Keluarga yang Harus Aku Syukuri

- Advertisement -

(Foto: Internet https://ahad.co.id)

Penulis: Risma Dona Siregar

Suara merdu ayam menyambut sang surya yang menjelang pagi. Semua orang sudah bersiap untuk melakukan kegiatan. Ada yang mau pergi bekerja, berjualan, dan masih saja ada yang terlelap tidur dan terbuai oleh mimpinya. Terdengar suara lembut dari seorang wanita paruh baya.

- Advertisement -

“Nina, ayo bangun,  Nak, “ suara lembut ibu membangunkanku.

“Iya Bu, ini Nina juga mau bangun,” ku jawab ibu dengan nada agak malas, karena aku masih ngantuk.

Aku pun segera mandi. Terdengar suara Ibuku memanggil lagi,” Nina , ayo sarapan dulu, Nak .”

Aku keluar kamar dan bergegas menuju meja makan. Di sana sudah berkumpul ayahku, kakak dan adikku. Mereka sedang melahap makanan yang disiapkan oleh ibuku. Seperti biasanya, aku menolak untuk sarapan,  karena aku bosan dengan menu yang dibuatkan oleh ibuku.

“Nina, kenapa kamu tidak makan?”, tanya ibu padaku.

Aku belum lapar Bu, nanti saja Nina makannya.

Keluargaku merupakan sebuah keluarga sederhana. Aku selalu berharap mempunyai rumah yang mewah, mobil yang mewah, dan kehidupan yang sangat menyenangkan.  Aku sudah bosan dengan kesederhanaan yang aku jalani selama ini. 

Aku terkadang sangat iri pada temanku Dinda, dia cantik, memiliki kehidupan yang mewah. Ayahnya seorang CEO salah satu group perusahaan yang sangat terkenal, dan memiliki saham di berbagai perusahaan di dalam atau luar negeri. Ibunya seorang wanita karir dan seorang sosialita yang terkenal. Kakaknya seorang model muda berbakat. Menurutku, keluarga Dinda merupakan keluarga idaman. Dia adalah teman dekatku, iriku hanya sebatas itu, tidak lebih persahabatan kami menghilangkan rasa iri itu. 

Hari ini aku dan Dinda pergi ke rumahnya. Kata Dinda dia datang menjemputku, benar tak lama kemudian aku sudah mendengar suara Dinda di depan pintu rumahku, tidak mampir lagi kami pun beranjak pergi, di depan sudah terparkir sebuah mobil mewah berwarna hitam. Seketika aku membayangkan, jika mobil itu adalah milikku. Dan tiba-tiba ada seorang pria menghampiri kami berdua, yang tak lain ternyata adalah supir Dinda.

Aku tak menyangka dapat duduk di dalam mobil semewah ini. Tak terasa aku dan Dinda sudah sampai di sebuah rumah mewah yang besar. Aku tak dapat berkata-kata melihat mobil dan rumah semewah ini.

”Nina, kita ke kamarku aja, ya, “ ajak Dinda.

Aku pun tersentak melihat dalam rumah Dinda yang begitu indah dan megah. Tapi terasa begitu sepi dan sunyi untuk rumah sebesar itu.

“Din, orang tua dan kakakmu ke mana?”, aku mencoba untuk bertanya padanya.

“Aku tidak tahu, Nin, “ jawab Dinda lesu.

“Memangnya ayah, ibu, dan kakakmu tidak bilang mereka akan pergi ke mana?”, tanyaku padanya.

“Dalam keluargaku kami hanya mengurus diri kami masing-masing, ayahku sibuk bekerja, ibuku sibuk dengan kehidupan sosialitanya, kakakku sibuk dengan teman-temannya, dan tinggallah aku sendiri, Nin,” jawabnya dengan nada agak terisak.

“Di saat ulang tahunku, mereka juga tidak pernah ingat, ketika aku mendapatkan prestasi di sekolah mereka tak pernah ada untuk memberikan aku selamat, terkadang aku sangat marah dengan keadaan keluargaku yang seperti ini Nin, aku iri dengan anak-anak yang lainnya,” keluhnya padaku.

“Tatapi, mereka bekerja untuk kamu, Din, lihat rumah yang kamu tempati dan semua fasilitas yang kamu dapatkan,” kataku padanya.

“Untuk apa semua harta ini, Nin, kalau kebahagiaan dan kehangatan keluarga tidak dapat kurasakan,” tambahnya.

Aku pun tersadar ternyata harta yang berlimpah tidak dapat menggantikan kebahagiaan dan kehangatan dalam keluarga. Aku pun langsung teringat pada keluargaku di rumah, walaupun keluargaku sangat sederhana, tetapi kebahagiaan dan rasa kasih sayang yang mereka berikan padaku sangatlah besar, lebih berharga dari mobil mewah, rumah mewah, dan fasilitas-fasilitas mahal lainnya, rasa syukurlah yang membuat semua terasa berharga. Keluargaku adalah hartaku yang paling berharga.

Editor: Nurul Liza Nasution

 

Share article

Latest articles