BUDAYAKAN JUJUR SESUAIKAN AKHLAK

0

lilin

Oleh: Lilin Karlina

Seiring dengan perkembangan zaman, kemajuan pembangunan di Indonesia dalam segala bidang berkembang pesat pula. Tidak terkecuali pembangunan dalam bidang pendidikan. Hal ini merupakan upaya yang sungguh-sungguh dari rakyat untuk mencapai kehidupan yang dicita-citakan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sedangkan yang dimaksud dengan pendidikan, tercantum dalam pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang berbunyi:

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”.

Amanat UU No 20 Tahun 2003 tersebut sangat jelas bahwa, pendidikan pada hakekatnya adalah mengembangkan potensi diri peserta didik dengan dilandasi oleh kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan. Dengan demikian, pendidikan mempunyai peran yang strategis dalam membangun karakter mahasiswa. Tujuan pendidikan bukan hanya untuk mengembangkan intelegensi akademik mahasiswa, tapi juga membentuk mahasiswa yang berbudaya jujur.

Saat ini yang menjadi fenomena di kalangan mahasiswa yaitu, budaya ketidakjujuran mahasiswa dan akhlak yang tidak sesuai. Pada dasarnya kampus UIN Sumatera Utara berbasiskan keislaman, di dalamnya mengajarkan bagaimana etika atau akhlak yang sesuai dengan ajaran Islam. Namun saat ini, yang kita lihat banyak terjadi pencurian, contoh kecilnya saja sering terjadi kehilangan helm. Yang menjadi salah satu korban yaitu Dendi Siswanto selaku mahasiswa UIN SU fakultas dakwah dan komunikasi tepatnya di bulan september. Yang paling patalnya lagi, mencuri di dalam masjid, yang menjadi pertanyaan, sesuaikah dengan apa yang telah diajarkan islam?. Dalam hal ini tentu menjadi pertanyaan besar bagi semua mahasiswa. Budaya ketidakjujuran kian menggejolak di kalangan mahasiswa. Bahkan akar dari masalah korupsi, kolusi, dan nepotisme di Indonesia adalah murni dari faktor ketidakjujuran pada waktu menjadi mahasiswa. Semangat inovasi dan etos kerja para mahasiswa menunjukkan grafik yang menghawatirkan. Indikatornya sederhana, terdapat beberapa contoh budaya ketidakjujuran mahasiswa.

Pertama, perilaku mencontek, bahkan telah menjadi budaya di kalangan mahasiswa, maka teman yang dicontek tentunya telah “terampas” keadilan dan kemampuannya.

Kedua, fenomena plagiat (penjiplakan karya tulis atau pendapat) yang sudah awam bagi pendidikan di Indonesia. Terungkapnya kasus plagiasi di beberapa perguruan tinggi, menjadi tolak ukur bagi kualitas pendidikan. Tindakan copy paste seakan menjadi ritual wajib dalam memenuhi tugas dari dosen. Bahkan banyak mahasiswa mengerjakan tugas skripsi yang melakukan tindakan plagiat.

Ketiga, titip absensi, absensi yang ditandatangani mahasiswa sering disalahgunakan. Tanda tangan fiktif pun mewarnai absensi, adakalanya jumlah kehadiran mahasiswa tidak sebanding dengan tandatangan yang hadir.

Perilaku mencontek, plagiat dan titip absen merupakan manifestasi ketidakjujuran, yang pada akhirnya memunculkan perilaku korupsi. Kejujuran merupakan sikap yang langka di Indonesia. Banyak orang pintar yang lulus perguruan tinggi, tapi sangat langka orang pintar yang jujur.

Persoalan ketidakjujuran, merupakan hal yang mengkhawatirkan dan perlu perhatian serius. Sebab, bagaimana mungkin Institusi pendidikan, justru menjadi sarang korupsi. Ini jelas berbanding terbalik dengan hakekat pendidikan dan akhlak yang benar, yakni ingin menciptakan manusia yang berilmu dan bermoral. Dan apabila budaya ketidakjujuran mahasiswa seperti mencontek, plagiat, titip absen, tidak segera diberantas, maka perguruan tinggi akan menjadi bagian dari “pembibitan” moral yang ketidakjujuran di Indonesia.

Untuk dapat berperan secara optimal dalam pemberantasan ketidakjujuran, maka harus dilakukan pembenahan terhadap mahasiswa dan kampusnya. Dengan kata lain, mahasiswa harus mendemonstrasikan bahwa diri dan kampusnya harus bersih dan selalu bersikap jujur. Selanjutnya, adalah pada proses perkuliahan. Dalam masa ini, perlu penekanan terhadap moralitas mahasiswa dalam berkompetisi untuk memperoleh nilai tinggi, tanpa melalui cara-cara yang curang begitu juga dosen dalam memberikan nilai. Karena realitasnya banyak penilaian dosen yang belum sesuai, misalnya mahasiswa yang tidak aktif justru lebih unggul, dari mahasiswa yang aktif. Pada hakikatnya, bukan hanya mahasiswa saja yang tidak membudayakan kejujuran, tapi di kalangan dosen juga banyak yang tidak membudayakannya. Akibatnya, mahasiswa merasa miris, iri hati, serta menurunkan semangatnya untuk belajar. Dan upaya untuk menumbuhkan budaya jujur mahasiswa, dapat dilakukan melalui: Pendidikan Integritas dan Pendidikan Karakter.

Pendidikan Integritas

Integritas menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia yang luhur dan berbudi. Integritas bertalian dengan moral yang bersih, kejujuran serta ketulusan terhadap sesama dan Tuhan Yang Maha Esa. Integritas berlaku pada semua bidang kehidupan, misalnya bidang hukum, sosial, politik, ekonomi, dan lain sebagainya.

Pendidikan integritas adalah pendidikan yang mengedepankan pembangunan karakter. Pendidikan seperti ini tidak hanya mengandalkan teori, tapi pendidikan yang efektif sehingga mahasiswa bisa mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

pendidikan Integritas dapat dilaksanakan dengan cara :

1. Memasukkan pendidikan integritas di institusi perguruan tinggi dan diharapkan pelajaran integritas ini bisa diterapkan sehingga dapat mewujudkan efektifitas yang tinggi. Pendidikan integritas ini merupakan salah satu upaya mencetak mahasiswa yang bermoral.

2. Dengan cara menguji pengetahuan, sikap, dan tindakan para mahasiswa terkait dengan sejumlah masalah-masalah kejahatan.

Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter mengajarkan kebiasaan cara berpikir dan perilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerja bersama sebagai keluarga, masyarakat, dan bernegara dan membantu mereka untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Ada beberapa jenis karakter yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Bentuk karakter yang membuat seseorang selalu menghargai dan menghormati orang lain.

2. Bentuk karakter yang membuat seseorang sadar hukum dan peraturan serta peduli terhadap lingkungan alam.

3. Bentuk karakter yang membuat seseorang bertanggung jawab, disiplin, dan selalu melakukan sesuatu dengan sebaik mungkin.

 

Editor: Fitri Anggraini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.