Tuhan, Jangan Ambil Saudaraku /2/

- Advertisement -

(Ilustrator: Mustika Khairunnisa)

Penulis: Miftahul Zannah

Dua Minggu cek ke dokter lagi, dokter memvonis Bintang sudah bebas dari penyakitnya dan dinyatakan sembuh. Kami pun bahagia mendengar pernyataan dokter tersebut. Ayah sangat bersyukur kepada Allah karena ini merupakan anugerah yang diberikan kepada Bintang.

- Advertisement -

Kami pun membuat syukuran di rumah atas kesembuhannya Bintang. Bintang terlihat sangat gembira dan semangat. 

“Kak Bintang memang benar-benar sudah sembuhkan?” tanyanya.

Hehehe iya dong dik, Kakak tahu adik Kakak yang satu ini pasti kuat dan benar kamu mampu melawan semuanya,” jawabku.

“Kakak bisa aja buat adiknya senyum-senyum sendiri”.

“Kakak bilang gitu karena kakak peduli dan sayang sama kamu, karena cuma kamu saudara kakak satu-satunya.”

“Iya kak, makasih ya, Bintang bisa semangat kayak dulu lagi. Bintang janji enggak akan jahil sama kakak lagi. Tapi Bintang enggak mau janji kalau kakak bangun kesiangan, tetap Bintang akan ganggu kakak.”

Hehehe, kamu kocak dik, masih ingat itu aja.”

“Iya dong, demi kebaikan kakak juga kan?”

“Iya makasih ya, dik.”

Tiba-tiba ayah datang menghampiri mereka yang sedang asyik tertawa karena pembicaraan mereka tadi.

“Hai, anak-anak Ayah kalian sedang apa sih? Kok Ayah enggak diajak-ajak”.

“Ini nih, Bintang kalau kakak kesiangan dia bakalan ganggu kakak lagi. Padahal, itukan hobi kakak!”

“Oh, itu toh. Bintang benar kak, tidak bagus bangun siang-siang.”

“Iya deh, tetapi gak janji ya”.

Mereka pun tertawa dengan bahagianya, Dera melihat banyak sekali perkembangan kesehatan Bintang. Iya selalu berdoa kepada Allah semoga tidak ada lagi penyakit yang menyerang kepadanya. Karena ia sangat menyayangi saudaranya tersebut, ia tidak mau kehilangannya. Mungkin kemarin-kemarin itu Allah memberikan cobaan kepada kami apakah kami tabah menghadapi ini atau tidak.

Enam bulan berlalu keadaan masih biasa-biasa saja, dan pagi itu Bintang mengajakku untuk lari pagi ke lapangan kota yang ada di daerahku.

“Kak bangun, salat subuh sana. Bintang mau ngajak kakak jalan-jalan.”

“Masih gelap mau jalan-jalan kemana sih?”

“Ada deh, cepat bangunnya nanti habis waktu.”

“Iya-iya deh…kakak bangun.”

Setelah semuanya selesai mereka pun bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan. Mereka pun pamit ke ayah karena hari libur mareka mau jalan-jalan bareng.

“Anak-anak Ayah mau kemana, lari pagi ya?”

“Iya Ayah, Ayah enggak ikut?”

“Gak deh, Ayah lagi banyak kerjaan lain kali ya. Hati-hati kalian.”

“Iya, Yah,” jawab mereka dengan serentak.

Mereka pun berlari-lari kecil, setelah selesai mereka duduk di bawah pohon pinggiran taman kota sambil sarapan dan minum.

“Kak, Bintang senang sekali bisa menghabiskan waktu dengan Kakak.”

“Kamu bicara apa sih? Biasa aja kali.”

“Kak, Bintang mau ngomong sesuatu deh.”

“Iya ngomong apa?”

“Kalau misalnya Bintang sudah enggak ada lagi, apa kakak akan sebahagia ini?”

“Kamu ada-ada aja deh bicaranya. Ya enggak lah, kakak bakalan sedih dan gak mau keluar kamar sampe 2 hari.”

“Lah, kok 2 hari kak?”

“Iya lah, nanti kakak kurus gak makan-makan karena mikirin kamu.”

Mereka pun sama-sama tertawa dengan candaan mereka masing-masing seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Bersambung…

Editor: Adelini Siagian

Share article

Latest articles