Foto: www.google.com

Penulis: Enggar Tyas Untari

Bukan seperti yang kalian bayangkan. Kalau kalian tahu sakitnya, tak ingin kalian lakukan bahkan mencobanya. Bagaimana denganku? Alasannya…

***

Masih terlalu pagi di mana aku harus melihat goresan panjang berwarna merah yang tercetak jelas di pergelangan tangan Yuna. Dia adalah gadis yang bertubuh tinggi, tegap dan layak untuk masuk sekolah kepolisian meski ia tak berniat. Sulit, katanya ia sulit menerima dirinya sendiri, apalagi jika orang membicarakan perihal tubuh, ia lelah dikatakan gemuk.

“Tanganmu,Yun.” Aku tertegun. Tak suka melihat daging yang tergores jelas seperti itu.

Gak papa ah Han. Ntar kan kering sendiri”. Ia menyahut. Lengkungan lesung di bibirnya tercetak jelas. Tapi, sorot matanya seolah menyembunyikan sesuatu. Ah aku tak peduli. Aku benci orang lemah seperti itu yang gemar bertingkah seperti yang orang sedang depresi. Satu lembar plester ku rogoh dari tas, lalu ku rekatkan di kulit yang dagingnya terlihat tadi.

“Jangan menyakiti diri terlalu banyak,” gumamku sembari merekatkan plester. Dia tak bersuara, ku lihat bola matanya mengikuti arah pergerakan tanganku. “Gadis sepertimu dilarang lemah,” lanjutku. Setelah itu, ku tinggalkan dia di koridor sekolahku yang mulai terlihat sepi.

***

Aku adalah salah satu wanita yang suka korean wave, mulai dari k-drama, k-popnya maupun budayanya. Aku hanya suka, bukan pecinta akut yang rela mengorbankan uang saku demi menonton mereka. Itu bukanlah tipeku sama sekali, jangankan pergi beli tiket, membeli k-stuff nya saja aku tak mau. Menurutku, untuk apa membelinya jika akhirnya aku gengsi memakai atribut-atribut tersebut. Yuna juga suka, tapi lebih akut yang hampir mendekati ke arah pecinta. Dia banyak meniru gaya hidup bintang korea karena dia lahir dari keluarga yang serba berlebih. Katanya, gayaku sama sekali bukan layak disebut k-popers. Aku tak peduli, sudah ku katakan aku tak peduli apapun selagi tak mengusik hidupku.

Yuna adalah pecinta yang menurutku sedikit lebay. Entahlah, padahal baru 3 bulan lalu dia mendeklarasi kalau dirinya k-popers dengan menstalking sana-sini. Memang tidak salah, selama itu tidak mengganguku, tapi aku benci dikata tidak update. “Hei, Yuna kau harus tahu kalau hidupku bukan hanya untuk sekolah dan pulang, tapi aku harus hidup di organisasi yang menuntut banyak”. Sebenarnya aku ingin sekali berteriak seperti itu tiap kali dia mengumpat perihal ketidakupdateanku.

“Papa mamaku berantem lagi tadi malam”. Wajahnya murung, seperti kemarin ketika ku rekatkan plester di pergelangan tangannya.

“Masih nyayat diri lagi?” tanyaku cuek.

“Dikit aja,” jawabnya.

“Apa sih rasanya?” sambil menarik lengan kirinya. Tiga garis yang dia buat tempo hari sudah tertutup, sekarang ada satu goresan lagi, tidak parah tapi menganggu psikologisku. Aku pusing tiap melihat luka yang sengaja dibuat seperti itu.

“Waktu kugores ga terasa apa-apa. Rasanya kayak beban hilang seketika,” jawabnya santai.

“Astagfirullah..” gumamku pelan. Entah mengapa belakangan ini aku menyimpan banyak  plester dalam tasku. Hanya waspada kalau tiba-tiba tanganku terluka. Biasanya aku selalu menyenggol ataupun menjatuhkan barang di sekitarku tanpa sebab. Dan saat ku rekatkan plester tersebut. Dia hanya manut tak bersuara.

“Kalau rasa nikmatnya lebih dari tidur siang. Aku mau coba”. Ledekku. Aku menyinggung tidur siang sebab tak ada jatah lagi untuk aku tidur siang.

***

Aku memang tidak pernah tahu bagaimana rasanya diserang depresi. Sejak kecil, keluargaku selalu dihantam masalah yang sungguh di luar kuasaku untuk menyelesaikannya. Begitu pula dengan orang tuaku. Tidak ada manusia yang terlahir  bebas dari masalah, tergantung dari caranya menyelesaikan dan kepada siapa ia harus meminta pertolongan maupun perlindungan. Aku terlahir bukan dari keluarga yang ahli agama, bahkan ibukulah yang memperkuat agama. Dialah yang mendidik kami untuk menggantungkan segalanya pada agama.

Bicara mengenai Yuna, aku mulai menggeser bangku mendekati Dania, teman sebangkuku. “Dan, kayaknya pagi ini aku mau bicara sedikit serius”. Bisikku. Dania mulai menautkan kedua alisnya, mata besarnya pun menyoroti pupilku dengan penuh tanya.

“Ada apa?”  akhirnya dia bersuara setelah 1 jam menggambar.

“Yuna selalu menggores-gores tangannya pake silet gitu,” kataku sambil membayangkannya dengan bergidik ngeri. Sesekali aku melongok ke arah pintu, mengawasi datangnya Yuna.

Dania seperti tidak ingin membuka suara, ku senggol lengannya sampai dia memutar bola matanya. “Aku tahu. Tapi aku gak suka dengan cara dia. Norak tau! Aku juga punya masalah, kau juga, dia juga. Manusia memang semua punya masalah. Aku bahkan gak tahu spesifik masalah di rumah dia apa? Hidup lumayan cukup, minta ini itu dikasih, dia juga sering cerita seperti kemarin malam yang makan di luar dengan keluarganya. Atau jangan-jangan selama ini cerita bahagia itu dia setting? Dia buat seolah-olah kejadiannya kayak gitu padahal enggak ada sama sekali?” katanya dengan wajag kesal.

“Huss!” kataku. Dania benar-benar memuntahkan kekesalannya, begitupun denganku.

Belum genap 10 detik, Dania menghentikan luapan kekesalannya, Yuna sudah melewati pintu. Seperti biasa dia akan langsung duduk di kursinya.

Aku dan Dania hanya meliriknya yang sedang merogoh tasnya. Menarik benda tipis persegi dan headset putih kesayangannya. Setelah itu dia pindah ke sudut kelas tepat di sebelah jendela. Dia sumpalkan headset tersebut dan melipat kedua lengannya tepat di dada. Kepalanya melongok ke luar sambil mendongak, menatap biru langit yang berkombinasi dengan awan  putih yang menyapu beberapa bagian langit. Kami saling tatap, sama-sama menyimpulkan dalam hati, “Sepertinya kondisi hati Yuna benar-benar buruk”.

***

Kim Jong Shin Meninggal

Aku dikejutkan oleh satu postingan dari fanaccount instagram. Kim Jong Shin, salah satu penyanyi korea favoritku meninggal. Lewat berita yang mereka deskripsikan, Jong Shin meninggal karena bunuh diri. Kasus kebanyakan idol korea yaitu depresi. Beberapa artikel juga telah membahas perihal ini, ada yang karena jam terbang tinggi, jadwal latihan yang luar biasa padatnya, dan juga tekanan dari agensi. Semua tentu ada plus minusnya, pekerjaan apapun itu  termasuk menjadi seorang idol sendiri.

Entah kenapa saat itu aku langsung menelepon Yuna. Aku hanya ingin tahu keadaannya.. Seingatku, Yuna adalah orang yang latah. Kerap meniru gaya yang dilakukan idolnya. Jong Shin juga idol Yuna.

Bukan seperti yang kalian bayangkan. Kalau kalian tahu sakitnya, pasti tak ingin kalian lakukan bahkan mencobanya. Bagaimana denganku? Alasannya…

Beberapa detik kemudian, fanaccount merilis surat terakhir Jong Shin kepada salah satu sahabatnya.

Ponselku berdering. Pertanda satu pesan masuk dari Dania.

From : Dania

Kayaknya kita harus banyak-banyak dengerin curhatan Yuna. Mau dia terima atau enggak, setidaknya kita mengingatkan dia soal agama. Yuna itu orang yang rentan, gak punya pegangan kuat soal agama.

Aku tertegun dan mulai sadar bahwa selama ini hanya beropini tanpa merangkulnya…

Editor             : Shofiatul Husna Lubis