Addin 318: Sunah Bulan Muharam sebagai Pembuka Tahun Baru Islam

(Ilustrator/Ditanti Chica Novri)

Penulis : Mekha Wahyuni

Allah ciptakan langit dan bumi dengan disematkannya empat bulan yang mulia dari jumlahnya 12 bulan. Salah satu dari keempat bulan itu ialah Muharam, bulan pertama dalam kalender tahun Hijriah. Kehadiran bulan Muharam oleh masyarakat muslim disambut dengan sangat rasa syukur dan nikmat guna meningkatkan ketakwaan dengan memperbanyak ibadah.

“Sesungguhnya masa berputar seperti hari saat Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun adalah 12 bulan, di antaranya ada empat bulan yang mulia. Yang tiga secara beriringan, yaitu Zulkaidah, Zulhijah dan Muharam, dan Rajab yang terletak antara Jumada dan Syakban.” (HR. Bukhari 5550 dan Muslim 4477)

Memasuki bulan Muharam, menandakan pergantian tahun dalam sejarah kalender Islam yang juga merupakan berkah bagi umat Islam di seluruh dunia. Karena, hingga saat ini Islam terus berkembang serta bercahaya menyinari dunia dengan kedamaian dan rahmat-Nya.

Sejarah 1 Muharam sebagai tahun baru Islam, awalnya ditandai dengan peristiwa besar berupa peristiwa hijrah Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam dari Kota Makkah ke Madinah pada tahun 622 M. Peristiwa tersebutla yang melahirkan sebuah penamaan kalender Islam.

Sebelum zaman Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam, masyarakat Arab tidak menggunakan sistem kalender tahunan untuk memperingati suatu peristiwa. Mereka hanya menggunakan sistem hari dan bulan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kelahiran Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam yang lahir pada tahun Gajah, masyarakat Arab tidak menggunakan angka dalam menentukan tahun.

Semua para sahabat Rasul Allah, seperti Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan Thalhan bin Ubaidillah berdiskusi untuk menentukan sistem kalender Islam. Dari banyaknya usulan, terpilihlah usulan dari Ali bin Abi Thalib yaitu kalender Hijriah Islam dimulai dari persitiwa hijrah Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam. Dengan alasan, peristiwa itu merupakan pintu masuk kehidupan baru bagi  Rasul dan umatnya dari dunia kemusyrikan menuju dunia tauhid (Islam).

Kata Muharam, secara etimologinya diambil dari bahasa Arab “Harrama-Yuharrimu-Tahriiman-Muharrimun-wa-Muharamun” yang berarti “diharamkan”. Yakni, Muharam adalah sesuatu yang dihormati dan diharamkan (dari hal-hal yang tidak baik). Sebagaimana tertulis dalam sejarahnya, bahwa pada bulan Muharam ini umat Muslim diharamkan Allah untuk berperang.

Tahun     Baru Islam 1 Muharam 1442 Hijriah kali ini jatuh pada tanggal 20 Agustus 2020, yang tak terasa sebentar lagi akan berakhirnya bulan Zulhijah dan diawalinya tahun baru Islam untuk seluruh umat muslim sedunia. Namun, dengan berlalunya tahun 1441 Hijriah bukan berarti berlalunya juga dosa-dosa yang telah kita perbuat, itu akan semakin menumpuk jika tidak adanya amal serta ibadah yang kita kerjakan kepada Sang Pencipta.

Umat muslim akan terus mengahadapi masa depan yang akan datang dengan skenario yang sudah dituliskan Allah untuk umat-Nya masing-masing, hingga pada akhirnya dipisahkan oleh maut yang bisa datang kapan saja. Oleh karena itu, hal ini diketengahkan oleh amirulmukminin, Umar Ibn Khaththab: “Haasibuu anfusakum qabla an tuhasabuu”. Artinya, koreksilah diri kalian, sebelum kalian semua dikoreksi (di akhirat) kelak. Dalam ungkapan itu yang dimaksud adalah seruan pada umat muslim untuk introspeksi diri pada apa yang pernah dilakukan tahun-tahun sebelumnya.

Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam menganjurkan pada umatnya untuk melakukan amal dan ibadah yaitu dengan berpuasa pada bulan Muharam tepatnya pada awal (1 Muharam). Sebagaiamana dijelaskan dalam sabdanya: “Puasa pada hari Asyura menghapuskan dosa-dosa (kecil) pada setahun yang lampau”. (HR Muslim)

Setelah itu, kita juga bisa mengamalkan dengan membaca doa akhir tahun, ini hendaknya dibaca sebanyak tiga kali pada akhir waktu asar tanggal 29 atau 30 Zulhijah. Pembacaan ini dimulai dengan membaca surah Yasin sebanyak tiga kali dan kemudian doa akhir tahun.

“Allahumma ma ‘alimtu fi hadzihis sanah mimma nahaitani ‘anhu fa lam atub ‘anhu, wa lam tardhohu wa lam tansahu, wa halimta ‘alayya ba‘da qudrotika ‘ala ‘uqubati, wa da’utani ilat taubati mim ba’di jaro’ati ‘ala ma’shiyyatika, fa inni astaghfiruka faghfirli. Wa ma ‘alimtu fiha mimma tardhohu wa wa’adtani ‘alaihis Sawab, fa as’alukallohumma ya karim ya dzal jalali wal ikrom an tataqobbalahu minni wa la taqtho’ roja’i minka ya karim, wa shollallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.”

Kemudian, membaca doa awal tahun, ini hendaknya dibaca setelah melaksanakan salat magrib (saat itulah tanggal 1 Muharam telah tiba) sebanyak tiga kali, yang dimulai dengan membaca surah Yasin dan kemudian dilanjutkan dengan doa awal tahun.

“Bismillaahir-rahmaanir-rahiim. Wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa ‘aalihi wa shahbihii wa sallam. Allaahumma antal-abadiyyul-qadiimul-awwalu, wa ‘alaa fadhlikal-’azhimi wujuudikal-mu’awwali, wa haadza ‘aamun jadidun qad aqbala ilaina nas’alukal ‘ishmata fiihi minasy-syaithaani wa auliyaa’ihi wa junuudihi wal’auna ‘alaa haadzihin-nafsil-ammaarati bis-suu’i wal-isytighaala bimaa yuqarribuni ilaika zulfa yaa dzal-jalaali wal-ikram yaa arhamar-raahimin, wa sallallaahu ‘alaa sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa aalihi wa shahbihii wa sallam.”

Tak lupa juga membaca zikir dan doa Asyura pada malam 10 Muharam. Kita dianjurkan untuk membaca, “Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maulaa wa ni’man nashiir” sebanyak 70 kali pada waktu setelah magrib. Setelah itu membaca doa Asyura sebanyak tujuh kali.

“Wa shallallahi ‘ala sayyidinaa muhammadin wa ‘ala alihii wa sohbihi wa sallam. Subhaanallahi mil al miizaani wa muntahal ‘ilmi wa mablaghor ridho wa zi natal’arsyi laa maljaa wa laa manjaa minallahi illaa ilaiih. Subhanallai ‘adadasysyaf’I wal witri wa ‘adada kaalimatihit taaammaati kullahaa, as alukas salaamata kullahaa bi rohmatika yaa arhamar roohimiin. Wa laa haula wa laa quwwata illa bollahil ‘aliyyil ‘adziim. Wa huwa hasbii wa ni’mal wakiil ni’mal maula wa ni’man nashiir. Wa shollallaahu ta’aala ‘alaa nabiyyinaa khoiri kholqihi sayyidinaaa muhammadin wa’alaa alihi wa sohbihi wa sallama ajma’iinn.”

Amalan tak hanya sebuah kewajiban semata yang ingin dilakukan, tetapi niat murni dari hati. Insyaallah, atas izin-Nya amalan yang kamu perbuat ini bisa menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu. Dan dengan begitu juga mampu meningkatkan iman bagi setiap orang yang mengerjakannya, sebab Islam itu adil dan tidak memberatkan umatnya.

Insyaallah dengan momen ini, di tahun yang akan datang, Islam akan semakin jaya dan terus terdepan menciptakan kedamaian, keberkahan dan keselamatan bagi dunia yang sedang kita tempati. Waallahu ‘alam.

Biodata Penulis 

  • Nama : Mekha Wahyuni
  • T.T.Lahir : Medan, 05 Agustus 2000
  • Jurusan : Komunikasi Penyiaran Islam
  • Fakultas : Dakwah dan Komunikasi
  • Semester : IV
  • WA : 0815 3542 7541
  • Email  : mekhamee58@gmail.com
  • Instagram    : whynimekha_

Latest articles

Beramal Baiklah Layaknya Seperti Lebah

Penulis : Khoiriah Syafitri “Teruslah berbuat kebaikan dan jangan pernah bosan. Sebab tidak ada balasan untuk kebaikan melainkan kebaikan itu juga bahkan kebaikan yang lebih...

Masih Bertahan dalam Bosan?

Penulis: Muhammad Tri Rahmat Diansa Beberapa bulan sudah terlewat dan kita masih dipisahkan oleh jarak, sebab pandemi yang seolah tak ingin mengakhiri. Rasa bosan, jenuh,...

Tingkatkan Generasi Qur’ani, JPRMI Adakan Tablig Akbar

Medan, Dinamika Online - Dalam rangka meningkatkan generasi qur’ani organisasi Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) mengadakan kajian tabligh akbar dengan mengusung tema...

It’s Okay: Perjalanan Mencari Jati Diri

Judul : It's Okay to Not Be Okay atau Psycho But It’s Okay Genre : Romansa-Drama Sutradara : Park Shin-woo Penulis : Jo...

Tatang Koswara: Sniper Kaliber Dunia

Judul buku : Satu Peluru Satu Musuh Jatuh: Tatang Koswara Sniper Kaliber Dunia Penulis : A. Winardi Penerbit : Penerbit Buku Kompas Tahun...