Birrul Walidain Wal Ihsan Ilaihima

0
Ilustrasi: Kompasiana.com

Oleh: Iin Prasetyo

Rasulullah SAW, telah memberikan arahan kepada umatnya untuk berbakti kepada kedua orang tuanya (birrul walidain wal ihsan ilaihima). Sesungguhnya orang tua sangat memperhatikan dan menyayangi anaknya sehingga betapa menyenangkan menjadi anak. Tidakkah seorang anak mesti bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada orang tuanya, terutama ibu yang telah mengandung, melahirkan, menyusui, menjaga tumbuh kembang, mendidik sampai mendewasakannya? Allah telah memerintahkan manusia untuk berbudi kepada kedua orang tua. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada orang tuamu. Hanya kepada-Ku kembalimu.” (QS. Luqman:14).

Dari hadis riwayat Muslim, Abu Hurairah Ra meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki datang menemui Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, lalu bertanya, “Siapakah manusia yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Rasul menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Lalu, siapa?” Rasul menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Lalu, siapa?” Rasul menjawab, “Ibumu.” Orang itu masih bertanya lagi, “Lalu, siapa lagi?” Rasul menjawab, “Kemudian, ayahmu.”

Tak sampai hadis di atas saja, melihat betapa istimewanya keberadaan orang tua terutama ibu, Rasul juga telah mewanti-wanti umatnya untuk tidak mendurhakai ibu. Rasullah bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan kepada kalian durhaka kepada ibu-ibu kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tak menyempitkan makna, bahwa memperlakukan ibu dan ayah dengan baik dan benar adalah kewajiban agama dan tuntutan moral, sekalipun keduanya berbeda keyakinan (agama). Batas berbudinya anak kepada orang tuanya terletak pada perintah Allah, yakni tidak menaati keduanya jika memaksa untuk mempersekutukan-Nya. “Dan jika keduanya memaksamu mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian, hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 15).

Kedudukan kewajiban berbuat baik kepada orang tua itu sangat tinggi, yakni setelah kewajiban bertauhid dan beribadah hanya kepada Allah. Firman Allah dalam QS. An Nisa’: 36 “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan, berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”

Rasul pernah menyuruh seseorang pulang dan mengurungkan niatnya untuk hijrah dan berjihad di jalan Allah. Sebabnya, seseorang tersebut memiliki orang tua yang sudah uzur dan perlu ditemani serta dirawat dengan baik. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash Ra menceritakan, “Ada seseorang menghadap Nabi, lalu berkata, ‘Aku membaiatmu untuk pergi hijrah dan berjihad, semata-mata karena mencari pahala dari Allah.’ Nabi lalu bertanya, ‘Adakah salah satu dari kedua orang tuamu yang masih hidup?’ Orang itu menjawab, ‘Ada, bahkan keduanya masih hidup.’ Nabi lalu bertanya, ‘Apakah kau mengharapkan pahala dari Allah?’ Orang itu menjawab, ‘Benar’ Nabi lalu berkata, ‘Pulanglah, lalu perlakukanlah kedua orang tuamu dengan baik.”

Dari hadis tersebut, menemani, merawat, dan berbuat baik kepada orang tua yang masih hidup juga termasuk jihad. Maka itu, meninggalkan mereka sendiri dan dalam keadaan yang mengkhawatirkan, anak bisa dikatakan tidak berbuat baik kepada orang tua. Kecuali, ada orang lain misalnya pembantu yang menemaninya dan orang tua pun mengizinkan anak pergi untuk bekerja mencari nafkah yang juga untuk orang tuanya maka tidak ada masalah.

Bakti anak tidak hanya dilakukan saat orang tua masih hidup. Setelah meninggal pun anak harus tetap berbuat baik kepada mereka. Mengenai hal ini, ada empat solusi dari Nabi menurut hadis riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad di antaranya, menyalati keduanya, memohonkan ampun untuk keduanya, melaksanakan janji dan menghormati teman keduanya, dan bersilaturahmi yang anak tidak ada hubungan dengannya kecuali (hubungan) dari pihak keduanya.

Berbakti kepada orang tua adalah investasi kebaikan untuk masa depan, seperti ungkapan siapa menanam dialah menuainya, kelak seorang anak juga akan menjadi orang tua yang akan merasakan bagaimana baktinya hari ini kepada orang tuanya. Ibnu ‘Umar ra meriwayatkan bahwa Rasul bersabda, “Berbaktilah kepada orang tua kalian, niscaya anak-anak kalian kelak berbakti kepada kalian.” (HR. Al Hakim).

Editor: Rindiani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.