Di – Lost /1/

Ilustrator: Mhd. Haris

Penulis: Khairatun Hisan

Perihal pertama: Dikenalkan

Huhu…. Huhu… huhu…

Tangis perempuan itu benar-benar menganggu, lelaki itu langsung menikamnya tanpa aba-aba. Mati sudah perempuan itu, tenang sudah pikiran lelaki itu.

Ia harap, tak seorang pun bisa menemukan jasad perempuan nanti.

***

Pagi ini benar-benar melelahkan, padahal aku baru saja memulai pagi. Ingin kusudahi hari ini, tapi tak bisa. Bangkit aku dari tempat tidur lalu bergegas untuk mandi, aku tak ingin telat hari ini. Pagi sudah menunjukkan pukul 07:15, langsung aku beranjak pergi dari indekos yang sudah ditempati bertahun-tahun. Mobil bututku sudah berdiam diri selama seminggu di depan kos ku dan kali ini aku akan mengendarainya.

Sesampainya di tempat kuliahku, temanku sudah menungguku di parkiran.

“Woi, lama amat dah lu, cape nih,” keluhnya,

“Ya, suruh sapa lu nunggu gua, buset dah.” kataku,

“Yuk cabut, dosen dah nungguin” ajaknya. Ah iya, temanku namanya Dito. Baru saja ku kenal pada masa kuliah ini.

Ketika kami berjalan menelusuri koridor, kami terdiam melihat satu poster yang menarik perhatian kami.

Baca juga: Addin Edisi 298: Munajat di Bulan Rajab

“TELAH HILANG” begitu tulisannya.

“Buset, ilang lagi. Lama-lama kosong nih kampus. Ilang semua mahasiswanya boy,” ketus Dito

“Udah berapa banyak sih yang hilang beberapa bulan ini? Pihak kampus tidak mencari apa?” kesalku.

Benar-benar tidak wajar sudah tiga bulan lima mahasiswa hilang dan pihak kampus tidak tahu menahu.

“Yuk cabut, udah ditanyain nih kita di mana.” ajak Dito

***

“Selamat pagi pak” sapa Dito kepada dosen pembimbing kami yang tenyata sudah menunggu kedatangan kami di mejanya.

“Selamat pagi juga, kalian mahasiswa saya ya?” tanyanya,

“Iya pak, perkenalkan saya Dito Winanta” kata Dito,

“Dan saya Arya Setyo” lanjutku.

Bapak itu ikut berdiri seperti kami dan memperkenalkan dirinya.

“Baiklah, perkenalkan nama Bapak Pramana Satyo, nama kita kembar ya Arya, Setyo Satyo. Haha” katanya sembari tertawa.

Kami pun ikut tertawa padahal sebenarnya tidak ada yang lucu, tapi kalau kata Dito tertawa saja itung-itung menghargai lelucon si bapak.

“Ah iya, ngomong-ngomong jangan canggung dengan saya, kita bisa merokok bareng kalau kalian mau” ajak pak Pram,

“Maaf pak, kami cowo baik-baik tidak hobi merokok hehe” balas Dito,

“Waduh kalian benar-benar cowok yang langkh, haha jarang loh cowok tidak ngerokok, bagus sih haha” pak Pram lagi-lagi tertawa.

“Ohiya Dito dan Arya, kalian berasal darimana?” tanya nya,

“Saya berasal dari Magelang, sedangkan Dito berasal dari Semarang” jawabku

“Wah, jauh juga. Kenapa kalian kuliah di sini?” tanyanya

“Saya sudah lama tinggal di sini pak, makanya bisa kuliah di sini.” jawabku lagi

“Pak, kami izin dulu mau masuk kelas takut terlambat” izin Dito

“Yasudah, nanti selesai masuk kelas, kabarin saya biar kita ketemu lagi” kata pak Pram.

Baca juga: Aku Ingin Selalu Didekatmu, Laika

Akhirnya aku dan Dito beranjak pergi dari kantor pak Pram. Dito melihat pacarnya mendatangi Dito dengan senang hati seakan sudah menemukan pasangan hidupnya.

“Lama banget keluarnya, ngapain ajasih?” tanyanya

“Biasa, ngomong-ngomong aja” jawab Dito

“Ca, ngapain sih ke sini? Ganggu banget lu, masuk kelas sana” ketusku

“Apasih lu Ya, heboh banget. Makanya cari pacar biar tidak ngerasa jadi nyamuk” jawab Irca dengan kesal.

Ya, namanya Irca. Irca dan Dito memang sudah lama berhubungan, katanya sih sejak SMA.

“Denger tuh, Sasa jangan digantungin mulu napa dah, kasian” usul Dito yang benar-benar membuatku kesal.

“Dah ah cabut, males liat lu bedua. Gua pergi, bye” ketusku langsung beranjak pergi meninggalkan  dua sejoli yang sedang mabuk asmara.

***

Aku melewati koridor itu lagi, di mana ada sebuah poster yang menggangguku lagi.

“Sudah lama, aku akan menjumpaimu lagi” senyum ku pada poster itu.

Aku beranjak pergi meninggalkan poster itu dan pergi masuk ke kelas.

Ada perempuan mengintip di balik tembok koridor melihat apa yang Arya lakukan, ternyata yang mengintip adalah Sasa, orang yang menyukai Arya.

“Arya liat apa sih? Kepo gua” tanya Sasa dalam hati, Sasa langsung menuju koridor melihat apa yang dilihat Arya tadi. Sasa kaget bukan main setelah melihat apa yang terpampang di mading itu. Ia makin ketakutan melihat sebuah poster yang mengerikan itu, ia tak percaya Arya senyum kepada poster ini.

“Arya senyumin ini tadi kan? Ada apa ini?” gumam Sasa sambil ketakutan.

Bersambung …

Editor : Rindiani

Latest articles

Daring, Budaya Baru Dunia Pendidikan

  Penulis : Rindiani Sistem pembelajaran daring merupakan implementasi dari pendidikan jarak jauh dalam jaringan. Budaya baru dunia pendidikan ini pun diharapkan dapat meningkatkan pemerataan akses...

Guru Cinta: Mengajar dengan Hati

Judul : Catatan Kecil Pengajar Muda Penulis : Tim Indonesia Mengajar Penerbit : Gagas Media Tahun Terbit :  2013 Tebal Buku : 418...

Ramadan di Tengah Pandemi, Ajang Kembali Pada-Nya

Penulis : Sri Julia Ningsih Barangkali, kita telah melewati bulan Muharram, Safar, Rabi'ul awal, Rabi'ul akhir, Jumadil awal, Jumadil akhir, Rajab, Sya’ ban dengan mengejar...

Addin 304: Islam Agamaku, Islam Jalan Hidupku

Penulis: Kiki Fatmala Islam adalah agama terakhir yang diturunkan Allah melalui malaikat Jibril dan disampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam kepada umatnya sebagai peraturan...

Gelar Diskusi Daring, HIMPROSI: Tingkatkan Kesadaran Keamanan Data Pribadi

Medan, Dinamika Online – Himpunan Program Studi Sistem Informasi (HIMPROSI) UIN SU mengadakan diskusi mahasiswa secara daring dengan mengusung tema “Meningkatkan Kesadaran Akan Keamanan...

Newsletter

[tdn_block_newsletter_subscribe description=”QmVybGFuZ2dhbmFuJTIwdHVsaXNhbiUyMHRlcmJhcnUu” input_placeholder=”Masukkan email anda” btn_text=”Subscribe” tds_newsletter2-image=”753″ tds_newsletter2-image_bg_color=”#c3ecff” tds_newsletter3-input_bar_display=”row” tds_newsletter4-image=”754″ tds_newsletter4-image_bg_color=”#fffbcf” tds_newsletter4-btn_bg_color=”#f3b700″ tds_newsletter4-check_accent=”#f3b700″ tds_newsletter5-tdicon=”tdc-font-fa tdc-font-fa-envelope-o” tds_newsletter5-btn_bg_color=”#000000″ tds_newsletter5-btn_bg_color_hover=”#4db2ec” tds_newsletter5-check_accent=”#000000″ tds_newsletter6-input_bar_display=”row” tds_newsletter6-btn_bg_color=”#da1414″ tds_newsletter6-check_accent=”#da1414″ tds_newsletter7-image=”755″ tds_newsletter7-btn_bg_color=”#1c69ad” tds_newsletter7-check_accent=”#1c69ad” tds_newsletter7-f_title_font_size=”20″ tds_newsletter7-f_title_font_line_height=”28px” tds_newsletter8-input_bar_display=”row” tds_newsletter8-btn_bg_color=”#00649e” tds_newsletter8-btn_bg_color_hover=”#21709e” tds_newsletter8-check_accent=”#00649e” tdc_css=”eyJhbGwiOnsibWFyZ2luLWJvdHRvbSI6IjAiLCJkaXNwbGF5IjoiIn19″ embedded_form_code=”YWN0aW9uJTNEJTIybGlzdC1tYW5hZ2UuY29tJTJGc3Vic2NyaWJlJTIy” tds_newsletter1-f_descr_font_family=”521″ tds_newsletter1-f_input_font_family=”521″ tds_newsletter1-f_btn_font_family=”521″ tds_newsletter1-f_btn_font_transform=”uppercase” tds_newsletter1-f_btn_font_weight=”600″ tds_newsletter1-btn_bg_color=”#4587a0″ descr_space=”eyJhbGwiOiIxNSIsImxhbmRzY2FwZSI6IjExIn0=” tds_newsletter1-input_border_color=”rgba(0,0,0,0.3)” tds_newsletter1-input_border_color_active=”#727277″ tds_newsletter1-f_descr_font_size=”eyJsYW5kc2NhcGUiOiIxMiIsInBvcnRyYWl0IjoiMTIifQ==” tds_newsletter1-f_descr_font_line_height=”1.3″ tds_newsletter1-input_bar_display=”eyJwb3J0cmFpdCI6InJvdyJ9″ tds_newsletter1-input_text_color=”#000000″ tds_newsletter1-input_border_size=”eyJwb3J0cmFpdCI6IjEifQ==”]