Foto: www.goggle.com

Penulis            : Juraidah Nasution

“Sesungguhnya kalian tidak akan dapat membuat orang lain senang, dengan hartamu. Maka buatlah mereka senang dengan wajah yang ceria dan akhlak yang baik.”

(HR. Bazar dan Abu Ya’la)

Menelaah hadist di atas bahwa hal yang paling mudah membuat saudara, teman atau kerabat senang yaitu dengan memasang wajah ceria. Karena tidak semua dari kita memiliki harta yang banyak. Sebagai mahasiswa sudah pasti kita yang sedang menggali ilmu di kota orang tidak bisa berbuat banyak untuk menyenangkan orang lain dengan harta.

Bicara soal mahasiwa tingkat akhir, dapat kita lihat sendiri bahwa mahasiswa tingkat akhir akan menggunakan wajah yang sangat tak bersemangat, mengingat ia harus bekerja lebih keras untuk menggapai hasil akhirnya. “Wajah tambah tua gara-gara skirpsi,” ucapan ini mungkin tak jarang kita dengar, para mahasiswa tingkat akhir akan sering mengucapkan kalimat itu.

Skripsi sendiri merupakan tugas akhir yang wajib diselesaikan untuk mendapat gelar sarjana, tak jarang itu dijadikan sebagai beban paling berat sehingga membuatnya sedikit lupa untuk memberi seutas senyum di bibir para mahasiwa akhir.

“Satu hari menunggu dosen tapi tak kunjung ketemu,” mungkin ini kalimat yang sering sekali kita dengar, beberapa pernah terlihat saat mahasiwa tingkat akhir mengucapkan kalimat itu dengan wajah yang begitu lesu dan sangat kacau. Mungkin itu merupakan hal berat yang harus kita tempuh saat menjadi mahasiswa tingkat akhir.

Kembali ke hadist yang di awal, apa hubungan mahasiswa tingkat akhir dengan hadist di atas? Jika kita sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir, gunakanlah terapi senyum, maka akan dengan terapi senyum kita akan lebih mudah menghadapi masalah, menghadapi tugas akhir, dan menunggu dosen dengan senang hati. Seakan-akan senyum itu akan menghilangkan semua yang kita anggap beban menjadi hobi sementara.

Mengapa demikian? Coba bayangkan saja saat kita mengerjakan hobi, sudah pasti senyum sumringah di bibir kita tidak akan lepas. Anggap saja kegiatan mengerjakan tugas akhir dan menunggu dosen menjadi hobi sementara, sudah pasti kegiatan itu akan terasa menyenangkan.

“Senyummu untuk saudaramu adalah sedekah. Usahamu untuk mengajak kepada kebaikan dan melarang dari keburukan adalah sedakah. Usahamu menuntut seseorang yang tersesat menuju jalan yang baik adalah sedekah. Memberikan yang kita miliki adalah sedekah. Pandanganmu yang peduli kepada mereka yang buruk rupa adalah sedekah. Sedekah yang paling tinggi nilainya adalah nafkah yang diberikan suami kepada istri”. (HR. Tirmidzi)

Lanjut kepada hadis kedua kita bisa sama-sama lihat bahwa senyummu untuk saudaramu adalah sedekah. Bayangkan kita mendapat dua manfaat sekaligus, yang pertama senyuman kita mendatangkan ketenangan jiwa dan kedua seyuman kita bernilai sedekah. Dua hal yang kita dapatkan hanya dengan perbuatan yang sederhana yaitu senyum.

Perbuatan senyum ini sebaiknya sering diaplikasikan oleh mahasiswa akhir. Karena di tingkat itu pula akan ada banyak ujian kesabaran. Pertemanan akan semakin renggang, diakibatkan kesibukan kita mengejar untuk segera wisuda tahun ini, bahkan bulan ini. Dengan memiliki pemikiran positif, beban yang kita pikirkan akan terasa mudah dan mendapatkan hasil yang baik pula.

Jika kita adalah seorang yang pemarah terapi senyum mungkin akan mengurangi kebiasaan kita yang cepat marah. Mari kita berusaha untuk melakukan terapi senyum, akan banyak manfaat dan berkah yang kita peroleh dengn membiasakan tersenyum.

Editor             : Aminata Zahriata