Foto : www.google.com

Penulis : Maya Riski

Hari ini Melati terlihat amat bahagia, dia berlari kesana-sini tak bisa dibilangi, matanya liar memandang kebelakang tanpa tahu apa yang akan dihadapi kakinya di depan, dubrakkk…

“Aduh, suara apa itu?” Tanya ibu spontan sambil mencari sumber suara bersama tante Dinda.

“Ya Allah sayang, kamu kok di situ, sini ibu bantu.” Ibu tertawa melihat wajah Melati yang merah padam menahan tangis yang hampir tumpah.

Hanya hitungan menit wajah penuh tawa jenaka ibu padam seketika, membuat Melati berhenti menunduk dan mendongak menatap wajah ibu yang pias merah padam mengalahkan wajahnya dan mengikuti tumpuan mata ibu sekarang.

***

Ibu sibuk menjemur satu persatu pakaian yang harusnya dari dua hari lalu sudah kering, aku cukup maklum, belakangan ini ibu sibuk mengurus toko rotinya di seberang jalan karena kami hanya memiliki satu pekerja, Tante Ira aku biasa memanggilnya, gadis cantik berusia 23 tahun yang sekarang tinggal bersama kami. Kami hidup tak berkekurangan meski ibu hanya bekerja seorang diri untuk menopang hidup kami, aku masih bisa menyicipi baju baru sebulan sekali, walaupun tanpa dia yang mungkin tak akan peduli bahkan jika aku tak memiliki sepotong baju pun yang tersisa untuk kukenakan hari ini.

Mataku panas jika mengingat dia, sosok bodoh, pikun, dan bau itu muncul di hadapanku, perutku terasa melilit dan ingin rasanya menumpahkan seluruh sumpah serapah yang merampas masa itu, masa di mana aku bisa menikmati makan dengan empat kursi yang keempat-empatnya terisi, ditemani canda gurau dan beberapa potongan buah yang selalu kurindukan.

***

Ibu merapikan tanaman yang beberapa hari ini mungkin sudah terlihat layu, namun ibu tak ada waktu untuk barangkali melihat tanaman itu sampai beberapa mawar sekarat dan tiga di antaranya mati mengenaskan, kering, kurang gizi tampaknya, padahal itu tanaman kesayangan ibu.

Ibu tak kalah layu jika disandingkan dengan mawar merah yang ada di genggaman tangan ibu. Aku sedikit berlari mendekati ibu untuk menepis tangan ibu yang mulai mengeluarkan darah. “Astaga ibu, ibu kenapa? Lihat tangan ibu?” Sergahku sedikit panik membersihkan tangannya. Ibu sedikit pun tak terkejut dengan kehadiranku yang mendadak, tak sedikitpun. Dia menatap lurus ke depan bahkan ketika aku memapahnya untuk duduk ke kursi tua di beranda rumah untuk membersihkan lukanya, sampai aku melihat sebulir air mata meluncur begitu saja dari mata sayu itu dan aku tak mampu melanjutkan membersihkan luka di tangan ibu.

“Bu, sudahlah! Kumohon!” Kataku perlahan menggenggam tangannya yang mulai keriput.

Ibu memutar kepalanya dan mulai menatapku dengan lekat, aku menemukan mata penuh luka, penuh rindu, penuh harapan, mata itu menelan seluruh kekuatan yang sudah kubangun untuk kembali ke rumah ini, kembali menemui kenangan itu, kembali melihat luka yang tak kunjung sembuh dimakan waktu, malah semakin menganga dan bertebaran di seluruh penjuru kenangan. Kata itu amat sederhana, amat lirih, namun mampu menampar dan menghancurkan semua usaha dan harapan yang kami bangun selama ini “Bagaimana mungkin, Ta?” Selanjutnya tak ada kata, hanya isakan yang semakin lama semakin dalam dan teramat menyakitkan.

***

Aku gemetar mengantri, beberapa teman satu angkatan menyapa dan bergumam “Tumben Ta.” “Eh…” Jawabku bingung. “Tania!” Kata Bu Anti sedikit tak yakin. Sudah enam tahun aku bersekolah di asrama ini dan sekarang baru pertama kalinya aku berdiri mengantri bersama anak yang lain untuk mendapatkan surat izin liburan semester. Ibu yang selalu mengunjungiku, namun semester ini ibu jarang datang melihatku, bahkan untuk sekadar menanyakan keadaaku.

Alhasil aku berdiri cukup lama di depan pagar, melihat rumah yang memberikan seluruh kenangan manis selama 11 tahun, namun hanya membutuhkan waktu 1 menit untuk menghancurkan seluruhnya.

***

Ibu mengundang Tante Dinda dan beberapa tetangga yang memiliki anak kecil yang masih sekolah SD untuk merayakan ulang tahunku, Ayah tidak bisa ikut karena ada kerjaan di luar kota.

Aku dan Lia sibuk bermain kejar-kejaran bersama anak yang lain, sampai aku terjatuh ke kubangan hasil hujan semalam, gaun putih yang kukenakan langsung berubah warna seketika dan aku mendapat hadiah tambahan yaitu tawa dari teman ibu dan teman-temanku sore itu.

Ibu yang paling kuat tertawa dan membuatku sangat malu. Namun tawa itu hilang seketika, saat ayah datang bersama dengan wanita berperut besar entah muncul dari planet mana dengan dandanan sangat menor, Ayah tak berkata sepatah katapun, namun bau aneh  meruak bersama dengan kedatangan mereka.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya ibu tercekat, bahkan aku bisa merasakan tangannya yang bergetar.

Editor : Rizki Audina