Tips Move On dari Trauma Korban Bullying

- Advertisement -

(Foto: Internet https://id.depositphotos.com)

Penulis: Nurmaimah Tambunan

Bagaimana jika anak yang kamu bully di sekolah, tumbuh dewasa dan ternyata menjadi satu-satunya ahli bedah yang bisa menyelamatkan hidupmu – Lynette Mather”. Sejalan dengan kutipan diatas yang menyatakan bahwa tindakan bullying dapat berubah menjadi sesuatu yang memalukan ketika korban berubah menjadi orang yang paling dibutuhkan. 

- Advertisement -

Bullying atau perundungan adalah tindakan kekerasan, ancaman atau paksaan untuk menyakiti orang lain baik secara verbal, fisik maupun psikologis, demi mencapai tujuannya yaitu agar korban trauma, tertekan dan tidak berdaya dalam menjalankan hidupnya. Tindakan perundungan menjadi permasalahan yang belum selesai sampai saat ini. Kasus-kasus perundungan di Indonesia masih terus meningkat setiap tahunnya.

Sejumlah kasus perundungan kerap kali mewarnai masalah-masalah anak yang masih butuh penyelesaian. Menurut KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) mencatat dalam kurun waktu 9 tahun, yakni dari tahun 2011-2019 ada 37.381 kasus pengaduan kekerasan terhadap anak. Untuk kasus Perundungan seringkali terjadi di dunia pendidikan maupun sosial media dan angkanya mencapai 2.473 kasus yang telah dilaporkan dan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dari data-data tersebut menjadi tamparan besar terhadap kualitas moral generasi Indonesia. 

Fenomena perudungan yang terjadi seringkali merupakan proses Copy Paste atau tindakan balas dendam yang dilakukan oleh pelaku. Contohnya ada beberapa tindakan kegiatan yang melegalkan kekerasan untuk penerimaan anggota baru. Siklus tersebut berjalan dari yang menjadi korban perundungan akan menjadi pelaku perundungan terhadap juniornya. Tindakan tersebut membuat pelaku percaya diri bahwa ia dapat menguasai orang lain. 

Selain itu, peristiwa-peristiwa masa lalu dapat menjadi jembatan seseorang untuk melakukan tindakan Perundungan. Didikan orang tua yang sering kali otoriter atau bersikap menguasai hingga melakukan tindakan kekerasan, berupa hukuman fisik dapat menjadi role model  bagi anak untuk dipraktekkan di lingkungan bermainnya. Kurangnya perhatian orang tua dalam mengontrol yang dilihat dan ditonton oleh anak berpotensi untuk menjadi pelaku perundungan.

Dalam menangani kasus-kasus kekerasan terhadap anak, pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan perlindungan anak. Dalam Undang-Undang Dasar No 34 tahun 2014 pada pasal 9 ayat 1 menyatakan “Setiap anak berhak mendapatkan perlindungan di satuan pendidikan dari kejahatan seksual dan kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik dan pihak lain”. 

Dapat disimpulkan secara gamblang pemerintah menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh perlindungan atas tindakan kekerasan yang dialaminya. Namun, proses penanganan terhadap anak bukan hanya tugas pemerintah semata, dibutuhkan kerjasama berbagai pihak dalam menangani kasus tersebut. 

Dampak buruk dari tindakan perundungan menjadi sesuatu yang tidak dapat diabaikan. Bahkan, korban perundungan seringkali menyembunyikan lukanya dan masih berprestasi dalam bidang akademik. Namun, saat anak korban perundungan diterjunkan langsung atau dituntut untuk melakukan kegiatan yang melibatkan banyak orang akan menyebabkan ia lemah mental dan ketakutan. 

Menurut Nathanson Shame Compass ada empat dampak negatif dari tindakan perundungan. Pertama, korban akan merasa orang lain akan bahagia tanpaku, yang akan menjadikan korban menghindari kerumunan dan sering kali merasa malu. Salah satu tindakan menghindarinya adalah dengan bolos sekolah. Kedua, korban akan bertransformasi menjadi pelaku. Korban yang merasa dirinya terinjak akan berubah menjadi pelaku untuk menunjukkan dirinya hebat. Contohnya, tindakan perundungan senior ke junior. 

Ketiga, merasa diri tidak berguna, trauma yang dihadapi akan menimbulkan pemikiran yang dapat menimbulkan tindakan bunuh diri. Keempat, mengalihkan diri dari realita kehidupan. Korban melakukan penyembuhan secara cepat dengan cara yang kurang tepat. Misalnya dengan tenggelam dalam pergaulan bebas yaitu mengonsumsi alkohol dan obat-obatan penghilang stres. 

Dampak negatif dari tindakan perundungan akan menjadi pembahasan yang membutuhkan solusi. Ada beberapa tip yang dapat diterapkan agar bisa bangkit dan merangkak untuk sembuh dari trauma yang dialami. Bahkan pada tanggal 4 mei diperingati sebagai hari anti perundungan Internasional. Dilansir dari akun Instagram @oasepsy.id mengemukakan bahwa ada 6 proses yang harus dilalui dalam penyembuhan diri sebagai korban perundungan, yaitu:

  1. Penerimaan, dengan cara menerima bahwa pernah mengalami perundungan dan berhenti menyalahkan diri sendiri. 
  2. Fokus pada kelebihan diri sendiri, jangan menghiraukan kata-kata perundungan dari pelaku. Alihkan kegiatan kepada aktivitas-aktivitas yang positif.
  3. Cari dukungan orang yang tepat, korban berusaha menjalin komunikasi dan hadir bersama orang-orang yang suportif.
  4. Carilah bantuan tenaga profesional, jika merasa butuh bantuan tenaga profesional maka jangan ragu untuk menghubungi psikolog/psikiater.
  5. Fokus pada hal-hal yang bisa dikembangkan, ikutilah kegiatan yang sesuai dengan minat dan lakukan pengembangan diri.
  6. Apresiasi diri, sembuh dari luka adalah proses yang panjang dan bertahap. Jadi, selalu beri penguatan dalam diri atas perubahan positif yang terjadi. 

Enam tip diatas adalah proses yang dapat dilakukan korban perundungan untuk move on dari trauma yang dialami. Keberhasilan setiap korban dalam menjalaninya tergantung niat dan konsistensi dalam diri. Sebagaimana dalam penggalan surah Ar-Ra’d ayat 11 yang berbunyi “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka sendiri yang mengubahnya”. Dengan berniat untuk berubah dan menerima diri sendiri dapat menjadi jalan terbaik bagi pelaku untuk sembuh dari trauma yang dialami. 

Editor: Anggia Nurulita

Share article

Latest articles