Kosong

www.pexels.com
www.pexels.com

Merdeka Walk masih disesaki oleh pengunjung. Beberapa dari mereka menikmati makan malam bersama keluarga di restoran ternama milik luar neger. Sebagian lagi ada yang hanya nongkrong sambil makan kentang goreng, menu utamanya tetap segelas kopi dengan gumpalan asap rokok yang keluar dari mulut-mulut belia.

“Tumben kau datang cepat Zul?” Bay, Tino dan Dayat datang langsung mengambil posisi duduk. Asap rokok mengepul, bercampur dengan udara. Sayangnya Razul hanya diam, dia menikmati rokok rasa mentholnya.

“Kesambet apa ini anak, diam saja dari tadi? Haha” Tino penasaran, biasanya Razul orang yang paling ceria, dia tidak pernah merasa terbebani oleh masalah apa pun yang menghampirinya.

 Malam semakin pekat, Merdeka Walk semakin ramai, warna warni lampu bergantungan di deretan pohon besar. Trotoar di Jalan Protokol pun habis dilahap tukang parkir. Malam ini Razul benar-benar menjadi orang lain, matanya merah, sudah  hampir 2 bungkus rokok ia habiskan. Pikiranya melayang, menangkap kenangan beberapa tahun silam, saat Razul merubah haluan hidupnya.

Anak pendiam yang biasanya rajin mengaji itu, sekarang lebih giat belajar di rumah, sepulang sekolah Razul belajar di kamarnya sampai larut malam. Mamaknya Razul tentu menjadi senang.

Di kampungnya banyak terbentang ladang padi. Pemerintah Memang tidak mengizinkan petani menanam selain tumbuhan padi. Mamak dan Ayah selalu berdebat soal masa depan Razul, Ayah yang lebih senang jika Razul anak lelaki samata wayangnya itu belajar mengaji di kampung sebelah. Sebab disana Razul akan diajarkan alif-alif oleh Apak Alang. Beda dengan Mamak keinginan Mamaknya yang lebih menginginkan Razul mendapatkan raking di kelasanya, maka dari itu Razul perlu les tambahan matematika di kota.

Sebagai anak-anak, Razul ikut dengan kebanyakan anak-anak di desanya. Sore dia mengayuh sepeda menuju tempat mengaji di rumah Apak Alang. Di sana ramai sekali orang yang belajar alif-alif dan alquran

“ Kau mau jadi apa nanti kalau sudah besar Zul?” Sambil mengulum permen tangkai, bibir kecilnya membentuk senyuman.

“Aku, mau jadi apa ya? Mau jadi guru ngaji aja, kayak Apak Alang.”  Razul mengayuh laju sepedanya semakin kencang karena malu.

Teman-temannya terkejut mendengar jawaban Razul, sebab cita-cita mereka berbeda dengan Razul, ingin menjadi Pengusaha, Menteri, bahkan Presiden supaya bisa menjadi orang kaya. Mereka juga mendayuh sepeda dengan laju, lalu mengejar Razul

“Jadi guru ngaji mana bisa kaya Zul, kau tengok saja Apak Alang, rumahnya kecil, makananya singkong.”

Pembicaraan anak-anak desa selalu tentang apa cita-cita mereka, bagaimana tidak, kehidupan di desa selalu mengalami keterbatasan materi, namun jika alam mereka kaya, udara segar, sungai jernih, dan ramah tamah antar sesama masih terjaga mengapa tidak tinggal di desa saja.

Hari-hari Ayah dan Mamak selalu berselisih paham, apalagi kalau lagi makan malam.

“Sudah sampai mana alif-alifmu Zul?” Ayah menatap anak lelakinya

“Sudah mau tamat Yah, seminggu lagi, kata Apak Alang Zul sudah pindah alquran”

“Wah, hebat si Razul ini, besok biar Ayah beli pulut dan ayam ke pekan”

Mamak terlihat biasa saja, karena dia tidak begitu bangga jika anaknya mau pindah alquran, maunya Razul dapat rangking, agar bisa sekolah ke kota.

“Apa pulak Abang ini, pakai pulut-pulut segala, bagus uangnya ditabung, sebentar lagi Razul naik kelas enam, dia harus les biar bisa lulus Ujian Nasional.” Mamak mengangkat piring ke kamar mandi

“Apalah kau Mak? Itu gak ada apa-apanya dibandingnkan jasa Apak Alang yang sudah mengajarkan Razul mengaji, bekal untuk akhirat itu nanti.”

Mamak selalu membanggakan si Joni, anak Wak Dulah yang kemarin baru pulang dari Kota Medan. Sekarang dia jadi anggota DPR, pulang bawa mobil, kalau lebaran bagi-bagi THR. Dulu kata Mamak, si Joni itu rajin belajar, dia tidak pernah mengaji ke rumah Apak Alang, karena satu harian dia belajar ke kota, les privat agar bisa terus juara di kelas.

Razul kecil hanya mengikuti apa kata orang tuanya, karena Ayah adalah kepala keluarga, maka Razul mengikuti perintah Ayahnya dan pendapat Mamak selalu kalah. Razul selalu dihipnotis oleh kata Mamak. Sebelum pergi ke sekolah sambil menyediakan sarapan, selalu ada kata-kata “Belajar yang rajin, sekolah yang bagus, biar dapat kerja yang gajinya besar!” Dan Razul hanya mengangguk setuju.

Setiap hari, sepanjang waktu. Sampai akhirnya Ayah meninggal, dan Mamak yang mengambil peran. Walaupun tidak punya uang, Mamak selalu berusaha agar Razul bisa belajar di sekolah negeri. Sebelum berangkat merantau kuliah ke Medan, tidak henti-hentinya Mamak mengingatkan, supaya Razul belajar dengan bagus, dapatkan nilai yang baik, supaya nanti bisa kerja di kota.

Mamak selalu punya semangat, dia hanya ingin anaknya hidup layak, jangan sampai seperti mereka, tinggal di desa, apa-apa susah. Sekarang keinginan Mamak terwujud, Razul sudah jadi orang besar, umurnya sudah 30 tahun, namun sudah punya perusahaan besar di Kota Medan. Dia tidak punya kesibukan, karena usahanya dikelola oleh karyawannya sendiri. Kalau malam, Razul menghabiskan waktu di Merdeka Walk, nongkrong bersama Bay, Tino dan Dayat

Sudah dini hari, satu per satu pengunjung pulang, namun Razul terus duduk dan melamun. Sudah 3 bungkus rokok habis. Bay dan kawan-kawan nyaris kebingungan.. Mungkin Razul sedang berpikir mau dikemanakan uang yang banyak itu, dan rumah mewahnya. Razul rindu mengaji, naik sepeda ke rumah Apak Alang. Makan singkong di rumah kecil, sambil menghirup udara segar.

Lama sejak ke kota, Razul tak ingat lagi mengaji, jangankan baca Alquran, alif-alif yang dulu diajarkan Apak Alang dia sudah lupa. Selama di kota, dia hanya sibuk menghafal semua rumus kimia, matematika dan fisika. Dia mahasiswa cerdas, disibukkan dengan berpuluh-puluh lembar makalah. Wajar kalau dia jadi wisudawan terbaik. Razul mendapatkan apa yang diinginkan Mamak, dia jadi orang besar dan kaya raya. Tidak sia-sia Mamak menyekolahkannya,

Tapi, Razul merasa kesepian, hidupnya seperti gelas kosong tak berisi, tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Uang yang dimilikinya berlimpah. Razul hanya ingin pulang, tidur dengan beralaskan tikar, salat berjamaah di surau dan bermain layang-layang.

Penulis : Gigih Suroso

Latest articles

Addin 311: Hikmah, Hadiah Terindah Dari Yang Maha Indah

“Hikmah adalah aset orang mukmin yang tercecer. Di mana pun ia menemukannya maka ialah yang paling berhak memilikinya.” (Hikmah) Dalam hidup sering kali kita bertemu...

Jalur UM-Mandiri 2020, UIN SU: Kuota 1300 Camaba

Medan, Dinamika Online – UIN SU membuka kuota 1300 untuk calon mahasiswa baru (Camaba) tahun akademik 2020/2021. Hal tersebut berdasarkan pernyataan Yunni Salma, S.Ag.,...

Gelar Seminar, Sema FSH: Kita Gali Ilmu Pengetahuan Terhadap Hukum

Medan, Dinamika Online - Senat Mahasiswa (Sema) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) mengadakan seminar daring bertajuk "Menggagas Penegakan Hukum Pidana di Indonesia pada Era...

FEBI Lahirkan Wisudawan Terbaik pada Wisuda ke-73

Medan, Dinamika Online - UIN Sumatera Utara mewisudakan sebanyak 649 wisudawan/ti pada sidang senat terbuka. Wisuda ke-73 yang berlangsung di Aula Utama Kampus II...

5 Tips Berani Bicara, Himatika Adakan Diskusi Online

Medan, Dinamika Online – Himpunan Mahasiswa Matematika (Himatika) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN SU adakan diskusi online dengan mengangkat tema “Berani Bicara, Tunjukkan Kualitas...