Tuhan, Jangan Ambil Saudaraku /1/

- Advertisement -

(Ilustrator: Mustika Khairunnisa)

Penulis: Miftahul Zannah

Dinginnya pagi membuat seorang Dera yang berusia 15 tahun ini ingin tidur kembali, tetapi hal itu selalu gagal karena ada saja yang menggangguku. Dia adalah Bintang, adikku yang usianya lebih muda 3 tahun dariku. Bintang anak yang sangat peduli dengan keadaan sekitar, terutama padaku. Ia selalu membangunkanku apabila tidur terlalu lama. Katanya enggak boleh bangun siang-siang karena akan merusak keadaan tubuh dan membuat tubuh menjadi lesu. Bintang juga anak yang saleh, setiap malam ia selalu mengaji, bahkan kajiannya lebih tinggi dariku. 

- Advertisement -

Kami hanya tinggal bertiga di rumah ini. Hanya ada aku, Bintang, dan ayah. Ibu tidak tinggal bersama kami karena ayah dan ibu sudah lama berpisah dan meninggalkan kami. Setelah bangkit dari tempat tidur aku bergegas mandi dan memakai seragam sekolah. Setelah itu aku dan Bintang akan bergegas sarapan dan pergi ke sekolah. 

Setelah bel pulang berbunyi, seluruh siswa pulang ke rumahnya masing-masing. Aku pulang bersama Tiara, Rani, dan Bella. Mereka adalah temanku sejak Sekolah Dasar hingga sampai sekarang pun kami masih satu sekolah dan satu kelas kembali. Seperti biasa, kami pulang menggunakan angkutan umum. 

Setibanya di rumah, aku mendapati Bintang yang sudah pulang terlebih dahulu. Tidak seperti biasanya, wajah Bintang terlihat pucat pasi.

“Dek, kenapa wajahmu pucat sekali?” tanyaku padanya dengan nada yang khawatir.

“E-Enggak tau, Kak, sepulang sekolah tadi Bintang merasa lemas sekali,” jawabnya dengan terbata-bata.

Tanpa basa-basi lagi aku langsung menghubungi ayah. Setibanya ayah di rumah, kami langsung membawa Bintang ke rumah sakit. Ayah terlihat sangat gelisah, aku terus berdoa yang terbaik untuk adikku, 

Beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruang pemeriksaan dan mengajak ayah ke ruangannya. Tanpa sengaja aku mendengar percakapan dokter dan ayah.

“Dok, bagaimana keadaan anak saya?” tanya ayah pada dokter.

“Sebelumnya saya minta maaf, Pak, saya harus memberikan kabar duka”.

“Kabar duka?” tanya ayah penuh kebingungan.

“Anak bapak terkena kanker darah stadium 2, jadi sebisa mungkin Bapak harus rutin untuk membawanya berobat. Agar kankernya tidak cepat menyebar,” jawab dokter.

Mendengar jawaban dokter tiba-tiba tubuhku terasa lemas seperti tidak berdaya, aku tidak yakin dengan keadaan yang sebenarnya. Air mataku tidak bisa dibendung lagi dan akhirnya mengalir begitu derasnya. 

Dua minggu berlalu, keadaan masih seperti biasa saja, tidak ada perubahan pada Bintang. Setiap seminggu sekali ia harus konsultasi ke dokter, tetapi terkadang ayah membawanya ke pengobatan tradisional. Awalnya dokter menganjurkan untuk melakukan kemoterapi, tetapi Bintang menentangnya dan menangis, akhirnya ayah luluh.

Sebulan kemudian akhirnya Bintang bisa masuk sekolah seperti biasa. Sebenarnya ayah melarangnya tetapi ia memaksa dengan alasan dua bulan lagi memasuki Ujian Nasional karena Bintang sekarang kelas 6. Ayah pun mengizinkannya dengan terpaksa, tetapi ayah berpesan agar di sekolah tidak terlalu lelah, dan jika merasa sakit langsung menghubungi ayah. Bintang pun menyetujui pesan dari ayah.

“Cie… sudah sekolah, akan jumpa dengan teman-temannya, nih,” candaku padanya.

“Ih, Kakak, biasa aja kali,” jawabnya.

“Kamu enggak senang apa ketemu teman-temanmu lagi?” tanyaku.

“Senang, dong,” jawabnya.

Beberapa menit kemudian akhirnya Bintang sampai di sekolah terlebih dahulu, dan Pak Imron yang merupakan sopir pribadi kami mengantarkan aku.

Tiga Minggu sekolah, kelihatannya Bintang mulai terlihat sehat. Senang rasanya bisa bercanda tawa lagi dengannya, tetapi pengobatannya tetap terus berjalan. Dokter bilang Bintang memang anak yang kuat, dan sedikit demi sedikit penyakitnya mulai sembuh.

Dua Minggu kemudian Bintang melakukan pengecekan ke dokter lagi. Dokter menyatakan Bintang sudah bebas dari penyakitnya dan dinyatakan sembuh. Kami pun bahagia mendengar pernyataan dokter, dan ayah sangat berterima kasih kepada Sang Pencipta. Ini merupakan anugerah terindah yang diberikan kepada Bintang.

Bersambung…

Editor: Afrianti Safitri

Share article

Latest articles