Sahabat Hingga ke Surga

- Advertisement -
(Ilustrator: Muhammad Haris)

Penulis: Risma Dona Siregar

Suara jangkrik di halaman terdengar jelas mengalun saat malam semakin larut. Seolah mereka sedang asyik menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur yang mampu menyihir para pendengarnya sehingga mereka tertidur dengan pulas dan hidup dalam buaian sang bunga mimpi masing-masing. Nyiur angin malam tak mau kalah dengan nyanyian jangkrik yang begitu mendukung untuk menggulungkan tubuh dalam balutan selimut hangat.

Tiba-tiba sebuah alarm memecah kebekuan, mengejutkan gadis cantik yang bernama Risa dari buaian bunga mimpi yang dinikmatinya. Tangan mendadak menyembul dari balik selimut seraya meraba-raba meja, dan mencari alarm yang telah mengusik mimpi indahnya. Dengan segera ia mematikan alarm tersebut lalu membuka matanya dan mengarah ke alarm.

- Advertisement -

“Sudah pukul 03.30 pagi,” ucapnya dengan mata yang masih mengantuk.

Gadis cantik itu langsung bergegas ke kamar mandi tanpa mengukur waktu untuk mengambil wudu, kemudian ia berjalan dengan pelan menuju ruang salat dan segera memakai mukena kesayangannya. Berdiri di atas sajadah untuk memulai salatnya dengan niat yang ikhlas karena Allah. Ada perasaan sejuk, tenteram di dalam jiwanya hingga salatnya semakin khusyuk, inilah sebuah kenikmatan yang tiada tara ketika seorang hamba berkomunikasi dengan Tuhan sang pencipta dirinya, maka kekalutan dan kesedihan itu hilang karena hati telah tenang dan terpaut dengan cintanya.

Usai salat tahajud dengan hati penuh harapan ampunan dan keridaan, risa membaca istigfar dan berzikir sembari mengingat dosa yang telah ia lakukan. Tak terasa air mata gadis itu mengalir membasahi pipinya seraya menadahkan tangannya ke atas.

“Ya, Allah, Engkaulah yang paling mengetahui diriku dan yang paling mengetahui apa yang terbaik untukku, engkaulah yang membukakan pintu tobat dan pintu hidayahmu, ampuni hambamu ini, ya, Allah, yang terkadang melupakanmu. Beri hamba kesabaran, keikhlasan, kemudahan dalam mendapatkan ilmu yang berkah, dan berilah kemudahan bagi hamba dalam melakukan sesuatu yang engkau dan Rasulullah cintai, karena hanya cintamu yang hamba harapkan, ya, Allah. Jagalah hati ini dari cinta semu yang menjauhkan hamba denganmu, dan berilah hamba kesabaran dalam menghadapi ujian yang engkau berikan, Amin,” pinta Risa dengan lirih dalam tangisnya. Air mata masih mengalir di pipinya ia membuka Al-Qur’an dengan lembut.

Tak terasa waktu bergulir cepat, setengah jam lagi azan subuh berkumandang. Tanpa pikir panjang, Risa melepas mukenanya dan segera menuju kamar mandi dan mandi pagi tanpa lupa mengambil wudu, karena Risa paham betul mengenai manfaat dan keutamaan mandi sebelum salat subuh. “Allahu akbar, Allahu akbar,” terdengar indah di telinga, sang muazin yang begitu merdu suaranya. Segera risa bangkit dan menunaikan salat subuh, karena Salat di awal waktu itu sangat penting, selain memiliki keistimewaan, salat di awal waktu mengajarkan tentang kedisiplinan, terutama dalam disiplin memenuhi panggilan Allah.

Dengan izin Allah mentari pagi kembali tersenyum pada dunia menyapa pagi dengan sinarnya. Burung-burung yang berada di sangkarnya bernyanyi menemani pagi diiringi angin sepoi yang semakin memperindah suasana hati Risa. “Inilah salah satu kenikmatan yang Allah anugerahkan, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? Alhamdulillah, terima kasih, ya, Allah telah memberiku kenikmatan terbesar, yaitu nikmat iman dan Islam, nikmat indahnya taat kepadamu, maka tetapkanlah hatiku, ya Allah atas agamamu dan taat padamu, ucap Risa dalam hatinya.

Risa terduduk diam terlarut dalam lamunan setelah kemarin membuat janji untuk bertemu dengan sahabat lamanya. Teringat semua memori kenangan dulu dengan sahabat lamanya Eva dan Zarah. Kenangan masa lalu yang indah dalam keakraban, namun salah dalam pergaulan. Mereka adalah sahabat yang dulunya gemar dengan kemaksiatan, bangga tidak menutup aurat, memakai pakaian yang sedang trendi itu yang dianggap modis dan cantik, tentunya punya kekasih hati, karena dalam persahabatan mereka yang jomblo adalah cewek yang udik. Mengikuti tren adalah sebuah keharusan bagi mereka, ketika SMA dulu mereka dijuluki cewek-cewek yang paling keren di sekolahnya, karena kaya, cantik, gaul, dan punya pacar. Namun, kini perlahan risa telah berubah, setelah mengikuti organisasi Rohis di universitasnya.

Berawal dari sebuah rasa kagum kepada seorang perempuan bercadar yang selalu menjaga akhlaknya dan teguh pendiriannya. Dari rasa kagum itu muncul sebuah rasa ingin meniru dan ingin menjadi seperti perempuan bercadar itu. Perlahan, rasa ingin hijrah dari masa lalu yang kelam pun berkecamuk dahsyat di hatinya. Pertama kali hijrah memang berat, namun keistikamahan yang kuat di hatinya mampu mengalahkan segala keluh kesah dan banyak ujian. Namun dengan kesabaran dan keikhlasan, Risa mampu bertahan menjadi wanita yang memakai hijab dan pakaian yang sopan. Setidaknya telah menutup aurat sesuai dengan syariat, karena berhijab itu wajib. Segala sesuatu itu memerlukan proses, tidak bisa langsung instan, karena yang instan itu tidak akan bertahan lama.

Risa semakin larut dalam khayalan yang membuat hatinya gelisah, satu pertanyaan yang selalu muncul dibenaknya. “Setelah mereka tahu aku telah berubah dan memakai hijab, masihkah mereka sudi bersahabat denganku? aku bingung harus bagaimana sekarang, tidak mungkin aku kembali meninggalkan hijabku hanya karena takut kehilangan mereka. Aku lebih takut kehilangan Allah dalam hidupku, tetapi, aku juga tidak mau kehilangan mereka.”

Pikiran Risa semakin kacau. Namun ia kembali sadar untuk tidak takut. “Bukankah sebelumnya aku telah kehilangan kekasihku dan teman-temanku, aku tak perlu takut dan sedih. Dengan menyebut nama Allah aku terima apa pun yang telah Allah takdirkan untukku,” ucap Risa dalam hati.

“Risa!terdengar suara yang tak asing di telinga memanggil namaku, mungkin mereka sudah datang duluan, pikir risa dalam hati. “Risa, Risa!,” suara perempuan itu semakin keras memanggilku tapi mereka di mana? Aku tidak melihat siapa pun di sini. Sambil berjalan menuju taman itu mataku terus mencari sahabat lamaku, tapi mereka belum juga muncul. Apakah suara perempuan yang kudengar tadi hanyalah ilusiku saja, karena mungkin kerinduanku pada mereka yang membuatku tak mampu membedakan antara khayalan dan kenyataan. 

Risa terduduk diam mengkhayalkan sahabatnya datang dengan perubahan yang sama sepertinya. Lama menunggu, Risa kembali menghubungi sahabatnya, tetapi handphone kedua sahabatnya itu tak bisa dihubungi. “Mungkin, aku harus ke rumah Eva,” pikir Risa. Tanpa berlarut dalam khayalan, risa segera menyalakan sepeda motornya dan bergegas menuju rumah sahabatnya Eva. Jalanan macet, handphone mereka nggak naktif, sebenarnya apa yang telah terjadi pada mereka? Hati Risa bertanya tanya cemas.

“Assalamu’alaikum, Eva, ujar Risa sambil menggedor pintu rumah Eva.

“Wa’alaikumussalam, eh Nak Risa, silakan masuk, Nak, jawab Ibu Eva.

“Eva ada di rumah gak, Bu?” tanya Risa.

Ada, dia di kamarnya, Nak,sama Zarah. Ayo masuk nak, ibu antar ke kamar.” jawab Ibu Eva lembut.

“iya, Bu,” jawab Risa lirih sambil berjalan mengikuti langkah Ibu Eva.

Mata gadis cantik itu terbelalak kaget saat melihat kedua sahabatnya sedang menangis. Ia tak tahu apa sebenarnya yang telah terjadi pada sahabatnya, masalah apa yang tengah menimpa sahabatnya. Matanya memerah, ia tak sanggup lagi menahan gejolak rindu ingin segera memeluk erat mereka dan menghapus air mata itu. Dengan suara pelan Risa memberanikan diri menyapa keduanya dengan salam, kedua sahabatnya langsung berlari memeluk Risa erat dan berkata, “Risa, jadilah sahabat taatku, sahabat hingga ke surga.” Tak terasa deraian air mata bahagia mendengar ucapan mereka itu berjatuhan dengan mulusnya. Tak bisa ia bendung, “Alhamdulillah, syukur Allah engkau telah menyadarkan sahabatku dan memberikan mereka kesempatan mengecup manisnya hidayah itu,” ucap Risa dalam hati dengan penuh syukur.

Dengan senyuman yang merah dihiasi air mata bahagia, Risa katakan pada sahabatnya, “itulah kalimat yang kutunggu, aku akan menjadi sahabat terbaik untuk kita, bersama dalam taat kepadanya dan bersama dalam meraih jannahnya hingga kita dipersatukan di surga. Sahabatku, aku mencintaimu karena Allah.”

Risa, tadi sebenarnya kami memanggil namamu tapi ketika kami melihatmu, kami sangat kaget melihat perubahan yang terjadi padamu. Tak sengaja kami bertemu mantanmu, dia menjelaskan semua hal yang terjadi padamu dan kamu lebih memilih Allah dan meninggalkan dia. Maka kami sebagai sahabatmu tak ingin berpisah darimu, air mata kami tak ingin berhenti saat mendengarmu mengigau di taman itu. Jadilah sahabat taatku, sahabat hingga ke surga. Akhirnya, kami memutuskan pulang ke rumah, kami sadar bahwa kecantikan yang sebenarnya itu bukan dilihat dari wajah yang cantik dan pakaian yang modis, tetapi kecantikan itu terpancar dari hati wanita salihah yang senantiasa menjaga kehormatan dan kesucian dirinya. Terima kasih sahabatku, kau telah menyadarkan kami akan pentingnya menjaga kehormatan sebagai seorang wanita, maka saat ini juga kami putuskan untuk berhijab seperti dirimu, dan segera kami putuskan pacar kam,” ujar Eva menjelaskan.

Iya, Risa, kami ingin berubah dan kami butuh bimbingan darimu. Ajari kami menjadi seorang wanita yang berkarakter salihah, ya,” lanjut Zarah menyambung pembicaraan.

Apa, sih, yang enggak buat sahabat taatku, hehe, jawab Risa dengan menyuguhkan senyuman.

Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita salihah.”

Bila noda terlanjur ada jangan tumpahkan seluruh tinta menutup semua cerita, gunakan tinta melanjutkan kebaikan sebisanya.

Editor: Dita Saharani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share article

Latest articles