Foto: www.google.com

Penulis : Sugi Hartini

Dijargonkan bahwa diam itu adalah emas. Setelah dipertimbangkan tak selamanya perkataan dan yang tenar tersebut benar, untuk itu ambilah sikap pertengahan yaitu terkadang diam yang bisa mengandung nilai seperti emas tapi terkadang diam juga adalah kerugian bagi diri maupun orang lain.

Disaat tertentu saja ada baiknya bersikap diam dan kebaikan itulah yang menjadikan diamnya diri bernilai emas. Sebaliknya, sewaktu dibutuhkan untuk tidak diam tetapi tetap memilih diam sementara diamnya mendatangkan kerugian bagi diri sendiri maupun orang lain, maka emas itu telah berubah menjadi besi berkarat yang bukannya beharga tetapi malah dapat mencederai diri.

Pilihlah situasi dan kondisi yang mengharuskan untuk bersikap diam dan diam tersebut bernilai emas yang beharga. Pertama, diam dari perkataan yang sia-sia, maksiat dan mendatangkan dosa. Perkataan-perkataan yang dimaksud adalah yang melanggar Syariat Islam seperti ghibah, hinaan, caci maki, perkataan dusta serta kata-kata yang menyakiti orang lain.

Kedua, diam dari segala hal yang sia-sia (tidak bermanfaat) perbuatan yang dimaksud adalah kegiatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Misalnya memilih nongkrong bersama teman di suatu kafe daripada masuk pada jam perkuliahan. Dengan berdalih sambil mengerjakan tugas disituasi tersebut tetapi alhasil tidak ada satupun pembahasan dan prihal tugas ketika sudah asyik berbicara dengan teman kumpul. Mengahabiskan waktu berjam-jam tanpa adanya kegiatan yang bermanfaat, dan dalam hal tersebut dapat dikatakan insan yang merugi.

Ketiga, diam dari perkataan atau perbuatan yang tidak baik ataupun yang menjerumuskan dalam dosa besar, itulah diam yang menjadi emas. Tak heran kita mengerti tentang “Tidurnya orang puasa adalah ibadah” karena ketika tidur orang yang berpuasa dapat meminimalisir melakukan perbuatan yang sia-sia ataupun maksiat. Namun demikian, bukan berarti ibadahnya orang puasa adalah tidur karena tentu lebih utama melakukan ibadah-ibadah sunah daripada tidur.

Tak selamanya diam itu emas, ada saat-saat di mana diamnya diri bisa menimbulkan masalah. Dengan kata lain ada saat di mana diri harus berkata atau bertindak dan tidak sekedar diam karena boleh jadi perkataan dan perbuatan diri dibutuhkan oleh orang lain yang melihat dan mendengar. Pada saat seperti inilah maka diam bukan merupakan pilihan yang bijak, tetapi “Tidak diam” adalah pilihan yang harus dilakukan. Selain itu, berbanggalah menjadi diri yang bermanfaat bagi orang lain dengan cara mengerti saat dan situasi bagaimana harus diam ataupun bertindak.

Saat di mana diri harus bertindak adalah ketika harus menyampaikan kebenaran, berdakwah, amar ma’ruf nahi munkar, menunaikan hak orang lain dengan segala bentuk kebaikan lainnya. Seperti inilah sangat dilarang untuk diam saja, tetapi sebaliknya harus bergerak segera, bertindak dan berbuat, karena no action nothing happen.

Tidak terlepas dari hal itu, apabila diri melihat orang lain diam untuk melakukan kebaikan, maka tugas yang lebih paham adalah mengingatkannya, karena mendiamkan seseorang yang berbuat salah adalah termasuk dosa. Untuk itu, tidak ada alasan lagi untuk diam dan perpangku tangan, inilah saatnya diri bergerak memulai aktivitas  setelah sekian matang rencana yang disusun untuk menggapai visi dan misi yang bermanfaat. Bergeraklah dengan sebaik-baiknya kalimat yang tepat untuk memulai kebaikan.

Editor             : Shofiatul Husna Lubis