Penulis: Maya Riski

Semua terlihat sibuk menatap lamat-lamat benda berbentuk balok yang rasanya tak pernah ketinggalan dalam setiap kondisi dengan berhati-hati, namun tidak dengan Arni. Arni amat menahan diri untuk tidak melihatnya di saat seperti ini dan lebih memilik mengganggu Ali. “Nomor 5 apa jawabannya?” tanya Arni dengan suara yang amat pelan, berharap tak ada yang mendengarnya, kecuali Ali. “A” Jawab Ali tak kalah pelan.

“Kamu gak belajar ya, Ni?” tanya Ali kepada Arni.

“Kamu belajar?” tanya Arni kembali.

“Nggak” jawab Ali polos.

“Yaudah, sama dong” jawab Arni sambil nyengir memperlihatkan gigi gisulnya, tawapun langsung menjadi teman sepanjang perjalanan mereka.

Arni adalah siswa SMA jurusan IPA berparas manis dengan kulit langsat dan rambut sebahu yang selalu dikuncir kuda olehnya. Ali adalah nama anak laki-laki yang menjadi teman Arni sejak kecil. “Dimana ada Arni maka disitulah ada Ali” jawab Aida ketika ada yang bertanya keberadaan Ali. “Itu Arni tapi gadak Ali tuh, udah ah nggak bener kamu jawabnya” jawab Arman sambil menunjuk Arni yang sibuk memainkan hp. ”Terserah mau percaya atau nggak” jawab Aida malas menanggapi perkataan Arman.

“Udah” gumam Arni pelan tanpa mengalihkan pandangannya ke bawah.

“Aduh” Ali terlihat meringis menahan sakit akibat kepalanya terantuk meja.

“Sakit banget deh, kayagnya berdarah, perlu ke UKS kayaknya deh, Ni” ucap Ali dengan wajah memelas.

“Jangan lebay deh” jawab Arni cuek.

***

Suara lonceng tanda jam mata pelajaran keempat akan segera berlangsung menggema di sepanjang lorong lantai dua. “Ali mana, Ni? Kog gak nongol batang hidung tuh anak?” tanya Zio. Arni tak mampu menjawab pertanyaan Zio karena dia sendiri pun tak tahu dimana keberadaan Ali. Lima belas menit yang lalu Ali pergi untuk membeli minuman untuk teman satu kelompok dramanya, namun sampai sekarang belum kembali. “Yaudah, nggak perlu cemas kali ya, buk Indi kan sering telat datengnya, jadi gak masalah” kata Zio santai.

“Woyyy…buk Indi tadi dateng, maksud aku tadi ke arah kelas kita, tapi balik lagi gak tau deh kemana dan kenapa jadi jangan tanya gue” kata Dani dengan santai sambil menenteng tas nya menuju meja pojok belakang.

“Buk Indi gak mungkin gak masuk, karena menurut catatan sejarah sekolah ini, buk Indi itu tercatat sebagai guru yang paling rajin, sekalipun badai menghadang” jawab Zio yang langsung disambut gelak tawa satu kelas.

Tiba-tiba terdengar suara dari luar, suara kaki siswa yang berbondong-bondong berlari meninggalkan kelas menuju lapangan basket menderu mengganggu telinga. “Ada apa tuh , kog pada lari kelapangan basket semua ya?” Tanya Dani dari luar sambil sibuk mengobrak abrik tempat sampah, sibuk mencari benda kecil yang belakangan sering dibawanya.

***

“Iya iya, aku minta maaf  soal kemaren” pinta Ali dengan tulus.

“Terus?” jawab Arni pendek.

“Ya, aku minta maaf. Masa kamu tega sih Ni nyuekin aku, udah seminggu lo, lebam di muka aku aja udah ilang, masa perasaan kesel kamu nggak ilang? Aku traktir Siomay deh, kalau nggak Batagor bang Dodo depan gerbang deh, kalau kamu nggak selera makan, gimana kalau kita nonton atau kita…” “Kita apa?” potong Arni dingin. “Eh, kita bisa ngelakuin apapun bareng, aku bakal ngabulin semua kemauan kamu Ni, yang penting dimaafin” jawab Ali dengan tulus. “Semua?” Tanya Arni dingin. “Iya, semuanya” jawab Ali tanpa tahu arti pembicaraan ini esok.

***

Zio dan lainnya buru-buru keluar penasaran apa yang terjadi di luar, kecuali Arni. Arni amat cemas dengan Ali, anak laki-laki itu selalu membuatnya cemas, selalu. Tak terkecuali hari ini. Arni tak pernah memikirkan kesuksesan drama ini, yang dia khawatirkan hanyalah Ali. Arni khawatir jika Ali gegabah dan emosi maka akan membayakan dirinya. Arni sibuk memikirkan kemungkinan mengapa Ali tak kunjung kembali ke kelas. Memikirkan pesan itu.

Zio dengan kasar menarik tangan Arni yang dingin dan membuat si pemilik tangan kaget. “Buruan deh Ni. Ali, Ni. Ali…” Belum selesai Zio bicara Arni buru-buru melepaskan tangan Zio, buru-buru berlari meninggalkan Zio yang tertinggal jauh di belakang dengan tangan bergetar setelah mendengar nama itu disebut, tanpa Arni sadari butiran bening jatuh perlahan menembuh rasa khawatir yang tertanam amat dalam.

Bersambung…

Editor : Aminata Zahriata