Foto: www.google.com

Penulis : Raihana Tuzzikriah

Bulan Ramadhan adalah bulan dimana semua keluarga berkumpul, yang jauh di kota sana, pulang menuju kampung halaman. Begitulah kegiatan yang selalu ada di bulan yang suci ini. Sayangnya Aku tidak mempunyai kampung halaman.

“Aku mau mudik.” Kataku sambil menggantungkan kepalaku ke tangan yang ada di meja kerja.

“Mudik!? Memangnya Kau punya kampung? Toh Kau kan lahir di sini”. Gino temanku yang mendengar keluhku selalu menjawab dengan nada mengejek.

“Kampung halaman orang tuaku, No.” Kataku kesal.

“Dimana?” Tanyanya singkat.

“Bukit Tinggi.” Jawabku.

“Oh, Sumbar! Nanti bawain aku oleh-oleh, keripik Sanjay ya.” Katanya.

“Yaelah, urusan oleh-oleh aja baru kau semangat. Bisa nggak ya Aku minta cuti?” Tanyaku ragu.

“Gampang, tinggal Kau tanya aja langsung ke bos.” Katanya lalu berlalu ke mesin fotocopy.

“Dasar!”Aku menghela napas dengan kesal akibat kawanku yang satu ini, cuek habis.

Selama dua hari Aku memikirkan cuti yang akan Aku rencanakan. Takut, segan dan cemas. Itu perasaanku ketika mencoba untuk berbicara kepada bos.

Hari ini Aku memberanikan diri, untung selama ini tidak ada pelanggaran yang Aku lakukan saat bekerja. Aku seorang pekerja yang baik. Aku berjalan dengan pelan dan tegang ke ruangan bos. Tanganku basah karena keringat bercucuran keluar. Aku sangat tau sifat bosku yang lumayan galak. Aku tau, banyak yang membicarakan keburukan bos di belakangnya. Hari ini Aku berharap mendapatkan keuntungan. Sudah lama Aku tidak mudik dari aku waktu kecil ketika ada Ayah.

Tok tok tok…

“Masuk!” Suara tegas dan berat menjawab ketokan pintu yang Aku buat.

“Ada apa Faisal?” Tanyanya, melihatku dengan kaca mata bulat kecilnya sambil membulatkan matanya yang sipit, menatap tajam ke arahku.

“Saya mau mengambil cuti , Pak.” Jawabku tegas, singkat dan padat. Aku menelan air ludahku.

“Oh,  mau minta cuti!” Katanya dengan nada mengejek. Matilah Aku.

“Selama saya lihat prospek kerja Kau, sepertinya Kau bisa cuti, tapi…” Katanya sambil melihat berkas-berkas yang di atas mejanya.

“Sungguh, Pak? Syukurlah.” Kataku langsung kegirangan senang.

“Kau jangan senang dulu! Dengar perkataan Saya sampai habis!” Katanya dengan nada tinggi. Keringatku makin membanjiri tanganku dan sekarang kepalaku.

“Maaf, Pak.” Jawabku dengan rasa bersalah.

“Kau cuti hanya boleh lima hari, setelah itu Kau harus lembur.” Katanya tegas.

“Baik, Pak. Terimakasih, Pak.” Kataku pamit dan keluar dari ruangan yang menegangkan itu.

Aku hanyalah seorang pegawai honorer yang masih bau kencur di kantor besar ini. Tak banyak yang dikasih libur lebih dari empat hari sepertiku, apalagi saat hari raya tetap saja kami harus bekerja. Karena perusahaan tempatku bekerja harus bekerja setiap saat.

Tepat dua hari sebelum hari raya, Aku berangkat menuju kampung halaman, kampung Ayahku. Ibuku sudah tidak tahan lagi untuk melakukan perjalanan jauh dari Medan ke Bukit Tinggi. Kakak tertuaku yang peduli, dia akan merawat Ibuku selama Aku di kampung ayah.

Segala hal sudah ku atur mulai dari tiket dan barang bawaan. Hari ini akhirnya tiba. Rasanya perasaanku bercampur aduk, karena sudah lama Aku tidak ke kampung Ayah dan sudah lama Aku tidak berpergian jauh dari kota kelahiranku. Antara semangat, gugup, cemas dan senang, rasanya bercampur aduk.

“Nanti hati-hati di sana ya… Baik-baik Kau sama Etek (tante) mu ya…” Kata Ibu. Ibu adalah orang asli Medan dan beliau menikah dengan Ayah yang asli orang Minang.

“Iya, Bu…” Kataku dengan lembut. Aku melihat raut mukanya yang teduh dan tenang di atas kulitnya yang sudah banyak keriputnya. Rasanya Aku mau menangis saja. Padahal, Aku hanya lima hari pergi.

“Ini untuk Etek Kau di kampong.” Ibu memberikan se kotak kue Bika Ambon khas Medan. Etek adalah adik kandung Ayahku yang masih tinggal di kampung.

Aku hanya mengangguk dengan keras, tanda Aku mengerti. Aku naik bus besar yang menjadi transportasi antar lintas Sumatera. Menaiki bus adalah hal yang menjadi tantangan tersendiri bagiku. Dua hari satu malam duduk di atas bus dan juga berbuka dan sahur di atas bus adalah hal yang pertama kali bagiku.

***

Betapa Aku merindukan sosok yang dari dulu ingin Aku temui, tapi sekarang tak dapat lagi Aku berjumpa dengannya, Ayah. Iya, semenjak Ayah dan Ibuku bercerai ketika Aku masih sekolah dasar, Ayah langsung pulang ke kampung halamannya. Jarang berkomunikasi dengannya adalah hal yang paling menyiksaku. Saat itu aku masih kecil, Aku selalu merengek meminta bertemu dengan Ayah ketika keinginanku tak dikabulkan Ibu. Keduanya tidak menikah lagi setelah bercerai.

Aku selalu memikirkannya pahlawan masa kecilku. Aku sangat merindukannya. Ketika Aku mendengar kepergian Ayah, Aku masih duduk di bangku kelas tiga SMA, Aku sangat terpukul. Aku belum pernah mendengar kabar lagi tentang Ayah, setelah mereka memutuskan bercerai. Hingga Aku mendengar kabar Ayah meninggal dunia. Saat itu Aku sedang sibuk-sibuknya persiapan untuk ujian Nasional. Aku tak sempat melihatnya di saat terakhir.

“Oyy Buyung! lah lamo ndak basuo, aa kaba kau yung?” Teriak Etek ku dengan lengkingan suara yang tinggi dan wajahnya tampak cerah dan senang setelah melihatku di depan pagar rumahnya. Aku sudah sampai di kampung halaman Ayah.

“Buyung!? Apa itu, tek?? Faisal ngak ngerti.” Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“Buyung itu anak laki-laki, Faisal. Maksud Etek sudah lama kita tidak berjumpa. Apa kabar mu, Nak?” Katanya mengartikan apa yang dikatakannya dengan logat orang Padang. Aku hanya tertawa geli melihat diriku sendiri yang tidak tahu bahasa daerahmu, Ayah.

“Baik , Etek.” Jawabku sambil tersenyum.

Sia buyung ntu?” Tanya seorang Ibu paruh baya yang kebetulan lewat depan rumah, penasaran.

“Si Ucok dari Medan.” Kata etekku langsung menarikku masuk ke rumah.

***

Allahuakbar Allahuakbar lailahailallah

Suara  takbir menggema di kampung kecil ini. Orang berdesakan menuju Mesjid. Sama seperti di Medan orang-orang berbondong ke Mesjid memakai pakaian terbaik dan dengan gembira menyambut hari raya Idul Fitri ini.

Pusara kuburan Ayah begitu semak, dengan rerumputan yang tumbuh liar. Aku mencabut satu persatu dengan hati terluka. Aku sudah berjanji setelah hari raya Aku akan ziarah ke kuburan Ayah. Ayah, pahlawanku. Aku tidak pernah berjumpa dengannya setelah kepergiannya. Aku merindukannya. Memikirkannya setiap saat. Berdoa untuk nya agar terhindar dari siksa api neraka. Jujur Aku sangat merindukannya. Aku membaca Al Fatihah.

Ini hijrah terbaik pada bulan Ramadhan. Melepas rasa rindu dan mengingat akan kematian yang kapan saja bisa datang tanpa di undang ataupun di rencanakan oleh manusia itu sendiri. Aku banyak mempelajari berbagai hal baru dalam hijrahku ini.

Editor : Maya Riski