang lain dalam hal ekonomi. Hartamu hanyalah titipan semata. Sewaktu-waktu Allah dapat mengambilnya kembali atas kehendak-Nya. Namun, pahalamu akan abadi. Langkahkan kakimu ke jalan yang benar; yang diridai Allah, jangan melangkah ke jalan yang Allah murkai.

Kalau kakimu tidak membawamu ke masjid, bagaimana ia akan membawamu menuju surga? Langkah kakimu menentukan tujuan masa depanmu. Lantas, bagaimana seseorang yang pergi ke masjid naik kendaraan?

“Apakah kalian mau aku tunjukan dengan apa yang Allah hapuskan dosa baginya dan Allah tinggikan derajatnya? Para sahabat menjawab: tentu wahai Rasulullah, kemudian beliau berkata: menyempurnakan wudu di saat yang dibenci, memperbanyak langkah ke masjid, menunggu salat sampai salat berikutnya, maka itulah ar-ribath.” (HR. Muslim 251)

Langkah kakimu akan menjadi saksi di akhirat kelak. Perlu Anda ketahui bahwa selain mendapat pahala dari Allah, kita juga akan merasakan badan kita menjadi sehat. Karena, badan kita bergerak seperti berolahraga dan bukan hanya duduk manis menatap layar di ruangan ber-AC.

Hal yang paling berharga dalam hidup adalah ketika kita mampu menjadi bermanfaat untuk orang lain. Namun, apakah bermanfaat saja cukup di mata Allah, jika kita tidak melakukan kewajiban sebagai hamba-Nya? Sertai keberhasilan dengan ilmu agamamu. Menunaikan yang wajibnya saja kamu belum mampu, bagaimana dengan sunah yang sudah menunggu bertahun-tahun untuk kau tunaikan?

Hiduplah seolah-olah kamu akan mati. Dengan begitu, kamu akan melakukan kewajibanmu. Namun, jika kamu hidup dengan tujuan ingin menjadi orang terkaya, prosesmu hanya akan terus mencari harta, dan lupa akan kewajiban semestinya.  Siapkah kamu jika dipecat sebagai hamba Allah?

Motivasi untuk kita semua agar lebih meringankan langkah kaki kita menuju masjid. Langkah kakimu dapat menjadi segudang pahala bagimu. Jika jarak masjid masih bisa terjangkau dengan berjalan kaki, maka lebih baik berjalanlah. Bagilah waktumu antara pekerjaan dan kewajiban. Pekerjaan itu kebutuhan, sedangkan kewajiban itu harus ditunaikan.

Biodata Penulis

  • Nama : Tri Kurniati
  • Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Islam
  • Jurusan : Akuntansi Syariah
  • Semester : V
  • Nomor Ponsel : 081251372659
  • Media Sosial   : tri_kurniati23 (Instagram)