Belajar Filsafat dengan Bijaksana

0
cover buku Sophie’s World. (foto/amazon.com)
  • Judul asli : Sophie’s World
  • Judul terjemahan : Dunia Sophie
  • Penulis :  Jostein Gaarder
  • Penerbit : PT Mizan Pustaka, Bandung
  • Cetakan : Cetakan XI, Juli 2019
  • Tebal : 800 Halaman
  • ISBN : 978-602-441-020-9

Penulis: Karmila Sinaga

Dalam benak banyak orang, filsafat adalah ilmu yang mengawang-ngawang. Mengawang bisa berarti terlalu tinggi dan rumit, hingga tak mudah dicerna oleh kebanyakan orang. Lebih buruk lagi, dalam situasi penuh antusiasme keagamaan yang meledak-ledak, filsafat biasanya bahkan dilihat sebagai kebebasan nalar yang liar dan ‘arogan’, semacam yang mengarah pada kemurtadan, atau bahkan sejenis gejala kegilaan. Novel filosofis “Dunia Sophie” adalah sebuah pengantar untuk memasuki khazanah filsafat.

Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya.”  – GOETHE

Sophie Amundsend adalah seorang gadis 14 tahun yang serba ingin tahu. Ia sangat suka memelihara binatang dan memikirkan hal-hal mendasar yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan, seperti mampu melompat ringan melintasi kerikil, bisa berkelana ke sana kemari hingga mulai memikirkan bahwa ia tidak akan hidup selamanya. Keadaan seperti itu dimulai saat ditemukannya secarik surat di kotak surat di halaman rumahnya, bukan hanya sekali tetapi berkali-kali ia menemukan surat misterius yang berisikan “Pelajaran Filsafat.”

Baca juga: Split : Manusia dengan 24 Kepribadian

Banyak orang yang senang membaca. Namun selera membaca itu berbeda-beda. Sebagian orang hanya membaca koran atau komik, sebagian senang membaca novel, sebagian lebih menyukai tentang astronomi, atau penemuan-penemuan teknologi. Jika kebetulan tertarik pada kuda atau batu mulia, kita tidak bisa memaksa orang lain untuk ikut menyukai kesenangan itu. Tidak ada sesuatu yang memikat hati kita semua, tidak ada yang menyangkut kepentingan semua orang.

Apakah hal terpenting dalam kehidupan? Jika bertanya kepada seseorang yang sedang kelaparan, jawabannya adalah makanan. Jika kita bertanya kepada orang yang sedang kedinginan, jawabannya adalah kehangatan. Jika mengajukan pertanyaan kepada orang yang kesepian dan terasing, jawabannya barangkali adalah ditemani orang lain.

Jika kebutuhan-kebutuhan dasar telah terpuaskan, masih ada sesuatu yang dibutuhkan semua orang. Filsuf yakin manusia tidak dapat hidup dengan roti semata. Setiap orang pasti membutuhkan makanan. Dan, membutuhkan cinta dan perhatian. Namun, ada sesuatu yang lain lepas dari semua itu yang dibutuhkan setiap orang, yaitu mengetahui siapakah kita dan mengapa kita ada di sini. isi dari halaman pertama amplop besar yang ditemukannya di pintu gerbang belakang.

Baca juga: Belajar Menjadi Wartawan Investigasi

Melalui surat filsafat misterius yang diterima, dengan sedikit keraguan sumber dari segala sesuatu itu sesungguhnya tanah, udara, api, dan air. Pada prinsipnya, Empedocles benar satu-satunya cara menerima perubahan-perubahan yang dapat kita lihat dengan mata telanjang tanpa kehilangan akal sehat adalah mengakui adanya lebih dari satu bahan dasar. Filsafat bukanlah sesuatu yang dapat kita pelajari namun, barangkali belajar untuk berpikir secara filosofis.

Orang yang paling bijaksana adalah orang yang mengetahui bahwa dia tidak tahu,” Socrates.

Terhanyut dalam filsafat membuat pola pikir seseorang berubah, di dalam buku jelas terlihat karakter Sophie berubah sejak menjadi pembaca setia surat misterius filsafat tersebut.

Menyajikan filsafat dalam bentuk novel adalah suatu hal yang unik. Dengan cara ini, filsafat yang terkesan sulit dan berat untuk dipelajari dapat disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna. Filsafat yang terkandung dalam novel ini terasa menyimpan bias Barat yang cukup kental.

Baca juga: Menyegerakan Menikah Itu Lebih Baik

Menariknya, novel “Dunia Sophie” yang menceritakan filsafat memiliki padat makna dalam setiap kalimat yang dituangkannya. Pembaca dibawa ikut ke dalam arus dunia filsafat. Disamping itu, novel ini sangat cocok untuk orang-orang yang ingin belajar lebih dalam filsafat. Kemudian, berbagai pemikiran para filsuf seperti Socrates, Athena, Plato, Aristoteles, dan yang lainnya, ikut menjadi tolok ukur bertambahnya pengetahuan seseorang ketika membacanya. Banyaknya suguhan yang diberikan membuat pembaca sulit menemukan kelemahan dari novel ini.

Editor: Ayu Wulandari Hasibuan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.