Ilustrasi : Nada Fitria

Presiden Mahasiswa atau dalam bermacam kosa kata yang dipakai di Perguruan Tinggi merupakan golongan lain dari perwujudan demokratisasi di Perguruan Tinggi. Presma di UIN SU yang dikenal sebagai Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) memiliki peran yang sangat penting. Berdasarkan beberapa ungkapan mahasiswa, perannya mulai dari penyambung lidah antara Birokrat dengan Mahasiswa, serta pelaksana kegiatan-kegiatan yang berbasis kemahasiswaan.

Majalah Dinamika edisi Desember 2016, seperti diungkapkan Muhammad Fadhil, mahasiswa jurusan Ahwal As-Syakhsiyah semester V kala itu berpendapat, DEMA memiliki posisi penting dalam kampus. “Adanya DEMA di sebuah kampus sangat diperlukan karena berfungsi sebagai aspirasi bagi mahasiswa, tentunya dengan tidak adanya DEMA maka sulit bagi mahasiswa untuk menyalurkan ide-idenya pada kemajuan kampusnya,….” Katanya kala itu dan kini di tingkat 4 (semester VIII).

Pakar Politik dan Guru Besar Media Studies dan Komunikasi Universitas Airlangga, Prof. Rachmah Ida, M.Comms, P.hD menilai keberadaan DEMA menjadi salah satu tolok ukur penilaian akreditasi. “DEMA menjadi salah satu syarat penilaian akreditasi program studi dan universitas. Jika tidak ada DEMA, berarti tidak demokratis kampus tersebut.” paparnya via e-mail pada akhir tahun 2016 silam.

Terakhir kali penyelenggaraan Pemilihan Presiden Mahasiswa meliputi SEMA dan DEMA UIN Sumatera Utara pada tiga tahun silam. Layaknya susunan drama panjang dengan rentetan episode, kini drama itu telah usai dan hanya perlu menunggu tindakan nyata atas terbentuknya Presma yang baru. Sedang kejadian pada waktu itu pada pemilihan tahun ini kembali terulang.

Pemilihan berjalan sesuai dengan kerangka acara. Namun, pelanggaran soal pelaksanaan kegiatan pemilihan yang rutin dilaksanakan setiap tahun ini kembali terjadi. Ulangan itu adalah “Pemilihan ricuh” antar pendukung calon.

Senin malam (16/4) saat azan maghrib tengah berkumandang, tampak rombongan mahasiswa sedang menunggu di halaman Gedung Pusat Bimbingan Bahasa Arab (Pusbinsa). Sedangkan dari dalam gedung, di lantai 2 sedang melakukan proses penghitungan suara. Proses penghitungan suara dilakukan secara transparan dimana setiap calon didudukkan dihadapan para pendukung dipandu oleh Panitia Pelaksana Pemilihan SEMA dan DEMA 2018. Reporter Dinamika menjadi peliput dan dokumenter seluruh proses penghitungan suara. Sekaligus menjadi bahan publikasi yang akan disampaikan dalam bentuk berita yang boleh jadi dibaca atau disaksikan mahasiswa dan masyarakat luas.

Yah, teriakan penanda suara terbanyak belum diumumkan. Diatas dan di bawah, suara-suara ribut menggelegar sehingga antara suara azan dan suara mahasiswa beradu. Alhasil, kumandang azan penanda ajakan untuk beribadah pada Allah pun dihiraukan, suara mahasiswa justru mengalahkan suara azan.

Hal serupa mengarah pada tindakan anarkis mahasiswa pendukung salah satu calon. Mahasiswa FITK ribut di bawah adalah untuk melakukan provokasi terhadap KPU. “Mereka gak terima hasilnya. Padahal perkara menang atau kalah kan sudah sesuai pilihan HMJ, itu anak FITK bang,” jelas Mahasiswa yang sedang berdiri di parkiran belakang FUSI.

Sebelumnya, dari pesan singkat pengirim rahasia kepada salah seorang Reporter Dinamika menyebutkan. “Hati-hati kalian, bakalan ada keributan pada penghitungan suara ini. Pasti ada pihak yang tidak setuju pada pemilihan Presma,” sekiranya disampaikan dari chat pribadi pada WhatsApp pada Senin pagi (17/4).

Menariknya pemilihan ini dapat disaksikan dari dalam ruangan Aula Pusbinsa akibat  kerusakan yang membekas, belum lagi di pintu masuk gedung dirusak mahasiswa yang bersengketa. Kaca pintu masuk pecah akibat ulah mahasiswa. Akibatnya, kaca-kaca bertebaran berkeping-keping jelas bahaya dimasuki untuk sementara. Bukan tanpa pengawasan, penghitungan suara ini dijaga ketat oleh Satuan Pengaman (Satpam) UIN SU di pintu masuk ruangan penghitungan suara, di dalam ruangan dan di depan gedung. Karena emosional salah satu pendukung calon, amukan tak dapat terbendung.

Sedangkan dari dalam gedung, di depan pintu masuk ruangan super tertutup itu membalas amukan mahasiswa dari kubu salah satu calon dengan suara-suara keras. “Saya gak terima ini kalau begini. Tanganku sudah berdarah,” Amarah mahasiswa berbaju kemeja petak.

Kericuhan dalam momentum Pemilihan SEMA dan DEMA UIN SU 2018 ini meninggalkan catatan buruk untuk periode selanjutnya. Berbicara tentang korban luka, sejauh pantauan Reporter di tempat kejadian, tercatat lebih dari tiga orang yang mengalami luka baik dalam skala goresan maupun luka lebam dan luka ringan.

Pemilihan ini sebagai cerminan untuk pemilihan tahun akan datang. Terulang atau tidaknya chaos ini pada pemilihan serupa untuk tahun depan membuktikan kebobrokan proses berdemokrasi di kampus berlandaskan kepada kitab suci Alqur’an dan syariat Islam. Tentu ini akan mengantarkan pada masa depan UIN SU “Juara”.

Pemilihan Presiden Mahasiswa meliputi SEMA dan DEMA UIN SU 2018, jika  flashback  ke belakang, LPM Dinamika serius menerbitkan 3 edisi pada tiga tahun terakhir. Alhasil, tidak ada eksekusi dari Birokrat dengan berbagai alasan. “Karena pengalaman tahun lalu tidak berhasil, kepinginnya sih kita maunya dari mahasiswa saja, karena kan yang mau dipilih itu presiden mahasiswa.” Tutur Amroeni Drajat mengutip pada majalah Dinamika edisi Januari 2018 lalu.

Dari hasil penghitungan suara, setelah disaksikan suara dimenangkan oleh Muhammad Azhari Marpaung dari Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) semester VI. Sebanyak 25 suara berhasil menjadikannya sebagai Ketua DEMA terpilih untuk periode 2018/2019.

Reporter : Rahmanuddin dan Muhammad Ibrahim

Editor      : Ridha Amalia

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry