PPMI DK Jember Rilis Dugaan Kasus Kekerasan Seksual

- Advertisement -
(Foto: Dok. Istimewa)

Dugaan kasus kekerasan seksual kembali terjadi, melalui siaran press release Perhimpunan Pers Mahasiswa Dewan Kota (PPMI DK) Jember yang dikeluarkan pada 29 Desember 2021 memberikan pernyataan sikap terhadap dugaan pemerkosaan yang dilakukan oleh salah satu mahasiswa Universitas Jember. Pernyataan sikap tersebut diunggah melalui Instagram @ppmidkjember.

Kasus dugaan kekerasan seksual terungkap pada tanggal 27 Desember 2021 di media sosial oleh ARR, salah satu mahasiswa Universitas Jember. Kasus ini dibeberkan oleh suami penyintas melalui Instagram dan Twitter. Dugaan kasus kekerasan seksual ini terjadi pada 12 April 2019, namun baru terungkap setelah 2 tahun lamanya. Penyintas merasa trauma, depresi, dan sangat terpukul atas kejadian yang menimpanya bahkan, hingga melukai diri sendiri. Penyintas baru berani untuk berbicara,  karena ada dorongan dan dukungan penuh dari sang suami. 

- Advertisement -

Salah satu pengurus Litbang PPMI DK Jember, Ummi Wahyuni mengungkapkan, pihak Birokrat Universitas Jember belum ada respons atas kasus ini. “Untuk saat ini, kami belum melihat adanya respons. Hanya saja, sebelum rilis ini terbit, kasus sudah ditangani oleh Pusat Studi Gender Universitas Jember (PSG Unej),” ungkapnya. 

Lebih lanjut, Ummi juga mengonfirmasi, penyintas dan pelaku merupakan mahasiswa Unej. “Iya, benar merupakan mahasiswa Unej, namun saat ini penyintas sudah tidak berstatus mahasiswa Unej,” terangnya.

Dalam press release PPMI DK Jember menyatakan, mengecam keras dan tidak mentolerir segala bentuk kekerasan seksual di lingkungan kampus, mendesak pihak kampus untuk segera menindaklanjuti dugaan kasus kekerasan seksual perkosaan yang dilakukan oleh ARR terhadap mantan mahasiswa UNEJ. Mendesak PSG dan Rektor UNEJ untuk segera mengimplementasikan Permendikbudristek Nomor 30 tahun 2021.

Selanjutnya, mereka juga mendukung penyintas dan mendorong penyelesaian kasus kekerasan seksual yang mengedepankan perspektif penyintas, utamanya upaya pemulihan yang dialami dan sebagainya. Mendukung dan berjejaring dengan berbagai pihak untuk mengawasi kasus kekerasan seksual ARR hingga selesai dan mendapatkan keputusan yang sesuai kepentingan penyintas. 

Kemudian, Ummi menekankan akan mengawal kasus ini jika belum mendapat respons. “Kami akan mengawal kasus ini bersama dengan beberapa lembaga pers mahasiswa (LPM) di PPMI DK Jember,” tegasnya.

Dalam kasus ini, Ummi juga berharap pihak kampus harus segera mengimplementasikan Permendikbudristek Nomor 30 tahun 2021. “Saya sangat menyayangkan kasus ini, karena lingkungan kampus seharusnya menjadi tempat menuntut ilmu, justru malah terjadi hal seperti ini. Maka, saya berharap pihak kampus segera mengimplementasikan Permendikbudristek Nomor 30 tahun 2021,” harapnya. 

Salah satu mahasiswa UIN Sumut turut menanggapi kasus kekerasan seksual, Tino Ananda yang merupakan mahasiswa Jurusan Hukum Pidana Islam merasa sangat kesal karena mahasiswa seharusnya berakhlak. “Saya sangat kesal, karena mereka mahasiswa seharusnya berakhlak mulia, pendidikan bukan hanya formalitas. Saya rasa dia sudah kehilangan rasa kemanusiaan dan ras menghormati sesama manusia atas haknya,” cetusnya. 

Reporter : Widia Usada dan Desi Amelia 

Editor      : Nurul Liza Nasution

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share article

Latest articles