Kisah Pejuang Pers di Masa Orde Baru

- Advertisement -

(Foto/Kirenuku)

  • Judul Buku : Pers di Masa Orde Baru
  • Pengarang : David T.Hill 
  • Kota Terbit : Jakarta 
  • Tahun Terbit : 2011 
  • Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
  • Tebal Buku : 230 Halaman 
  • ISBN : 978-979-461=786-1

Peresensi : Devi Junita Sari

Kemerdekaan Pers merupakan salah satu wujud kedaulatan rakyat dan menjadi unsur yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang demokratis. Kemerdekaan Pers juga berperan dalam mewujudkan kemerdekaan mengeluarkan pikiran dan pendapat sebagimana tercantum dalam pasal 28 UUD 1945. Di dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang pers disebutkan ada beberapa mengenai fungsi pers kita ketahui, yaitu sebagai mencari informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.

Ringkasan BAB I: Pra Orde Baru       

- Advertisement -

Semenjak abad ini berganti, Pers Indonesia telah berfungsi sebagai sarana mengungkapkan aspirasi kebangsaan maupun ajang agitasi politik. Surat kabar modern pertama di Indonesia yang saat ini bernama “Hindia Belanda” terbit pada tahun 1745 dengan nama Bataviasche Nouvellsen Politique Raisonnementes. Koran ini lahir 136 tahun setelah surat kabar mingguan tertua di dunia Avisa Relation Oder Zaitung terbit di Strassbourg pada tahun 1906. 

Dengan berbahasa Belanda, kemudian bahasa Jawa sampai awal beralih ke bahasa Indonesia meskipun beberapa tetap didanai oleh Belanda. Yang pertama memakai bahasa non-Belanda adalah Bromartani, harian berbahasa Jawa yang terbit di Solo pada tahun 1855 dan dicetak dalam huruf jawa (hanacaraka). Kemudian, masuknya jepang pada tahun 1942-1945 dan menduduki Hindia Belanda. Semasa di Indonesia jepang membawa serta aturan cetaknya untuk diberlakukan di sini. Sekalian demikian, justru Jepanglah yang membuka para pekerja industri pers mengasah dan melatih keterampilan. Pada masa tersebut banyak surat kabar mengalami “Indonesianisasi’ pada kursi-kursi staf redaksi senior, jurnalis-jurnalis Indonesia kemudian mengisi posisi yang ditinggal orang-orang Belanda pulang kampung. Ketika itu, tak banyak yang mampu menguasai bahasa Jepang dalam waktu singkat. Alhasil, Bahasa Indonesia  mengambil peran bahasa Belanda sebagai sarana komonikasi pada sektor-sektor birokrasi dan pers.

Ringkasan BAB II dan VI

Mengamati Orde Baru. Begitulah tepatnya gambaran kebebasan pers di masa Orde Baru, sekalipun Menteri Penerangan yang juga salah satu perwira inteligen terlihat di Indonesia sudah memberikan kata-kata sejuknya. Bab berikut ini menelaah kejadian penting yang menggambarkan tangan besi dalam mengendalikan dan memahami pelajaran terhadap pers di masa Orde Baru. Tahun 1965 adalah kala terburuk di sepanjang sejarah pers sepanjang Indonesia Indonesia merdeka. Pada bulan Febuari dan Maret tahun itu, 29 koran dilarang terbit karena mendukung kubu anti komunis yang ironisnya bernama Badan Pendukung Soekarno (BPS). Sementara itu, 46 dari 163 surat kabar ditutup tanpa alasan jelas dalam serangan balasan pasca kekacauan politik tanggal 1 Oktober 1965.   

Menyongsong Masa Depan 

Kebijakan dan aturan pemerintah tak henti-hentinya menggarisbawahi peran pers sebagai penjaga Pancasila dan UU Dasar 1945. Pers dipandang bertanggung jawab mendorong penghayatan dan pengalaman dalam masyarakat. Mereka yang berada dalam industri pers terus-menerus diimbau pemerintah untuk secara pribadi dan bersama dan mengabdi demi pembangunan nasional. Sejak tahun 1967, omong-omong kosong itu tak banyak berubah.  Salah satu perubahan adalah pusat kekuasaan perlahan-lahan bergeser dari dalam lingkaran pemerintahan menuju kepentingan-kepentingan ekonomi yang ada di luar. Secara umum, ini terjadi karena kekuatan yang semula ada dikalangan tangan militer dan birokrat. Dari luar, kalangan penguasa menuntut kebebasan investasi dalam sektor media cetak serta keleluasan menentukan sendiri produk pers untuk dijual ke pasar yang serba dinamis tanpa harus terbelenggu batasan dan aturan pemerintah. Desakan-desakan aturan untuk merombak peraturan atas media cetak mengantarkan bab ini menuju pembahasannya yang mungkin terjadi dalam industi Pers Indonesia di masa mendatang. Bab ini juga memuat sederetan catatan tentang perubahan menjadi menandai sejumlah pergeseran yang terjadi dalam kondisi masyarakat dan politik Indonesia secara umum

Kekurangan pada buku David T.Hill yang berjudul Pers di Masa Orde Baru ini terletak di tampilan depan (cover) kurang menarik, karena pada cover ini diberi gambar sosok pers di masa kemerdekaan, warna pada cover lumayan bagus menambah seseorang untuk membacanya. Bahasa yang digunakan dalam buku ini menggunakan Bahasa yang ringan, walaupun ada yang sukar untuk dipahami, ukuran tulisan yang digunakan sudah tepat dan dibaca jelas oleh pembacanya. Selamat Membaca!!!

Editor : Nurul Liza Nasution

Share article

Latest articles