Illustrasi: Raihana Tuzzikriah

Penulis: Raihana Tuzzikriah

Pernah tidak merasa dunia ini seakan membosankan, melakukan hal-hal yang sama berulang kali setiap harinya. Setiap hari yang kita lalu begitu stagnan, tidak ada rasa emosional yang lebih, tidak ada kejadian yang membuat hari-hari begitu seru. Stagnan, satu kata yang selalu aku katakan sebelum mau tidur. Mengevaluasi apa yang salah setiap harinya, tetap saja tidak ada. Masalah hanya itu saja yang aku lewati setiap hari.

Aku Kimura Takuya, seorang pegawai biasa dan di perusahaan biasa, yang menjalankan hari-harinya dengan sangat membosankan di kota yang paling sibuk di dunia, Tokyo. Kehidupan di kota sangatlah padat dan sibuk, setiap harinya aku harus bangun pagi lalu berangkat kerja menaiki kereta yang padatnya minta ampun setelah itu pulang dengan kereta yang padat lagi. Hal yang sangat merepotkan dan membosankan. Sungguh ingin rasanya aku pergi entah kemana untuk menikmati rasa kesendirianku ke tempat yang tentram dan nyaman tanpa gangguan.

“Takuya-san” terdengar suara seseorang di daun telingaku. Langsung aku sontak terkejut.

“Iya, ada apa?” anyaku linglung. Sebenarnya dari tadi aku hanya melamun di depan komputer meja kerjaku.

Yang memanggil namaku, alisnya langsung menyatu jadi satu dan raut wajahnya menjadi menyeramkan. Aku mulai takut.

Are-are, aku sudah memanggil namamu berkali-kali dan meminta desain yang kemarin aku suruh. Apa kamu sudah mengerjakan desain itu?” Katanya sedikit kecewa.

Sumimasen, aku lupa mengerjakannya. Sekarang aku akan kerjakan, Yumiko-san” kataku langsung mengerjakan apa yang disuruhnya.

Yumiko-san adalah teman kerjaku tapi jabatannya lebih tinggi dariku. Padahal kami masuk perusahaan sama tapi yang naik pangkat dia duluan. Sudahlah bukan rezeki. Aku langsung berkutat melakukan yang namanya desain itu di komputer.

Desain, adalah pekerjaan yang aku sukai. Dari dulu aku sangat menyukai yang namanya menggambar dan melakukan hal baru. Tapi entah kenapa dunia jadi terasa hambar akhir-akhir ini. Aku terus saja mengeluh dan seperti tidak ada motivasi hidupku lagi.

“Takuyaaa” teriak seseorang di lorong kantor. Aku langsung terkejut.

“Sttthh, apaan sih? Jangan ribut di kantor” kataku khawatir dimarahi atasan.

Gomen” katanya sambil tertawa kecil.

“Apa ada apa, Shinichi? Tidak biasanya kau senang begini…” aku langsung tau makna dari ekspresi wajahnya.

Shinichi adalah sahabatku, kami selalu bersama saat kuliah di jurusan desain. Tapi nasibnya sangat cerah, walaupun kami tak sekantor,dia sudah menjadi manajer di perusahaannya. Dia selalu datang ke kantorku untuk urusan kerja sama.

“Hehehe, besok ada yang datang ke negara ini” ungkapnya sambil nyengir tidak karuan.

“Siapa? Istrimu?” tebakku.

Istrinya adalah seorang wanita yang memiliki kewarganegaraan berbeda darinya. Mereka pertama kali bertemu setahun yang lalu saat Shinichi studi banding di Negara Indonesia, tepatnya di kota Bukittinggi. Kalau tidak salah nama istrinya Dina. Aku pun belum pernah bertemu dengan istrinya. Karena mereka menikahnya di Indonesia, saat itu aku punya proyek desain di Kyoto.

“Iya” jawabnya dengan semangat

Yokatta, ternyata hilang juga rasa rindumu itu” sindirku sambil tersenyum.

“Dina-chan membawa seseorang ke sini, aku ingin memperkenalkan seseorang itu kepada mu” katanya.

“Apaan sih? Aku punya seorang gadis yang aku sukai ya..” ujarku kesal, jujur saja aku tidak suka dijodohkan begini.

” Yumiko-san? Sudah lah Takuya, kamu tidak usah mengaharapkannya lagi” jawabnya santai.

“Tidak, aku adalah cowok sejati dan setia pada satu cewek yang aku sukai” kataku dengan bangga.

“Sudah jangan mengharapkannya. Oh ya aku mau pulang dulu. Mau beres-beres rumah, karena ratuku mau datang” tuturnya dengan semangat sambil berlari keluar kantor.

“Dasar norak” kataku kesal melihat kelakuan sahabatku satu ini, tapi bagaimanapun rasanya aku senang kalau dia senang.

Segera aku jumpai Yumiko-san, gadis yang aku sukai dari pertama masuk kerja. Jujur aku langsung menyukainya semenjak pertama bertemu. Waktu itu dia sangat tampil anggun dan menawan. Hah, mengingat kejadian dulu sangat menyenangkan. Mungkin dia alasanku betah kerja.

“Yumiko-san, ini design yang telah siap..” aku memberikan hasil designku.

Arigatou, jangan sampai kelupaan lagi. Aku takut dimarahi bos” katanya dengan sedih.

“Maaf, aku tidak akan melakukannya lagi” kataku dengan menyesal.

“Oh iya, Takuya-san. Ini ada undangan untuk mu. Jangan lupa datang ya..” katanya dengan sumringah sambil memberikan kartu undangan.

Aku membacanya pelan. Langsung saja hati ini bergemuruh, petir siang datang tiba-tiba di hati. Undangan pernikahan. Yumiko-san dengan manajer yang terkenal di perusahaan ku. Aku menciut menjadi kurcaci, mungkin lebih kecil dari kurcaci.

Hari-hari aku lewati semakin buram dan membosankan. Aku bahkan tidak fokus bekerja. Yumiko-san telah menikah dan hidup dengan bahagia. Aku benar-benar kacau.

“Takuyaaa”. Suara khas sahabat ku Shinichi. Aku hanya tersenyum tipis membalas sapaan biasa dari Shinichi.

“Sudahlah, jangan sedih gitu..” katanya memelukku. Aku hanya diam. Aku sudah meminta cuti dengan alasan sakit. Sakit hati.

“Kenapa kamu ke rumahku?” Tanyaku langsung pada sahabatku.

“Kamu kenapa bertanya seperti itu? Tentu saja aku menjenguk sahabatku yang sakit.” Katanya. Aku hanya diam.

“Oh ya Takuya.. Aku sangat ingin mengenalkan mu dengan sahabat istriku.. cukup berjalan-jalan mengelilingi Tokyo saja. Kau bawa gadis kecilku juga ya.. Besok, aku dan istriku ingin mengunjungi saudaraku di Osaka, tolong ya” katanya dengan raut muka memelas.

“Oke baiklah, hanya untuk besok”. Aku mengiyakan permintaan sahabatku.

Hari yang cerah untuk bunga sakura yang lagi bermekaran. Indah. Saat itu dia juga memakai penutup kepala senada dengan warna sakura hari ini, pink. Anak kecil yang sangat mirip dengan Shinichi tersenyum dan terlalu hiperaktif untuk bertanya ini itu, bergandengan tangan dengan dia. Aku hanya berjalan beriringan dengan mereka. Aku tidak menyangka dia bisa bahasaku. Katanya, dia dulu kuliah jurusan sastra Jepang di negaranya. Sekarang, lagi fokus untuk mencari pekerjaan di Jepang. Dia sempat berkata ‘Seandainya ada bunga sakura di jam gadang’. Jam gadang? Apa itu? tapi aku hanya diam pura-pura tidak mendengar.

Yang membuat aku lebih penasaran dengan dia adalah agamanya. Aku selalu menyepelekan agama. Aku tidak terlalu suka dengan keterikatan dan paham agama apapun. Tapi kali ini aku penasaran dengan agamanya. Islam.

Hari berlalu menjadi minggu kemudian bulan. Iya, selama enam bulan aku jalani hari-hari biasa yang membosankan. Tapi ada yang berbeda. Sejak hari itu, terakhir kami bertemu, aku tidak lepas memikirkan dia. Dia yang tersenyum lepas melihat sakura dan penutup kepala pink-nya itu. Aku selalu memikirkannya. Entah karena rasa penasaran ku saja atau ada perasaan lain.

“Takuyaaa”. Tak usah dibilang lagi, dia pasti Shinichi.

“Apa?”. Tanyaku ketus. Dia nyengir dan menghampiri meja kerjaku. Ini kantor Shinichi, seenaknya saja teriak-teriak.

“Ada job ke Indonesia, Bukittinggi, kau mau ikut?”. Tanyanya antusias. Sudah beberapa bulan istrinya sudah kembali ke Indonesia. Tentu saja ini kesempatan emas untuknya bertemu dengan anak istri dan mungkin juga ini kesempatan emas juga bagiku.

Hari cerah dan udara yang dingin, mungkin memang ciri khas kota ini, Bukittinggi. Iya, aku sudah sampai dan bertemu dengan nya di depan jam gadang ini. Sekarang aku tau jam gadang itu apa dan juga Islam itu apa. Aku memegang bunga sakura yang baru aku bawa dari Jepang. Dia tersenyum.

*

-san/ -chan: Panggilan berbeda untuk orang jepang

Are-are: Astaga/ Ya ampun

Sumimasen/Gomen: Maaf

Yokatta: Syukurlah

Arigatou: Terimakasih

Editor   : Aminata Zahriata