Ilustrasi: inovasee.com

Penulis: Rahmanuddin

Kita mungkin sudah tak jodoh. Dulu kita begitu memimpikan bisa bersama, namun adat membuat jalan kita buntu.

iya, apa yang mesti kita lakukan jikalau usaha tak menyapa hasil. Sampai jumpa di keheningan malam yang merindukan.”

Namun, langkah Ipih begitu lambat nan gelisah penuh kata dalam kalbunya. Ia tak sadar sampai 2 papan tablet obat kemasan yang dipesankan amaknya jatuh di samping rumah Ijun, Sang dambaan hati. Berjarak 50 meter dari rumahnya, Ipih biasa menikmati harinya di halaman rumah Ijun berbincang, kadang mereka serius membicarakan soal hubungan mereka. Pandainya Ipih berjumpa dengan Ijun tatkala amak dan ayahnya sedang bekerja, sebab orangtuanya tak pernah merestui hubungan itu disebabkan hubungan kekeluargaan antara orangtuanya dengan orangtua Ijun sang dambaan hati berbeda persepsi.

Ipih tinggal di Kampung Tanjung Aro, Jorong Bahagia Padang Galugua Kenagarian Padang Galugua, 10 kilometer dari kota kecamatannya. Kampung itu cukup terisolir dari keramaian. Pepohonan rindang, batang sungai Sumpuh membalut kehangatan dan kesejukan udara setiap hari.

Ipih, nama aslinya Soripih Rohani adalah “Bunga Nagari” di kampungnya. Ia merupakan anak tunggal. Sebenarnya ia punya saudara laki-laki, namun amaknya keguguran ketika dalam usia kandungan 7 bulan pada tahun 2005 lalu. Kini Ipih menginjak usia 19 tahun. Dulu, ketika pertama kali ia kenal Ijun pada tahun 2014 saat masih duduk dibangku kelas VIII SLTP, Ijun adalah idolanya. Kata orang di sekolahnya, karismatiknya sudah memancar sebab ia aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakulikuler. Sedang Ijun baru mengenalnya ketika orangtuanya memutuskan untuk pindah ke kampung yang tak begitu ramai. Hanya 100 kepala keluarga. Dan, itu adalah kampung ipih.

***

Ipih melihat Ijun sedang berkemas mengangkat kasur tidurnya dari mobil yang disewa ayahnya untuk mengangkut perkakas. Tepat di samping Masjid Nurul Hikmah. Berjejer sederetan dengan rumahnya. Rumah panggung khas masyarakat Minang adalah 1 dari 4 rumah panggung minang yang tersisa di kampung itu adalah rumah Ipih.

Ijun dan keluarganya memutuskan untuk pindah sebab ayahnya dipindah tugaskan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten ke kenagarian Padang Galugua sebab tenaga medis di nagari tersebut kekurangan karena salah seorang tenaga medis sebelumnya turut dipindahtugaskan oleh Dinkes Kabupaten. Hal seperti ini biasa terjadi karena adanya ketidakcocokan lokasi yang ditunjuk oleh Dinkes pun soal penyesuaian tempat kerja yang baru yang masih tidak layak.

Yo, pindah lai bang?” tanya Ipih canggung.

Hmm, ayah pindah tugas,” jawab Ijun dengan keringat yang terus mengalir.

Hati Ipih serasa dag dig dug. Orang yang sering disapa di sekolah itu ada di depan matanya. Sesekali Rosida mendorong gemulai badannya dan permen karet di mulutnya terus dikunyah tak henti, sebut saja rasanya kian hambar. Rosida adalah teman dekat Ipih sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Rosida tak melanjutkan ke SLTA sebab masalah ekonomi keluarga. Sepulang sekolah, Ipih biasa mangota (berbincang) dengan Ros begitu akrab disapanya.

Wajah Ipih merona. Kedua tangannya mengepal baju kurung yang dipakainya. Hal biasa jika Ipih sedang merasakan hal yang magis, termasuk soal hati.

Hahaa, apo selah, inyo dagu den baraiya tuh,” canda Ros pada ipih.

Antuaklah wak!, (Diamlah)” kata Ipih malu.

Ijun memperhatikan wajah merona nan tersipu malu itu, “Apuihlah lu, baiko masuik ka muluik,.” Kata Ijun mengingatkan.

***

Sebenarnya tak ada hubungan spesial antara mereka. Keduanya hanya tutup mulut soal “cinta” apalagi soal “pacaran”. Pertemanan yang begitu akrab bak sepasang kekasih yang terus dihinggapi burung merpati di Negeri Dongeng, dedaunan merah dan jingga jatuh di atas kepala di atas sebuah jembatan yang ditaburi bunga Sakura di tempat yang indah bersama musim semi sepanjang tahun.

Tiga tahun kemudian. November 2017 lalu. Pertanyaan muncul soal hubungan yang lebih serius meski belum ada kata yang mengikat mereka sebelum melangkah lebih serius.

“Aku pengen loh nikah muda. Kayaknya asyik gitu. Apalagi si Ros udah dapat jodoh dari Pekanbaru. Udah gak peninglah mikirin digantungin atau ditinggali sama pacarnya.” Begitu kata Ipih di alun-alun Kota Bukittinggi di Monumen Jam Gadang saat mereka berpisah dengan rombongan wisata bersama teman sekolahnya.

Tidak ada kata yang menyebut nama yang dipinta. Gabungan kalimat itu hanya bermaksud menyinggung Ijun soal keberanian dan niat tulusnya. Apakah mereka akan mengikat hubungan di atas meja Penghulu di Kantor Urusan Agama (KUA) setempat, atau harus membuang kenangan indah bersama dalam hubungan yang “tak jelas”.

“Aku belum bisa jawab sekarang. Akan ku telaah dan pertimbangkan secara matang. Tapi, kamu harus siap, jika suatu saat aku memanggil namamu. Kamu harus sabar, jangan pindah ke lain hati.” Pinta Ijun gagah.

“Lantas kapan? Apakah aku harus menunggu jawaban itu tahun depan keburu aku mendapat ajakan dari orang lain. Walaupun kita tak pernah saling mangatakan cinta, tapi kita sudah saling tahu banyak. Karena aku jijik dengan kata itu. Segera putuskan, aku tunggu bulan depan.” Ipih berharap jawaban secepatnya.

“Mari kita pergi, nanti mereka kecarian,” ajak Ijun. Sedang rombongan sudah menunggu di terminal Aur sekitar satu jam lalu.

***

Kriing, kriing, kriiing,… (bunyi getar telepon genggam milik Ijun). Ijun menaruh hp itu di atas tempat tidurnya. Setiba ijun di kamar tidurnya, kembali bergetar. Atas nama Nadya, teman sekelas yang menjengkelkan. Nadya sering bercerita berlebihan tentang dirinya kepada orang lain. Gadis yang terobsesi kepada nya. Jangan diangkat, begitu pikirnya.

November 2017, sebulan setelah pesan Ipih pada Ijun di pelataran Jam Gadang, kini ipih semakin berteriak akan seruannya sebulan yang lalu. Ketakutannya begitu menggebu. Amplop surat ditanggannya masih kosong, tak ada sepatah kata yang tertulis, sedang pena ditangannya terus menunggu untaian kata mencoret kertas putih kosong itu. “Hari ini, sebulan setelah aku katakan apa yang aku mau, sebulan setelah hati ini menunggu jawaban indah terlontar dari hati mu. Entah apa jawaban yang kau kasih. Tapi, sebelum kau ucap, aku sudah siapkan jawaban balik yang ingin aku sampaikan.” Begitu pikir Ipih dalam kolbunya. Kalimat itu segera tersampai lewat tulisan di selembar kertas dalam amplop putih kebiruan. Namun, hingga sore menjelang, kertas itu masih kosong. Keraguannya makin menyayat hatinya. “Jangan tulis!” Begitu kata hatinya.

“Aku menerima tantangan mu pada sore itu. Jika engkau siap, saya siap. Tapi, agar berkah jalan yang kita tempuh ini, harusnya kita meminta restu dari mereka (orangtua).” Yakin ijun.

Tak berselang lama, setelah pertemuan singkat itu, ipih bergegas pulang ke rumah. Sedang menunggu kehadiran ayah dan amak tiba dari ladang tak jauh dari rumah. Pintarnya dia hanya dengan beberapa waktu bisa dimanfaatkan untuk bersua lagi dengan nya, Ijun.

Sudah sama-sama sepakat dan membulatkan tekad untuk segera melaksanakannya, namun tugas utama mereka yang sesungguhnya adalah untuk meyakinkan dan mendapat restu dari orangtua, “Pasti sulit bagi mereka untuk menyetujui niat baik kita ini. Buat caramu yang dapat mengajak kita kepada tujuan kita.” Yakinnya ke ijun dalam sore mendung hari itu.

Samo sia? Ba’a caronyo nak mambalanjoan awak. Ijan bapikia mode tuh. Saloseanlah lu sikolah awak tuh sampai kuliah, baru ayah kasih restu.” Kata ayah Ipih bersuara keras dan tak terdengar kata restu. Lekas, Ipih menangis.

“Kalau tujuannya untuk terhindar dari Zina, itu baik dan benar. Namun, nikah itu bukan hanya sekedar menempuh jalan hidup berdua, namun soal masa depan bersama dan kesanggupan menjalin hubungan rumah tangga.” Terang amak menenangkan hati ipih seorang diri.

Waktu yang sama, ijun diancam tak dianggap sebagai anak jika terlalu menggila pada pernikahan muda. Meski berniat baik, ternyata menikah muda masih sekedar impian yang panjang dan kemungkinan besar tidak akan terjadi, apalagi bilamana bersanding dengan Ipih, sang pujaan hatinya.

Ha ha ha,” Ijun tertawa bersama airmata. Telepon genggam itu rasanya segera dibantingkan ke lantai keramik. Ia menangis tersendu begitu mendalam. Ayah yang selalu berusaha mencukupi kebutuhannya setiap hari telah memberikan keputusan soal kelanjutan episode persahabatan paling terkesan di dunia itu. Persahabatan bagai sepasang merpati dalam sangkar. Hati nya kacau. Tak lama kemudian, ijun yang malang membuka jendela bilik nya. Melompat dan berlari sekencang mungkin menuju rumah ipih.

Di samping rumah panggung itu, ijun menyebut, “Pih, pih,… aku disini.”

“Gak usah kau jelaskan lagi padaku. Aku sudah tahu apa yang hendak kau sampaikan. Ayah dan amakku tak memberi aku jalan sedikit pun. Ku harap kita tak usah berpikir terlalu jauh lagi. Sebut saja kita selama ini tak pernah melakukan hal seperti ini. Kata ipih putus harap.

Hanya diam. Lekas dari itu berpaling. Sesuruh ipih padanya. Sehelai kain sarung yang dipakai untuk sholat terhempas ke wajah ijun. Pesan tersampai, “Anggap ini kenang-kenangan atas persahabatan ini. Semoga kau meraih cita-citamu.” Ia tahu apa maksudnya. Malam itu pun berlalu.

Hubungan persahabatan ini segera sirna. Tiga tahun ditugaskan sebagai dokter di Nagari Bahagia Padang Galugua, ayah ijun dipindahtugaskan ke Pulau Jawa karena telah memenuhi kontrak dengan Dinas Kesehatan Kabupaten. Sebuah amplop menunggu dibaca oleh ipih. Ia bersikeras untuk tidak menyentuhnya.

Sebulan setelah surat itu tergeletak di atas kasur tidurnya, ipih tak mendapat seremoni perpisahan dari ijun. Sebenarnya ijun ingin bersua dengannya, melalui surat itu, ijun telah banyak bercerita, namun menjelang lepas landas, surat itu belum dibuka segelnya. Lantas, ijun sedang menempuh pendidikan tinggi bergengsi di Pulau Jawa.

Tingggalkan Komentar Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.