Tobat

0
Ilustrasi Taubat. (foto/ilustrasi/flickr/Rafiq Ruzmilan)

Penulis: Jihan Fikriyah

Namaku adalah Rasimin, seorang siswa kelas 12 SMA. Beberapa minggu yang lalu, aku menyaksikan kedua teman karibku mengalami kecelakaan dan hal itu membuatku dihantui oleh perasaan gelisah setiap saat.

Saat itu, kami dalam perjalan menuju lapangan futsal di pusat Kota Medan dengan mengendarai sepeda motor. Aku mengendarai motorku sendiri sementara kedua sahabatku berboncengan tepat di depan motorku. Cuaca pada hari itu cukup mendukung kami untuk cepat sampai tujuan.

Tetapi takdir berkehendak lain, saat di perjalanan, tiba-tiba saja sepeda motor di belakangku dengan ganas menyalip dan menghantam bagian kanan sepeda motor temanku sehingga membuat mereka terpental dari sepeda motornya dan mencium aspal jalan. Randi, satu dari dua temanku tadi terpental dari sepeda motornya lalu terjatuh ke tengah jalan kemudian dalam waktu bersamaan mobil dari belakang melaju dengan kencang kembali menabrak tubuhnya, darah segar keluar dari tubuh Randi membasahi jalan di lokasi tersebut, sedangkan Diki terpental tidak terlalu keras dari motornya dan menyisakan luka di sekitar tangan dan kakinya.

Baca juga: Kita Berbeda

Aku yang menyaksikan kejadian tersebut dengan mata kepalaku sendiri hanya terdiam atas apa yang terjadi kepada teman-temanku.

Setelah kejadian itulah, aku terus merasa dihantui perasaan takut dan gelisah yang amat luar biasa.

“Arghh… kenapa ini terjadi kepadaku,” teriakku sekuat tenaga di dalam kamar. Aku ingin perasaan ini hilang dalam ingatanku.

Tok…tok…. Tok….

“Kamu baik-baik saja min?” tanya ayah.

“I.. iyaa…ayah, aku baik-baik saja,” jawabku dengan nada sedikit tersedu-sedu.

“Ayah boleh masuk? Ayah ingin berbicara dengamu?” tanya ayah dengan rasa penasaran karena melihatku seperti sedang sedih.

Baca juga: Sebatas Sahabat, Tak Akan Lewat

“Ya,” jawabku singkat, kemudian ayah masuk dan menghampiriku.

“Ada apa denganmu nak? Sudah beberapa minggu ini, ayah sering melihat kamu mengurung diri di dalam kamar? Coba ceritakan masalahmu dengan ayah,” tanya ayah dengan suara lembutnya.

Aku menggeleng dengan wajah tertunduk.

“Apa ini ada kaitannya dengan Randi?” ayah bertanya seperti mengetahui permasalahanku.

Kemudian aku hanya mengangguk saja karena ayah pasti sudah mengetahui permasalahan yang aku alami.

“Min, yang namanya maut itu kapan saja bisa terjadi, bisa saja ketika kita sedang tertidur, kita sedang bekerja, lagi bermain dalam setiap aktifitas kita, kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil oleh Allah min. Maka dari itu tinggal bagaimana caranya kita untuk mengakhiri hidup dengan perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk. Seperti di dalam QS An-nisa ayat 78, yang artinya “Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” Min, yang namanya kematian itu akan menghampiri kita, siap tidak siap kematian itu pasti akan datang kepada kita min,” jelas ayah dengan mantap dan nada yang lembut.

Baca juga: Dilema

Aku kembali menganggukkan kepala mendengarkan saran dan nasihat ayahku.

“Kamu harusnya bersyukur Min, Allah masih memberikanmu kesempatan hidup untuk terus kembali memperbaiki diri atas kesalahan-kesalahanmu, jadikan kejadian yang menimpamu ini sebagai pelajaran agar kamu menjadi manusia yang lebih baik lagi. Coba bayangkan kamu yang berada di posisi Randi sedangkan amalan ibadah kita masih sedikit bahkan kita belum sempat bertobat atas kesalahan kita?” kata-kata ayah kali ini seakan menusukku, tapi aku mengerti dari perkataannya tersebut.

“Ya, ayah benar, aku harus mengambil pelajaran dari kejadian ini,” ujarku.

“Benar Min, kamu sudah besar nak, kamu bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, ayah hanya bisa memberimu nasihat baik dan yang menentukannya adalah dirimu sendiri.”

Baca juga: Suka Menunda, Ku Ditinggal Mereka dan Dia

Aku mengangguk tanda mempercayai ucapannya.

“Perbaikilah dirimu dari sekarang Min untuk menjadi lebih baik, ingat di QS Az-Zumar ayat 55 Allah berfirman yang artinya “Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.” Jadi, jangan sampai azab dulu menimpa kita baru kita bertobat,” perkataan ayah kembali menusukku seakan menyindir perbuatanku yang selama ini jauh dari Allah.

Aku mengangguk kembali sambil mengeluarkan air mata, betapa bodohnya aku selama ini yang menyia-nyiakan waktu hanya untuk kegiatan yang tidak ada manfaatnya.

“Terima kasih ayah atas saran-saran dan nasihatnya, doakan aku menjadi anak yang saleh.” Ujarku dengan nada tersedu-sedu menitikan air mata sambil memeluk tubuh ayah dengan erat.

Editor : Yaumi Sa’idah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.