Manis Pahit Kenangan Naira

(Ilustrator/Mhd Haris)

Penulis : Miftahul Zannah

Alunan musik menemani malamku yang kaku, duduk di kursi belajar yang tak tahu arah pikiran yang berlalu, ku geledah isi lemari coklat mencari berangkas yang mengganggu dan mengaduk-aduk pikiranku. Kudapati kotak berwarna biru dihiasi pita berwarna putih kusam diselimuti debu. Mengingatkan ku tentang keadaan yang terjadi padaku 10 tahun yang lalu.

Ten years ago…

“Naira, ayo cepatan Pak Mahmud sudah lama nunggu tu,” panggil Mama

“Ia sebentar lagi Ma, kaus kaki kakak di mana?”

“Kakak sih bukannya disiapkan dari semalam,”

Akhirnya aku menemukan kaus kakiku. Oiya, sekarang usiaku 12 tahun. Pagi ini mama akan menitipkan ku di tempat tante di Yogyakarta karena aku akan sekolah di sana. Kata mama alasan aku dititipkan karena ayah dan mama sibuk bekerja jadi takut aku gak bisa diurusi.

Kami pun berangkat diantar Pak Mahmud yang selalu setia menghantarkan keluarga kami kapan pun. Ayah tidak ikut karena ada urusan pekerjaan.

Sesampainya di rumah tante aku sangat tidak nyaman dan ingin ikut kembali pulang sama mama ke Jakarta. Aku tidak tahu akankah betah di sini atau tidak.

“Eh sudah datang keponakan tante, yuk masuk” ajak tante kepada kami.

Akupun menyalaminya sambil masuk ke rumahnya. Rumahnya keliatan bagus dengan ala keraton yang dihiasi taman di samping rumah yang membuat nyaman untuk memandangnya.

“Naira, ayo ikut. Tante akan tunjukin kamar kamu, pasti bakalan suka” ucap tante.

“Iya Tante tapi tunggu bentar mau bicara sama mama dulu” jawabku.

“Oo ya sudah silakan”

Kemudian aku meninggalkan tante dan mengajak mama keluar rumah.

“Ma, Naira ikut pulang aja ya. Gak papa deh tinggal di rumah sendiri kalau mama dan ayah pergi kerja,”

“Naira sayang, mama yakin kamu akan betah di sini. Jalani saja dulu nanti kira-kira sebulan kamu bisa hubungi mama jika kamu ingin kembali”

“Tapi kan Ma, sebulan itu lama”

“Kamu tenang saja deh tante baik kok”

Akhirnya mama pamit pulang dan rasanya ingin menangis tapi masih bisa kutahan.

“Naira, sudah siap liat kamar kamu?” tanya tante

“Hemm… iya deh Tan”

“Jreng…ni kamar kamu? Apa kamu suka? Tante yakin kamu suka sih”

“Wah…bagus banget Tan”

“Baiklah kalau begitu tante tinggal ya. Selamat bersenang-senang di kamar baru kamu semoga kamu betah”

“Terima kasih ya Tante”

Langsung ku rebahkan badan, dan tak terasa aku tertidur pulas.

Keesokan harinya aku pun bersiap-siap untuk masuk ke sekolah baruku diantar tante dengan mobil pribadinya. Kebetulan tante sudah lima tahun belakangan ini masih sendiri, dulu pernah menikah hanya saja suaminya meninggalkannya. Sampai saat ini tante masih betah sendiri. Dan sebelumnya tante sudah mendaftarkanku jadi tinggal masuk saja deh.

Jujur aku sangat bingung di mana kelasku dan tiba-tiba ada seorang yang menabrakku yang kelihatan cupu.

“Ma…af kak gak sengaja aku buru-buru” sambil menunduk dan berlari

“Eh…tunggu bentar” panggilku

Ia pun menghentikan langkahnya dan kembali ke arahku.

“Hai…aku minta maaf ya”

“Hem…iya gak papa kok. Kenalin nama aku Naira” sambil menjulurkan tangganku

“Nama aku Panji, senang berkenalan denganmu”

“Oiya, aku boleh minta tolong gak, anterin ke kantor kepala sekolah”

“Kamu murid baru-baru ya”

“Iya, Pan”

Panji pun mengajakku dan menunjukkan kantor kepsek sambil berterima kasih kepadanya.

Lima menit kemudian seorang guru mungkin wali kelasku mengajakku keklas untuk memperkenalkan diri, sangat grogi ku rasa apakah ada yang mau berteman denganku dengan segala kekuranganku

“Selamat pagi anak-anak” ucapnya

“Selamat pagi Buk,” jawab murid serentak

“Hari ini kita kedatangan murid baru dari Jakarta, ayo kenalin diri kamu”

“Hai teman-temn kenalin nama aku Naira Azlafahira, kalian bisa panggil aku Naira asal dari Jakarta pindahan dari SMP Nusa Bangsa aku berharap kalian bisa jadikan aku teman baik”

“Silakan Naira duduk di bangku kosong sebelah sana”

“Terima kasih buk”

Aku pun duduk di bangku kosong yang diarahkan Bu guru tadi. Dan tanpa diduga aku sekelas sama Panji, sehingga aku langsung memiliki teman. Dan dengar-dengar di kelas itu tak suka dengan Panji karena cupu dan lelet. Jadi tidak ada yang mau berteman dengannya, dan ada yang mengatakan hanya aku yang mau bicara padanya. Rasaku sih biasa aja malah lebih seru dibandingkan dengan orang lain katakan. Menurutku, Panji orangnya baik memang iya sih agak pemalu, tapi aku bakalan janji akan merubah Panji menjadi yang lebih baik lagi.

Sebulan berlalu mama menghubungi dan menanyakan kabar ku, apakah aku betah atau tidak. Ya sejujurnya sih aku betah-betah aja soalnya sudah memiliki teman dekat yang baik dan enggan rasanya meninggalkannya. Dan untuk saat ini aku mau tetap di sini aja dan tidak mau kembali ke Jakarta. Mama pun lega akhirnya anak gadis semata wayangnya itu sudah tumbuh dewasa.

Hari-hariku tetap bersama Panji mau di sekolah, di rumah, bahkan jalan-jalan pun sama dia, sampai-sampai teman-teman mengira kami pacaran. Ternyata, walaupun cupu tetapi prestasinya di sekolah tidak diragukan lagi. Bahkan ia pernah mengikuti olimpiade fisika tingkat nasional. Tapi kenapa ya banyak yang tidak mau berteman dengannya? Memang sih Panji orangnya agak tertutup.

Terkadang aku juga kasihan kepadanya tidak ada yang mau bicara dengannya. Tetapi dengan janjiku dari awal akan mengubah dirinya. Akhirnya ia setuju, kebetulan nanti malam ada acara ulang tahun Dewi teman sekelas kami dan semua diundang.

Aku mengajak Panji ke salon dengan mengganti tatanan rambutnya, ke mal membeli baju yang cocok dengannya dan yang terakhir membuka kaca matanya. Walaupun awalnya ia enggan membukanya tetapi akhirnya ia mengalah juga.

“Waw ternyata kalau diubah gini Panji tampan juga” ucapku dalam hati

Malam pun tiba kami pergi diantar supir tante dan tante mengizini. Aku mengenakan gaun berwarna biru serasi dengan baju Panji kok kebetulan lagi sih. Kami pun tertawa bersama kalau kata Panji “Kita kayak raja dan ratu ya”. Hahahahah

Di pertengahan jalan, Panji memberiku kotak berwarna biru. Tetapi ia mengatakan bukanya di rumah aja.

Akhirnya kami sampai di rumah Dewi, semua mata orang tertuju pada kami

“Wah itu yang sama Naira siapa ya? Tampan banget” usik teman-teman di mana-mana

“Hai Dewi, selamat ulang tahun” ucap kami berdua

“Nai, itu siapa yang sama kamu kok ganteng banget”

“heheeheheheheh”

“Ih kamu kok ketawa”

“Yang di samping aku ini Panji, masa kalian gak ngenalin sih”

“Ha Panji? Serius kamu Nai”

“Iya, kan gak mungkin aku bohong, kenapa? Kalian semua pangling ya?’

“I…Iya Nai, gak nyangka Panji setampan ini, pintar lagi. Jodoh masa depan ku ni”

Sesampainya di rumah langsung kubuka kotak berwarna biru itu, ternyata isinya kenangan foto kami selama ini, boneka, dan secarik kertas yang isinya mengenai curahan hatinya

“Hai Nai, sebenarnya dari awal kita ketemu aku udah suka sama kamu entah apa yang membuatku kagum padamu. Karena aku rasa kamulah salah satunya wanita yang mengerti keadaanku, bukan soal reputasi ataupun hal yang lainnya tetapi ini murni dari hati. Maafkan aku ya selama ini sudah membuatmu sudah dijauhi teman karena kamu berteman denganku. Walaupun suatu saat kita akan berpisah maka janjilah tetap menjaga kenangan kita di hati kamu, karena aku sangat mencintaimu Nai” Bertanda tangan: Panji Wicaksosno

Semenjak malam itu sampai seterusnya mau di kelas, kantin, bahkan di jalan sekali pun Panji memiliki penggemar sampai-sampai aku pernah ditinggal sendiri karena meladeni para penggemarnya.

Mulai saat itu juga hubunganku dengan Panji juga meregang, alasannya sudah kelihatan. Aku sering ditinggal sendiri.

3 tahun berlalu pendidikan tingkat pertamaku telah usai dan aku memutuskan untuk melanjutkan SMA ke luar negeri dan orang tua ku menyetujuinya. Mungkin kenangan ku di kota ini hanyalah ilusi yang mengajarkanku untuk tetap bertahan walaupun di situasi yang sedang genting. Hubunganku dengan Panji pun tidak ada kabar, dan aku berjanji dalam hati aku akan mengubur dalam-dalam kenangan bersamanya.

Selesai…

Editor: Khairatun Hisan

Latest articles

Beramal Baiklah Layaknya Seperti Lebah

Penulis : Khoiriah Syafitri “Teruslah berbuat kebaikan dan jangan pernah bosan. Sebab tidak ada balasan untuk kebaikan melainkan kebaikan itu juga bahkan kebaikan yang lebih...

Masih Bertahan dalam Bosan?

Penulis: Muhammad Tri Rahmat Diansa Beberapa bulan sudah terlewat dan kita masih dipisahkan oleh jarak, sebab pandemi yang seolah tak ingin mengakhiri. Rasa bosan, jenuh,...

Tingkatkan Generasi Qur’ani, JPRMI Adakan Tablig Akbar

Medan, Dinamika Online - Dalam rangka meningkatkan generasi qur’ani organisasi Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) mengadakan kajian tabligh akbar dengan mengusung tema...

It’s Okay: Perjalanan Mencari Jati Diri

Judul : It's Okay to Not Be Okay atau Psycho But It’s Okay Genre : Romansa-Drama Sutradara : Park Shin-woo Penulis : Jo...

Tatang Koswara: Sniper Kaliber Dunia

Judul buku : Satu Peluru Satu Musuh Jatuh: Tatang Koswara Sniper Kaliber Dunia Penulis : A. Winardi Penerbit : Penerbit Buku Kompas Tahun...