Tugas Berat Sebagai Anak Pertama

Cover Buku. (Foto/Balai buku Progresif)

 

  • Judul Buku : Padang Bulan
  • Penulis : Andrea Hirata
  • Penerbit : PT. Bentang Pustaka
  • Tahun Terbit : 2011
  • Tebal : 260 halaman

Peresensi: Putri Chairunnisa

Padang Bulan adalah novel pertama dwilogi Padang Bulan yang mengisahkan tentang Enong, gadis kecil yang harus mengemban tugas yang berat sebagai anak pertama setelah kehilangan sosok ayahnya. Enong harus putus sekolah demi menyekolahkan adik-adiknya dan menyambung kehidupan keluarganya. Ia bekerja sebagai pendulang timah.

Semua berawal di hari Syalimah menerima kejutan berupa sepeda dari suaminya Zamzami. Hari itu menjadi hari bahagia bagi Syalimah. Syalimah senang karena Zamzami masih ingat dengan permintaannya empat tahun yang lalu itu. Zamzami berjanji akan mengajak istri dan anak-anaknya untuk jalan-jalan menggunakan sepeda baru itu sepulang ia bekerja, namun nasib berkata lain, umur Zamzami tidak panjang, saat bekerja ia tertimbun tanah longsor dan meninggal dunia.

Setelah kepergian Ayahnya, Enong anak pertama mereka terpaksa harus berhenti bersekolah untuk mengantikan posisi ayahnya demi menyambung hidup keluarganya. Enong pergi ke Tanjong Pandan untuk mengadu nasib. Namun malang, karena masih terlalu kecil, tidak ada yang mau menerimanya bekerja. Ia pun kembali ke kampung halamannya.

Kembali ke kampung halaman bukan berarti putus asa, Enong terus berusaha mencari-cari pekerjaan sampai akhrnya mendulang timah menjadi solusi atas persoalan terberatnya. Menjadi pendulang timah dan putus sekolah bukan berarti Enong juga memutus kecintaannya terhadap bahasa inggris. Kamus Bahasa Inggris Satu Milyar Kata peninggalan dari Ayahnya selalu memotivasinya di kala sulit.

Di sisi lain ada Ikal, pemuda yang sangat mencintai gadis keturunan Tionghoa bernama A Ling. Berbagai upaya dilakukannya untuk bersama A Ling, temasuk bermusuhan dengan Ayahnya sendiri. Hal yang tidak pernah diajarkan padanya.

Suatu hari Ikal mendapat kabar dari temannya yang merupakan seorang detektif swasta bernama M. Nur bahwa sang pujaan hati  akan segera menikah dengan pemuda tampan bernama Zinar. Ikal menjadi gundah gulana. Ia sampai rela membatalkan rencanya merantau ke ibu kota hanya untuk bertanding main catur melawan Zinar demi mendapatkan A Ling kembali.

17 Agustus tiba, setelah berhari-hari belajar bermain catur dibantu oleh detektif M. Nur dan Nochka teman kuliahnya dulu yang merupakan seorang Grandmaster catur Internasional, Ikal siap bertanding melawan Zinar.

Namun semua taktik yang dipelajarinya dari Nochka tidak mampu membuatnya memenangkan pertandingan. Tidak patah semangat, Ikal melawan Zinar pada bidang perlombaan lainnya tapi tetap saja hasilnya nihil, Zinar memenangkan pertandingan-pertandingan itu.

Ikal memang hampir putus asa, tapi ia memiliki rencana terakhir setelah teringat akan katalog-katalog yang dikumpulkan Enong. Ada satu katalog yang membuat hatinya berdesir, Ortoceria! Alat peninggi badan yang katanya mampu meninggikan badan dalam satu bulan. Tapi bukannya meninggikan badan, Ortoceria! Malah membuatnya seperti sedang melakukan bunuh diri.

Enong yang merasa kasihan mengenalkan Ikal dengan Bu Indri, pemilik kursus bahasa inggris tempat ia belajar, tapi tetap saja Ikal menolak karena A Ling masih tak mampu membuatnya berpaling.

Pada akhirnya Ikal memutuskan untuk memulai kehidupan baru di Ibu kota dengan dibekali rasa cemburu dan rindu. Sebelum kepergiannya siapa sangka A Ling datang menemuinya dan menjelaskan tentang hubungannya dengan Zinar. Ternyata itu semua hanya kesalahpahaman yang disampaikan oleh detektif M. Nur. Zinar merupakan sanak saudara A Ling. Tak hanya itu A Ling juga membawan undangan perkawinan Zinar untuk Ikal dan Ayahnya.

Esoknya Ikal menghadiri perkawinan Zinar dengan Detektif M.Nur, Ayahnya juga turut hadir dengan baju terbaiknya. Acara perkawinan Zinar berlangsung menarik karena bergaya tradisional Tionghoa. Ikal menyempatkan diri untuk menghampiri A Ling dan memberinya sebuah puisi. Dulu waktu masih SD Ikal pernah menulis puisi untuk A Ling, tapi terlalu malu untuk memberikan padanya.

Saat sedang menikmati rangkaian acara, dari sudut sana Ikal melihat Ayahnya yang sedang memperhatikannya dengan A Ling sambil tersenyum. Saat itu Ikal tau pertikaiannya dengan sang Ayah telah berakhir dengan damai.

“Seperti impian diam-diam selalu, hujan pertama jatuh tepat pada 23 Oktober sore, pada hari kudapatkan lagi A Ling dan Ayahku. Hujan membasahiku. Kurentangkan kedua tangan lebar-lebar. Aku mengadah  dan kepada langit kukatakan: Ini aku! Putra Ayahku! Berikan aku sesuatu yang besar untuk kutaklukkan! Beri aku mimpi-mimpi yang tak mungkin karena aku belum menyerah! Takkan pernah menyerah. Takkan pernah!” (hlm. 300)

Editor: Iin Prasetyo

Latest articles

Jalur UM-Mandiri 2020, UIN SU: Kuota 1300 Camaba

Medan, Dinamika Online – UIN SU membuka kuota 1300 untuk calon mahasiswa baru (Camaba) tahun akademik 2020/2021. Hal tersebut berdasarkan pernyataan Yunni Salma, S.Ag.,...

Gelar Seminar, Sema FSH: Kita Gali Ilmu Pengetahuan Terhadap Hukum

Medan, Dinamika Online - Senat Mahasiswa (Sema) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) mengadakan seminar daring bertajuk "Menggagas Penegakan Hukum Pidana di Indonesia pada Era...

FEBI Lahirkan Wisudawan Terbaik pada Wisuda ke-73

Medan, Dinamika Online - UIN Sumatera Utara mewisudakan sebanyak 649 wisudawan/ti pada sidang senat terbuka. Wisuda ke-73 yang berlangsung di Aula Utama Kampus II...

5 Tips Berani Bicara, Himatika Adakan Diskusi Online

Medan, Dinamika Online – Himpunan Mahasiswa Matematika (Himatika) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN SU adakan diskusi online dengan mengangkat tema “Berani Bicara, Tunjukkan Kualitas...

UIN SU Wisudakan 649 Mahasiswa

Medan, Dinamika Online - UIN SU mewisudakan sebanyak 649 mahasiswa pada sidang senat terbuka Wisuda ke-73. Prosesi ini berlangsung di Aula Utama Kampus II...