Foto : www.google.com

Penulis: Maya Riski

Terik mentari yang tak kunjung melunak dengan aroma daun busuk yang mulai melunjak merengsek masuk ke setiap indra penciuman siapa saja saat itu. Debu yang berasal dari tanah kering manari kesana-kemari sesuka angin mengendalikannya, seolah mengabarkan betapa tanah itu sangat merindukan hujan datang memeluknya sesegera mungkin.

“Mey! Masuk kelas yok, bentar lagi bel pulang nih!”

“Duluan aja deh, Put!”

“Kamu ngapain sih? Kan sholatnya udah selesai dari tadi!” Keluh Putri.

“Kamu masuk duluan, setelah itu masukin buku aku ke dalam tas, dan bawak ke sini, please.. Hehe.”

“Kamu tuh ya, oke deh, aku gerak!”

Waktu menunjukkan pukul 13.25 WIB, hanya membutuhkan waktu selama 5 menit jantung Mey Dianda Putri yang sering disapa dengan Mey terasa berhenti berdetak karena luapan rasa kagum yang tak pernah tersampaikan. Rasa suka yang tak pernah terucap, luapan kata manis yang tersusun rapi dalam lembaran kertas yang sudah entah keberapa ditulisnya. Sesegera mungkin dibawanya ke kantor pos dengan terburu-buru dan dengan memeluk sepucuk surat berwarna cokelat susu layaknya surat wasiat yang bernilai miliaran dolar dan harus segera sampai kepada pemiliknya, yang selalu saja tiga langkah setelah menuntaskan tugasnya menyampaikan amanat ke pegawai kantor pos, dengan mencantumkan perangko yang paling indah yang selalu dibeli Mey sepulang sekolah. Mey akan kembali ke dalam, dan secepat kilat mengambil suratnya, membawanya pulang dengan wajah merah sambil mengutuk dirinya dengan mengucapkan kata bodoh kepada dirinya berulang-ulang  karena tak kunjung berani mengirim surat itu. Padahal sangat sulit bagi Mey untuk mengetahui alamat Reno dan tentu saja bukan Mey namanya jika tidak baperan ketika dirinya membuka pintu kamar Mey langsung merasa menjadi pengecut karena tak mengirim surat itu setelah semalaman merangkai kata, dan puluhan kertas yang betebaran dimana-mana karena kesalahan kepenulisan atau lambang hati yang tak sesuai tempat menjadi saksi bahwa semuanya terasa sia-sia.

“Teeet…….” Suara bel menandakan waktu pulang berbunyi cukup keras.

Sebenarnya Aku kurang dapat menuliskan suara bel tersebut dengan suara sebenarnya, karena aku merasa “Teeet” itu lebih mirip seperti suara klakson seorang ibu-ibu berkendara, baiklah itu “Tin”, atau suara siaran televisi yang seolah-olah tidak mendapat jaringan, itu “Tit”, maaf sepertinya Aku kembali salah soal itu, sebelum Aku ngaur ngidul Aku akan kembali kecerita.

Perhatian Mey lurus menuju deretan siswa kelas XII yang keluar kelas menuju parkiran berjarak hanya 10 m dari tempat Mey berdiri, namun Mey tak mampu mengenali sosok yang sedang dinantinya, wajar saja Mey sudah minus tiga, maksudku matanya sudah minus tiga dan kaca matanya tertinggal di dalam tas. Sekarang beban hidup Mey bukan hanya menunggu sosok impiannya saja namun Putri juga sosok yang ditunggu, bukan karena Mey merindukan Putri yang pergi lima menit lalu, melainkan tas Mey yang dibawa Putri bernilai amat penting bagi Mey dengan begitu Mey dapat mengenakan kacamata bundar, yang sering kali membuatnya mendapat julukan “Harry Potter Versi China ” karena matanya yang sipit serta anak rambut yang sering kali meronta ingin mengintip keluar dari anak jilbab yang selalu merepotkannya, serta kulitnya yang putih dan juga ukuran badan Mey yang tak terlalu tinggi dan dapat dikategorikan kurus.

Mey mulai kelabakan memperhatikan satu persatu siswa yang mulai melaluinya dengan sangat cepat tanpa Mey bisa melihatnya dengan jelas, walaupun Reno menggunakan kereta besar berwarna merah mencolok, namun Mey tetap merasa khawatir jika tak mampu membedakannya. Bagaikan dewa penyelamat, Putri dengan cepat menyodorkan kacamata Salma, untuk kesekian kalinya tanpa jemu Putri menemani sahabat bayinya itu dengan sabar menunggu sosok idola sejak masa OSPEK berlalu.

Awalnya Putri berpikir bahwa Mey tak sungguh mengagumi sosok kapten futsal itu dan akan segera menyudahi cerita stalker tentang Reno setelah seminggu OSPEK selesai, namun dugaan Putri salah, Mey mampu bercerita tentang sosok Reno yang mengagumkan bak Ronaldo di lapangan futsal, sejenius Habibie dalam bidang Fisika, dan setampan Justin Timberlake jika sudah bermain gitar. Bisa dikatakan semua cerita yang disodorkan Salma tentang Reno selama ini benar adanya, kecuali tentang kejeniusannya. Menurut kabar, Reno pernah mencampurkan ramuan yang salah ke tabung kimia, alhasil reaksi kimia itu menyebabkan api menyala dan membakar sebagian janggut Pak Murhim selaku guru pembimbing. Tunggu, namun baru kusadari kalau Mey mengagumkan kepintaran Reno dalam ilmu fisika dan peristiwa itu terjadi pada pelatihan Olimpiade Kimia. Aku tidak mengetahui apa kedua ilmu itu memiliki kemiripan secara rumus atau apalah itu namanya. Dan Putri juga tidak mengetahui bahwa Justi Timberlake adalah seorang penyanyi dan bukan gitaris. Bagi Putri kedua mata pelajaran itu sama-sama menyulitkannya, namun Putri tak peduli akan hal itu, Putri hanya merasa senang dapat membantah teori kesempurnaan Reno di depan Mey.

Mey pun langsung mengenakan kacamata, lalu kembali memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang di depannya. Selang beberapa saat, mata Mey dengan sigap mampu menangkap sosok yang dinantinya dengan cepat, dan Mey merasa jantungnya berhenti sejenak untuk berdetak, kali ini bukan karena rasa rindu yang menggerogoti hatinya sedikit terobati, melainkan karena sosok berambut panjang, yang sedang mengalungkan tangannya di pinggang Reno yang sedang tertawa, begitu pula dengan Reno.

Editor             : Nurul Farhana Marpaung