Taman Kecil Sejuta Bahagia

- Advertisement -

(Kamerawan: Kiki Andrea Putri Hasibuan)

Penulis: Riska Dwi Putri 

Taman kecil dengan lokasi di pusat kota, memberikan kesan yang menarik bagi kota kisaran sendiri. Taman Mantri Ma’djizat namanya. Adalah sebuah teman kecil yang berseberangan dengan tugu bersejarah di kota kisaran. Konon katanya tugu ini sudah berdiri sejak masa penjajahan. 

- Advertisement -

Taman ini merupakan salah satu wahana bermain anak-anak pada malam hari. Karena pada siang hari taman ini terlalu panas dan sesekali digunakan para organisasi islam untuk penggalangan dana yang akan didonasikan ke pihak yang membutuhkan. Kesempatan ini dimanfaatkan para pengais rezeki untuk berjualan mainan dan makanan ringan di sekitar taman.  

Salah satu penjual mainan di taman itu bercerita. “Saya berjualan di taman ini sudah satu tahun lebih, taman ini adalah satu-satunya penghasilan untuk kebutuhan keluarga saya. Pas waktu lockdown taman ini sepi karena kan tidak boleh berkerumun. Sudah hancur hidup saya, tambah hancur lah. Penghasilan dari taman ini tidak menentu terkadang laris terkadang tidak, per lukisan Rp15.000 saja” ujar pak Ade dengan logat bataknya dan raut wajah yang sedih. 

Berbeda dengan bapak penjual sate padang yang baru-baru saja berjualan di sekitaran taman ini. Tempat jualan yang berpindah-pindah membuatnya harus bolak-balik membawa keluarganya untuk ikut pindah, karena harus mencari tempat yang ramai. 

“Dulunya tinggal disini terus pindah ke daerah sungai silo, jualan di daerah sungai silo, gak cocok disana coba di kota lagi pindah kesini jualan disini lagi. Belum ada sebulan berjualan di taman ini dari awal puasalah kira-kira. Yang namanya berjualan, penghasilan tidak menentu kadang rame seperti malam ini, kan soalnya masih banyak lagi sate yang dirumah,” ujar lelaki 58 tahun tersebut.

Tidak hanya penjual lukisan dan penjual sate padang saja, masih banyak beberapa penjual mainan yang bisa dimainkan di taman tersebut. Seperti jasa pinjam sepatu roda, skuter, mobil dengan remot kontrol, temba-tembakan, bahkan untuk berkeliling kota anak-anak bisa menggunakan odong-odong dan delman. 

Untuk harga setiap mainan bervariasi. Rp15.000,- per lukisan dan lukisannya bisa dibawa pulang. Untuk skuter, sepatu roda, dan odong-odong Rp5.000,- per orang, sedangkan delman tembak-tembak an dan mobil dengan remot control hanya Rp10.000,- saja. Sangat terjangkau sekali bukan?

Para pengunjung senang karena anak-anaknya bisa bermain dengan harga yang terjangkau. “Justru dia senang dia yang ngajak kemari, karena kan tempat anak-anak  bermain disini. Sebenarnya standar, ya, harga per mainannya, karena kan yang bermain cuma satu yang satu lagi uda besar, jadi masih bisa lah dijangkau,” kata Ibu Juriah yang beralamat di Sidomukti. 

Sambil menunggu anak-anak bermain, para orang tua bisa sambil duduk dan makan jajanan pinggir jalan yang berjejer rapi di sekitar taman. Dengan harga yang tidak sampai menguras kantong tentunya. Namun, dari pada jajan anak-anak lebih memilih bermain sampai puas dan akan beli jajan ketika pulangnya. “Ya pulangnya la, kalau main gini sambil jajan kan uda gak kepikiran. Pulangnya la baru merengek minta jajan,” Kata Ibu Siti Aisyah yang baru berumur 32 tahun tersebut.  

Dengan lokasi taman yang tidak terlalu luas, para orang tua bisa memantau anaknya agar tidak lari ke jalan. “Kalo disini kan sempit ya namanya anak-anak ya kan mainnya tabrak tabrak an, mudah-mudahan si gak cedera cuman ya sakit juga la. Ya aman lah karna kita awasi kalua gak takut juga lari kedepan sudah jalan, samping jalan, ya selama diawasi amanlah,” ucap Ibu Siti Aisyah sambil melihat-lihat 2 anak gadisnya yang bermain sepatu roda.

Besar harapan para orang tua dan penjual mainan disana agar taman ini terus aktif, karena jika taman ini tutup para pengais rezeki tersebut bingung harus berjualan dimana. Selain alun-alun yang kini sudah tutup, taman ini satu-satunya tempat hiburan anak-anak dan orang tua untuk melepas penatnya belajar daring.

“Ya ini gak sekolah-sekolah pusing awak nang omah, gurunya tahunya memberi kertas mengerjakan di rumah. Mamaknya juga yang merepet kan, sampek anak nya bilang “O mak capek la aku sekolah nulis aja mak, uda la mak aku gak mau sekolah lagi aja capek aku nulis aja mak” kata anaknya gitu,” ucap Ibu Siti Aisyah dengan logat Jawanya yang medok.

“Memang kan anak-anak ini kalau kebanyakan nulis aja jenuh sih beda sama suasana di sekolah, biarpun di sekolah nulis juga tapikan bisa main-main sama kawannya. Apalagi anak-anak ini kan jiwanya jiwa-jiwa bermain tapi ya sudahlah jalani saja. Tetapi herannya sekolah lain udah tatap muka lo biarpun hanya beberapa jam, jadi kan ada kesenangan tersendiri jumpa sama kawannya,” tambahnya menggebu-gebu. 

Editor: Nurul Liza Nasution

Share article

Latest articles