Ilustrasi: Lelya Hilda Amira Ritonga

Penulis: Lelya Hilda Amira Ritonga

Pagi yang cerah setelah semalaman kota ini diguyur hujan. Hari Minggu, seperti biasanya, aku selalu pergi mencari tempat yang indah untuk melukis. Hari ini pertama kalinya aku ditemani Bang Asa dengan mengendarai motor tua milik ayah.

Selang beberapa menit kami sampai di sebuah taman. Aku mencari tempat duduk dan mulai mengeluarkan alat lukisku. Saat mengamati sekelilingku, banyak burung merpati  yang tengah mematuki biji-bijian yang diberikan oleh lelaki yang bersamaku. Aku tersenyum melihatnya, kemudian kembali fokus melukis satu objek indah di taman ini.

“Dik, sudah siap belum?” tanyanya sembari duduk di sebelahku.

“Ih belum Bang. Kan sudah Nala bilang jangan ikut, bosan kan jadinya?”

“Enggak kok,” katanya diselangi tawa.

“Kalau mau pulang juga tidak apa-apa Bang. Nala masih lama, sketch bangunannya belum diwarnai,” jawabku.

“Ih ngusir, jangan dong, Abang kembali ke Indonesia hanya ingin bertemu adik kesayangan Abang ini,” katanya sambil mengacak-acak jilbabku yang kusut semakin kusut.

Sifat menyebalkannya ini sempat membuatku berpikir mengapa kakak kelas di SMA-ku banyak yang menyukainya, dan anehnya dari mana mereka tahu bahwa aku tidak pernah mem-posting fotonya di media sosialku?

Lelaki berkulit sawo matang yang menemaniku ini bernama Putra Bangsa. Teman-temannya biasa memanggilnya Putra. Namun, lebih banyak yang memanggilnya Asa. Saat ini ia tengah menjalani S2 di universitas di Pulau Jawa tepatnya bagian teknik.

“Yasudah diam Bang, ini kan jilbab, bukan rambut, aduh makin kusut kan?” cerewetku setelah menghalau tangannya yang besar.

Tiba-tiba ia bermonolog.

“Ya Allah, salah apa hamba punya adik yang gak bisa manis pada abangnya? Padahal abang gantengnya ini rindu setelah 6 bulan gak bertemu,” ucapnya pelan yang masih bisa ku dengar sebab jarak kami yang tidak terlalu jauh.

Setelah satu jam aku menggerak-gerakkan jemari dengan lincah, live sketch-ku akhirnya selesai. Kemudian kami memilih pulang, namun sebelum itu kami singgah ke warung bakso langganan Bang Asa.

Hal ini tentu tidak diketahui oleh bunda, sebab jika tahu kami pasti dimarahi karena takut dengan berita simpang siur daging tiren.

***

Hari menjelang sore, dahulu saat seperti ini Bang Asa  selalu pergi bersama teman-temannya entah ke mana dan kembali larut malam. Namun, kali ini ia mengajakku menemui teman berandalannya. Tentu aku menolak.

Tapi, nyatanya di sinilah aku sekarang, duduk sembari mengamati sekumpulan orang yang bermain bola di atas motor Bang Asa. Hal ini benar-benar membuatku kesal, tapi sudahlah, sekalian aku cuci mata.

“Dik, keren gak abang?” cengirnya setelah memasukkan satu bola ke gawang lawan. Percaya dirinya melebihi Raffi Ahmad.

“Enggak” jawabku cepat.

“Ah bilang saja keren,” godanya

“Pulang yuk bang!” ajakku malas. Sembari menyodorkan botol minum.

“Iya, ternyata adik abang yang gendut ini sudah lapar. Sepuluh menit lagi ya tanggung,” katanya sambil nyengir mengembalikan botol minum yang tersisa sedikit.

Aku menyesal menerima ajakannya, jika aku tahu hanya akan berakhir untuk menontonnya bermain bola, lebih baik aku di rumah menontot TV.

Hatiku semakin kesal sebab yang mengajakku pergi dengan yang mengantar pulang adalah orang yang berbeda.

Ah kenapa Bang Asa seperti ini? Dahulu ia selalu melarangku dibonceng selain dengan ayah dan dia. Namun, sekarang tidak sesuai ucapannya. Untung yang memboncengku wajahnya manis, bisa-bisa salah fokus aku.

Aku masih ingat pesan lelaki menyebalkan itu sebelum aku pulang.

“Dik, pulangnya sama Bang Zaki ya? Dia searah ke rumah kita. Abang ada rencana dadakan,” cengirnya yang tak pernah lupa.

“Ingat, jangan pegangan ke dia. Pegangan ke jok belakang aja,” ancamnya.

Setelah mengantarku pulang, Bang Zaki langsung izin pamit pada bunda yang sedang minum teh di taman depan rumah.

“Pulang ya bun, ” ucapnya pamit.

***

Malam sudah semakin larut. Bang Asa belum juga menunjukkan tanda-tanda kepulangan. Aku khawatir padanya, hingga ku dekati bunda dan merengek.

“Bang Asa belum pernah pulang selama ini bun,” rengekku menggoyang-goyangkan lengan bunda.

“Iya. Sebentar lagi, Bang Asa bilang masih di jalan,” tuturnya.

“Yakin besok dia balik ke Jawa bun? Sehari sebelum pergi dia terus bersama temannya bukan dengan Nala,” kataku.

“Tadi pagi kan sudah ditemani ke taman. Tadi sore juga diajak ke lapangan, terus Nala sendiri yang minta pulang,” kata bunda.

“Harusnya Bang Asa pulang juga Bun,” kesalku lalu balik ke kamar.

***

Pagi harinya kami sarapan dengan menu istimewa ikan gurami asam manis kesukaan Bang Asa. Sudah seminggu ia di sini. Dan nanti siang ia akan kembali ke Jawa. Aku tidak tahu jam berapa ia pulang, rasanya ingin bertanya namun masih kesal.

“Bunda, adiknya abang kok merengut bun. Padahal abangnya mau pergi,” katanya dengan suara manja.

“Nala…” tegur Bang Asa.

“Hem.. apa sih Bang. Kalau mau pergi ya pergi saja. Harusnya tadi malam gak usah balik ke rumah. Pergi langsung ke bandara aja biar gak repotin orang rumah,” ketusku.

“Jangan marah dong Nala, Abang tadi malam mampir ke Indoseptember beli coklat Nala, tu ada di kulkas. Itu coklat terakhir sebelum Abang pergi”

“Ih emangnya aku gampang disogok”

“Emang” jawabnya enteng.

“Sudah-sudah, cepat makan sarapannya,” suara berat ayah menengahi kami.

“Iya, Yah..” jawab kami serempak.

***

Hari sudah sore. Harusnya bang Asa sudah sampai di Jakarta, tapi gawai yang ku pegang ini belum berdering juga. Biasanya, aku adalah orang pertama yang dihubunginya setiba di Jakarta. Tapi, kali ini entah mengapa ia lama menghubungiku. Aku mulai khawatir.

Untuk menghilangkan kejenuhan, aku memilih menonton TV sembari menunggu telepon dari Bang Asa.

Tiba-tiba seorang lelaki dengan jas hitam dari saluran TV mengabarkan berita bahwa telah terjadi kecelakaan pesawat. Sepontan aku terdiam, tak sanggup mendengarnya. Pikiranku seketika kacau, setetes demi setetes air mataku jatuh di pipi, tiba-tiba tubuhku terasa berat.

Melihatku yang kacau, bunda datang dari arah dapur. “Ya ampun anak bunda kenapa?” khawatirnya.

Kemudian bunda memutuskan hubungan dengan seseorang di sebrang sana.

“Bun, Bang Asa bun,” kataku dengan berat.

“Kenapa Bang Asa, nak?” tanya bunda heran. Aku masih sesenggukan.

“Tadi bunda baru telepon Bang Asa. Katanya sudah sampai. Terus kenapa?”

Aku terdiam, bingung. Pikiranku kembali normal. Aku kembali melihat  berita, masih tentang pesawat jatuh. Ku baca caption berita. Ternyata pesawat jatuh bukan pesawat yang ditumpangi Bang Asa.

“Oh iya, Tadi Bang Asa bilang dia lupa isi pulsa. Makanya bunda yang menelepon,” sambung bunda.

Seketika aku memeluk erat bunda rasa sedih, bahagia, kesal dan malu bercampur menjadi satu. Ternyata benar kata orang bahwa kita tidak akan merasakan kehilangan sebelum sesuatu itu benar-benar sudah tidak bisa kita lihat lagi.

Editor: Shofiatul Husna Lubis

3 KOMENTAR

Comments are closed.