Berharap Bersinar di Atas Atap

(Foto/Dok. Fardelyn Hacky)

  • Judul : Antologi Cerpen Rumah Matahari Terbit
  • Penulis : FLP Aceh
  • Penerbit : Kamoe Publishing
  • Tahun Terbit : 2009
  • Tebal Buku : 134 Halaman
  • ISBN  : 978-979-199320-3

“Aceh Ka Damai Da, Seunang that hate long” (Rosmawati) (Halaman 39)

Rumah bukan saja sebuah bangunan yang bisa melindungi kita dari hujan, panas atau ancaman-ancaman di luar sana. Namun, secara psikologis rumah merupakan tempat berlindung dengan nyaman, damai, tentram dari semua hal yang dapat mengganggu fisikis baik secara langsung dan tidak langsung. Mungkin suatu ketika kita merasa bosan di rumah atau sebaliknya merasa nyaman bila ada di rumah terlebih lagi adalah rumah kita sendiri.

Terkadang ada banyak kejadian-kejadian yang dapat membuat kita bahagia bila ada di rumah tapi tidak menutup kemungkinan rumah juga bisa menjadikan kita tidak betah bahkan merasakan ingin pergi saja dari rumah. Yang padahal rumah merupakan tempat pertama kali kita ada dan bisa melihat dunia untuk pertama kalinya.

Allah memberikan tempat berlindung dengan caranya dan apapun kejadian yang ada di dalam rumah itu juga merupakan kehendak Allah. Yang utama adalah kita sebagai makhluk Allah atau hamba Allah tentulah harus terus bersyukur atas apa yang diberikan oleh-Nya meskipun Allah memberikan cobaan yang bahkan kita menilai Allah terlalu kejam. Namun, dari semua kejadian itu Allah senantiasa memberikan hidayahnya kepada kita.

Buku yang dibuat oleh beberapa Sastrawan Aceh ini membuat kita tentunya menjadi berpikir panjang bahkan memberikan pelajaran yang sangat berguna untuk kita. Bagaimana tidak, begitu banyak kisah yang mereka gambarkan di dalam buku ini yang pasti akan membuat kita sangat malu dengan apa yang kita miliki sekarang. Namun, tidak memanfaatkannya dengan baik.

Salah satu kisah yang dapat saya gambarkan ialah suatu kisah yang berjudul ‘Safrida Askariyah’. Kisah ini menceritakan seorang gadis cantik yang menginginkan ketenangan di rumahnya sendiri. Namun, secara paksa dan tidak bersalah ketenangan di rumahnya direnggut paksa oleh orang-orang tidak bertanggung jawab.

“Safrida naik gunung, bergabung dengan pasukan Inong Balee. Mendapat latihan militer yang dilatih mualim. Ternyata banyak dara seperti Safrida yang bergabung. Nama pasukan itu diubah. Tak lagi Inong Balee tetapi Askariyah” (Halaman 37).

Buku yang memiliki anak judul “Pembunuh Berinisial T” seolah membuat pembaca penasaran apa yang dimaksud dengan inisial T itu. Sudah pasti buku ini akan sangat bermanfaat bagi kita agar ke depan kita lebih bersyukur lagi. Buku ini juga tidak terlalu berat dan sangat mudah untuk dibawa ke mana-mana, isinya juga sangat mudah dipahami bagi pembaca

Editor: Khairatun Hisan

Latest articles

JUMANTARA 2020 UKPM Teknokra Resmi Dibuka

Medan, Dinamika online – UKPM Teknokra kembali merealisasikan JUMANTARA  (Jurnalis Mahasiswa Nusantara) 2020. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari kedepan dan resmi dibuka oleh...

UKMI Al-Falak Helat Keputrian Akbar Kesetaraan dan Keadilan Muslimah

Medan, Dinamika Online – Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) Al-falak Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara (USU) adakan keputrian akbar daring...

Pandemi dan Kesehatan Mental

Penulis: Khairatun Hisan Tidak terasa, sudah 7 bulan Covid-19 singgah ke negara kita, dan membuat seluruh peserta didik bahkan para pekerja harus melakukan kewajibannya dari...

Pemilihan Pengurus Baru, PEMAPASID Adakan Musyawarah Besar

Medan, Dinamika Online – PEMAPASID (Persatuan Mahasiswa Kota Padang Sidempuan) telah mengadakan musyawarah besar dengan tema "Menciptakan Generasi Kader Pemapasid yang Memiliki Nilai Ukhuwah...

Cara Jitu Bangun Pagi

Penulis : Nurur Ramadhan Nasution Mayoritas orang memiliki harapan untuk bangun pada pagi hari, mulai dari kalangan pelajar yang masih duduk di bangku sekolah, mahasiswa,...