Ilustrasi : Ditanty Chica Novri

Penulis : Iin Prasetyo

Pukul 5.14. Aku terbangun dengan rasa yang masih membekas. Listrik telah kembali nyala entah sejak pukul berapa—rasa seram pun sedikit berkurang di pikiranku. Aku ingin membuang jauh-jauh bekas rasa penasaranku seharian ini atas kejadian aneh di rumah sebelah yang hanya berbatas dinding papan dengan kosku. Walau sulit.

Entah kenapa rasa seram masih memenuhi pikiranku sampai-sampai untuk beranjak ke belakang saja aku takut. Puncak keseraman tadi malam ketika kudengar suara seperti orang ketuk-ketuk pintu namun tanpa sapaan salam. Berhubung hari masih gelap, aku bersabar untuk bangkit dari tempat tidur.

Duhhh, rasa kebelet buang hajat semakin memaksaku untuk lari ke belakang. Sementara aku masih terbayang-bayang atas kejadian tadi malam. Oh, alam semesta! Cepatlah terang-benderang.

Sepertinya tidak tertahan lagi.

***

Hadehhh.

Kalau saja aku tak memberanikan diri untuk lekas ke toilet ini, bisa-bisa keluar dalam celana. Ya ampun, belum ada seminggu di kos baru yang aku tempati ini sepertinya sudah entah hal apa saja yang buat aku semakin tak betah. Karena harga sewa kos yang murah ini aku tak mau mati ketakutan menempatinya, harga mahal dan tempat nyaman mungkin harus kembali aku pertimbangkan. Untuk menutupi kekurangan uang kiriman orang tua di kampung aku mesti giat cari kerja sampingan. Dari pada aku tetap di sini, memang tempatnya sunyi dan sebenarnya bisa membuatku fokus belajar tapi tetap saja harga semurah ini membuatku semakin tak berkonsentrasi.

Perasaan, tadi aku melewati teras pintu belakang seperti ada serakan air. Berhubung hari masih gelap dan lampu pun dengan pencahayaan seadanya aku tak begitu memperhatikan air apa yang berserak di situ. Sepertinya pun tadi malam tidak ada hujan turun, buktinya tempat yang aku tongkrongi sekarang ini tidak ada tempias atau pun embun yang tebal.

Air apa itu, ya?

***

Astaga! Darah apa ini?

Jantungku terus berdebar kencang. Apa ada hubungannya dengan ketukan pintu tadi malam? Astaga, astaga, astaga.

Aku semakin terperanjat melihat pintu dapur rumah sebelah itu terbuka lebar dan ada simbah darah. Darah yang ada di latar pintu dapurku seakan menjadi penuntun untuk menuju ke pintu rumah sebelah itu. Dengan rasa merinding dan hari masih sedikit cahaya fajarnya, kuberanikan diri mengikuti jejak darah-darah ini.

Dan.

Ya, Tuhan! Ibu ini.

“Tolong! Tolong! Tolong!”

“Ada apa ini?” tanya bapak pemilik kosku dengan bingung.

“Tidak tahu pak, ibu ini dari tadi malam selalu buat saya ketakutan, pak,” seruku gemetaran.

Warga semakin banyak berdatangan, semakin ribut bertanya-tanya.

“Dia sudah meninggal,” kata bapak itu.

“Innalillah,” seru warga.

“Kenapa ada darah di depan pintu rumahmu?” tanya seorang warga dengan ketus seakan curiga. Dan ia memegang tangan kiriku sekuatnya.

“Saya nggak tahu, pak. Saya nggak ngerti apa-apa. Dari tadi malam saya terus merasa dan mendengar suara aneh dari rumah ini, tapi saya juga takut dan nggak berani beranjak ke mana-mana. Dan tadi malam mati lampu saya pun tertidur, pak. Saya nggak tahu apa-apa, pak,” jelasku panjang lebar namun bapak itu semakin menguatkan genggaman tangannya.

“Pertanyaan saya kenapa ada darah di pintu dapurmu terus sampai arah ke mari?” tanya bapak itu lanjut.

“Itulah pak yang saya tidak tahu. Tadi malam ada suara ketukan pintu itu tapi nggak ada ucapan salam atau apapun, jadi saya semakin takut untuk membukanya. Sumpah pak, saya tidak tahu apa-apa tentang ibu ini,” ungkapku meyakinkan bapak itu.

“Mungkin dia mau minta tolong sama kamu, nak. Tapi dia sudah nggak sanggup ngomong,” kata bapak pemilik kosku. “Ibu ini memang sudah sakit seminggu ini dan nggak ada yang ngerawat. Anak tunggalnya lagi ada kegiatan kampus gitu dan harus nginap,” imbuhnya menjelaskan warga.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
717

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.