Addin 305: Mengapa di Bulan Ramadan Masih Ada yang Bermaksiat?

Ilustrator: Ditanti Chica Novri

Penulis : Iqbal Muhajir Rul Koto

Bulan Ramadan telah hadir sejak beberapa hari yang lalu, kedatangannya pun disambut oleh umat muslim di seluruh dunia dengan suka cita. Bulan yang di dalamnya penuh dengan keberkahan, ampunan, dan bulan yang juga menyuguhkan ketenangan. Bulan yang sangat mulia sebab, di dalamnya ada hari dimana diturunkannya sebuah kitab pedoman hidup manusia sampai nanti menyentuh batas akhir zaman. Maka tak heran, jika datangnya Ramadan ini umat Islam berlomba-lomba untuk menambah kuantitas ibadah di hadapan Allah SWT, salah-satunya dengan memperbanyak baca Al-quran.

Berbicara tentang Ramadan, maka kita tak bisa lepas dari berbagai dalil naqli yang menunjukkan keutamaan bulan Ramadan itu sendiri. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

Selain itu, ada satu hadis yang tentunya sudah tak asing lagi kita dengar, yang menyatakan bahwasanya di bulan Ramadan seluruh pintu surga akan dibuka selebar-lebarnya, sedangkan pintu neraka akan ditutup dan setan-setan semuanya akan dibelenggu. Hadis ini dapat kita temukan di kitab Sunan An-Nasa’i nomor 2106. Meninjau hadis ini, Ramadan adalah kesempatan bagi kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT sebab peluang untuk melaksanakan segala amal ibadah jauh lebih mudah dan lebih ringan.

Tetapi, tak sedikit pula masyarakat yang mempertanyakan isi hadis tersebut, bahwa jika memang benar setan dirantai ketika Ramadan tiba, lantas mengapa masih ada umat muslim yang bermaksiat dan melakukan berbagai tindakan haram? Orang-orang masih sanggup menenggak minuman keras bahkan masih berjudi.

Salah satu kasus tindakan maksiat yang masih hangat, baru-baru ini terjadi di Kota Bekasi. Masyarakat di daerah tersebut tidak mengindahkan aturan pemerintah untuk melaksanakan salat di rumah. Kendati daerah tersebut sudah digolongkan zona merah, mereka tetap bersikukuh untuk berjamaah di Masjid. Melihat kejadian tersebut, salah satu warga mengambil inisiatif untuk melaporkannya kepada pihak yang berwajib demi memutuskan rantai penyebaran virus Corona. Alih-alih mendapat dukungan, rumah warga yang bersangkutan habis dilempari batu oleh massa. Bahkan mereka juga mengeluarkan kata-kata yang tak senonoh untuk diucapkan.

Melihat peristiwa semacam ini, sangat wajar jika masyarakat mempertanyakan kebenaran hadis tersebut. Kendati tingkat kejahatan menurun dari biasanya, kita tetap tidak bisa mengelak jika di bulan Ramadan pun masih ada yang melakukan tindakan kejahatan. Lantas, bagaimana mungkin ketika setan dibelenggu tapi sebagian orang masih bermaksiat?

Untuk menjawab pertanyaan ini, para ahli tafsir dan berbagai ulama banyak memberikan penjelasan. Ada yang mengatakan bahwa hanya setan-setan besar yang dirantai, sedangkan setan-setan kecil tetap dilepas. Ada juga yang mengatakan semua kalangan setan dirantai, efeknya tetap masih dirasakan oleh manusia. Dan berbagai macam jawaban lainnya.

Dalam hal ini, ulama terkemuka Dr. Zakir Naik menanggapi pertanyaan tersebut dengan memberikan analogi agar lebih mudah dipahami. Beliau berkata, “Bayangkan kau hendak pergi ke kebun binatang. Di sana ada harimau yang tengah dirantai di sebuah tiang. Karena harimau itu dirantai walaupun tidak dimasukkan ke dalam kandang, kau pasti akan merasa aman karena rantainya mengikat harimau tersebut. tetapi meski begitu, kau tetap berwaspada. Sebab jika panjang rantainya 4 meter, maka kau harus menjauh lebih dari 4 meter agar harimau itu tidak menerkammu. Jadi yang kau lakukan hanyalah menjauh dari harimau tadi, barulah kau merasa aman.”

Itulah analogi yang disampaikan Dr. Zakir Naik untuk menjelaskan hadis di atas. Ketika redaksi hadisnya mengatakan bahwa setan-setan dirantai, tidaklah serta merta setan itu dibunuh. Jadi, ketika setan-setan itu dirantai, kemudian seseorang menghampirinya hingga begitu dekatnya, bahkan lebih dekat daripada panjang rantainya, maka kemungkinan besar setan akan mempengaruhi orang tersebut. Setan itu akan membisikkan dan merayu korbannya untuk melakukan hal-hal yang haram. Lantas, apa yang memudahkan setan untuk mempengaruhi manusia? Tidak lain dan tidak bukan adalah media-media yang menjurus untuk memungkinkan kita melakukan perbuatan maksiat. Misalnya, gadget, televisi, gambar, dan macam media lainnya.

Maka, sudah seharusnya kita mengambil langkah siaga untuk menjauhkan diri dari berbagai macam media yang membuat setan mampu menjangkau kita untuk terus menggoda. Melalui artikel ini, penulis ingin menyampaikan pesan pada para pembaca sekalian: “Perjalanan hidup manusia tak ubahnya bagaikan roda yang tengah berputar. Tiada terasa debu dan batu mengotorinya di antara belukar. Demikian perjalanan hidup kita yang tak luput dari berbagai kesalahan yang menggumpal sampai membentuk noda. Maka di bulan yang suci dan penuh rahmat ini, mari kita maksimalkan ibadah kita dengan penuh hikmat. Semoga Allah memasukkan kita semua ke dalam Jannah-Nya”.

Editor: Ade Suryanti

https://www.instagram.com/p/B9_alRohm9L/

  • Jurusan : Ilmu AlQur’an & Tafsir
  • Fakultas : Ushuluddin & Studi Islam
  • Semester : VI 
  • No. Hp : 085261236003         
  • Sosmed : @iqbal_muh27

Latest articles

Addin 311: Hikmah, Hadiah Terindah Dari Yang Maha Indah

“Hikmah adalah aset orang mukmin yang tercecer. Di mana pun ia menemukannya maka ialah yang paling berhak memilikinya.” (Hikmah) Dalam hidup sering kali kita bertemu...

Jalur UM-Mandiri 2020, UIN SU: Kuota 1300 Camaba

Medan, Dinamika Online – UIN SU membuka kuota 1300 untuk calon mahasiswa baru (Camaba) tahun akademik 2020/2021. Hal tersebut berdasarkan pernyataan Yunni Salma, S.Ag.,...

Gelar Seminar, Sema FSH: Kita Gali Ilmu Pengetahuan Terhadap Hukum

Medan, Dinamika Online - Senat Mahasiswa (Sema) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) mengadakan seminar daring bertajuk "Menggagas Penegakan Hukum Pidana di Indonesia pada Era...

FEBI Lahirkan Wisudawan Terbaik pada Wisuda ke-73

Medan, Dinamika Online - UIN Sumatera Utara mewisudakan sebanyak 649 wisudawan/ti pada sidang senat terbuka. Wisuda ke-73 yang berlangsung di Aula Utama Kampus II...

5 Tips Berani Bicara, Himatika Adakan Diskusi Online

Medan, Dinamika Online – Himpunan Mahasiswa Matematika (Himatika) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN SU adakan diskusi online dengan mengangkat tema “Berani Bicara, Tunjukkan Kualitas...