Foto: www.google.com

Penulis: Syaiful Hadi Pulungan

Bahaya adalah tantangan yang wajib dihadapi oleh anak-anak pondok pesantren. Saban hari jembatan yang telah usang ini digunakan sebagai arena bermain. Tak sedikit bocah yang membuka bajunya sambil tergesa-gesa melompat dari atas dengan gaya atlit loncat indah. Meskipun di bawahnya terdapat batu-batu kali yang ukurannya cukup besar dan kedalaman kali tersebut yang kurang lebih 1,5 Meter.Tiga bocah berseragam batik bergelantungan pada seutas tali tambang yang mulai getas. Tali yang tebalnya tak lebih dari lima sentimeter itu diayun oleh tangan-tangan kecil. Dengan lincah, naik-turun beratraksi layaknya tokoh George dalam film populer kegemaran anak-anak di tahun 1999, Tarzan. Berayun dari pohon satu ke pohon lain, sama persis seperti yang dilakukan tiga bocah ini, marayap pada seutas tali yang menghitam.

Tak heran bila sekumpulan serat bambu tersebut sudah getas dan menghitam, sejak tahun 1980 warga setempat sudah menggunakan jembatan sepanjang 80 Meter ini sebagai jalan pintas sehari-hari. Memang jembatan ini bukan akses satu-satunya, tetapi bila warga melewati jalur darat mereka harus menempuh jarak tujuh Kilometer. Tentunya memakan waktu lebih lama dan melelahkan.

Kisah Dibalik 30 tahun lalu

“Hati-hati mas, licin!,” seru pak Affan mengingatkan saya.

Pria ini mengajak saya pada sebuah jalan menuju desa tetangga. Jalannya belum beraspal, tetapi sudah berkerikil, sepertinya pemerintah setempat sudah pernah mengadakan perbaikan jalan untuk desa ini. Sisanya sepanjang jalan ini dihiasi penuh oleh rumput liar, pepohonan, dan  binatang-binatang kecil yang menggeliat muncul dari celah tanah. Beruntung hari belum petang, sehingga tidak terlalu sulit bagi kami untuk berjalan.

“Ini lihat aja jalan masih begini, lampu tidak ada, apalagi jembatan, neng,” ucapnya meninggalkan desah.

Sisa kenangan tiga puluh tahun lalu bersama jembatan rakit masih jelas tergambar di atas kening pria setengah abad yang mengabdikan dirinya demi sebuah fasilitas desa. Sesekali dahinya mengerutkan tiga garis lengkung ketika menyebut fasilitas apa saja yang belum terpenuhi.

“Ya kurang lebih di tahun 80-an, jembatan itu sudah ada dan aktif digunakan oleh warga,” tutur Affan Effendy, pria yang menjawab semua rasa penasaran saya tentang jembatan.

Affan Effendy mengaku menjadi saksi usia jembatan itu  semenjak dirinya membangun bahtera rumah tangga dengan Iin di tahun 1987. Tak heran bila jembatan ini sederhana adanya, warga secara inisiatif membangun dan merawatnya secara mandiri selama 33 tahun. Tidak ada campur tangan pemerintah daerah saat pembangunan awal, hanya sesekali pemerintah memberikan tunjangan tak lebih dari satu juta rupiah untuk perbaikan tahunan.

“Ini murni aset warga, mas. Pemerintah mana ada ikut bangun. Ya, dulu pernah sekali kasih tunjangan, sejuta, itu sudah lama waktu banjir bandang, tepatnya tahun berapa lupa, mungkin 2004,” tutur Affan Effendy.

Melihat kondisi jembatan yang sudah usang Affan berkata bahwa tidak sedikit usaha yang dilakukan oleh warga untuk terus membangun jembatan permanen. Ya, sesederhana bahan material yang digunakan untuk membangun jembatan rakit. Tali tambang setebal lima sentimeter itu digunakan sebagai pengait badan jembatan. Pengait  yang berfungsi sebagai fondasi utama jembatan pun diragukan kekuatannya. Sebagai alas berpijak, warga menggunakan kayu-kayu sisa bangunan atau kayu yang ditemukan di hutan. Ukuran kayu yang tidak sama menghasilkan alas yang tidak rata dan bercelah. Selanjutnya, kayu-kayu tersebut hanya dijajarkan tanpa dibaut menjadi satu dengan badan jembatan, sehingga sering kali kayu-kayu tersebut bergejolak dan berserakan bila dipijak, terlebih lagi bila dilewati oleh kendaraan bermotor.

“Tidak kurang-kurang. Banjir bandang datang tiap tahun, dan pasti hanyut jembatan kami. Jadi rasanya seperti sia-sia kalau diperbaiki terus-menerus,” keluhnya mengenang kisah merawat jembatan.

Suka dan duka merawat jembatan turut dirasakan oleh Ayah dari seorang anak ini. Katanya, setiap tahun banjir bandang datang dan menyapu jembatan rakit desa tercinta. Kemudian jembatan yang memang diragukan kekuatannya itu hanyut bersama air kali yang meluap tak diharapkan.

30 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengajukan sebuah permohonan. Berpuluh-puluh tahun tidaklah sebentar untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Affan pun mengaku sudah puluhan proposal diajukan hanya untuk mewujudkan satu jembatan impian. Jembatan yang diidam-idamkan warga setempat selama ini.

Berbagai usaha sudah dilakukan. Penggalangan dana mandiri oleh warga ternyata tidak mencukupi biaya perawatan jembatan yang sederhana itu. Satu-satunya hanyalah bantuan dari pemerintah untuk memperbaiki jembatan tersebut menjadi permanen. Berkali-kali diskusi warga digelar, sering kali terdapat visit oleh pemerintah daerah. Namun, semua itu hanyalah harapan.

“Per kepala keluarga setiap bulan ditarikin 5000 rupiah,” ujarnya

Ketika usaha berbanding terbalik dengan ekspektasi yaitu ketika pemerintah hanya melegakan masyarakat dengan jawaban iya dan harapan-harapan yang dibuihkan melalui janji. Janji pembangunan infrastruktur teratur untuk masyarakat makmur. Dimulai dari jalan, transportasi, dan jembatan yang diharapkan selama ini.

“Kalau boleh jujur, bapak ini sampai capek, mas,” tukasnya diakhiri dengan tawa ringan.

Editor: Siti Arifah Syam