Lost in Peace

Ilustrasi: Lelya Hilda Amira Ritonga

Penulis: Mulia Wilandra Harahap

Menghilang, adalah sebuah pilihan bagi mereka yang menyerah pada keadaan. Entah itu sementara atau akan lama, yang sedang menepi atau akan berhenti, atau mungkin sedang bersiap untuk kembali. Tak butuh penghakiman, tak perlu pencerahan, hanya harus mengerti bahwa berisik itu memang memuakkan.

Sejuk dan dingin menjadi yang pertama kali menyambut kedatanganku di kota ini. Kota indah yang tak membutuhkan hiruk-pikuk agar tempat ini pantas disebut kota, kota dengan pemandangan seribu gunung. Ah, aku tidak tahu apakah benda yang tinggi menjulang itu lebih cocok disebut gunung atau bukit, otak ku tak lagi sanggup digunakan untuk memikirkan segala hal yang berbau pelajaran. Aku hanya ingin segera sampai, sebab khawatir ku memuncak ketika teringat motor yang telah lama tak ku service ini dapat mati sewaktu-waktu.

Oh maaf, ku perkenalkan diriku agar kalian paham dengan kisahku. Aku adalah Bara, tak punya kepanjangan nama HANYA BARA, pemuda yang tak mengenal adat dan budayanya, manusia yang terlalu PD menganggap dirinya adalah seorang idealis. Padahal hanya bermodalkan gemar mengkritik pemerintah, sisanya? Hanya seorang yang “kebetulan” selalu berhasil mematahkan argumen teman kelasnya saat presentasi. Ya itulah aku, tak banyak yang bisa ku perkenalkan sebab hidup ku tidak terlalu menyenangkan, sampai sebuah tamparan menyambangiku sembari teriakan yang menghardik. Salah satu alasan yang menuntunku untuk pergi dan menghilang,  mencari ketenangan dari semua kebohongan di tengah kebisingan. AKU INGIN TENANG!

***

“Bang, nanti abang pulang jam berapa?”,

“Belum tau nih, kenapa?”

“Engga, aku pengen makan sate nanti malam hehe. Abang jangan kemaleman pulangnya ya, biar bias belikan sate ku ehehe”

“Hmmm iya dek iyaa, yaudah abang pergi dulu yaa, Assalamualaikum”

“Hati-hati bang, Waalaikumsalam”

Fatimah adikku, adalah segalanya bagiku. Satu-satunya keluarga, teman melepas keluh kesah. Hanya dia, tak perlu orang lain bagiku untuk membuat nyaman hidup ini. Manusia yang paling tahu tentang aku,  tanpa perlu penjabaran panjang lebar untuk menjelaskan bahwa aku sedang lelah dan hanya dia dengan tehnya yang mampu mengobatiku. Orang tua kami? Tak perlu lah itu menjadi bagian dari kisah ini, biarkan tanah makam mereka tetap basah melalui doa kami. Ringkasnya, aku sedikit bangga mengetahui penyebab mereka kembali kepada Penciptanya.

“Bar, udah dengar kabar belum?”, Deni menepuk pundak ku sembari menggiring langkahku agar masuk ke dalam kelas.

“Apaan?”, jawab ku singkat sambil terus membaca headline today di gawaiku.

“Itu anak-anak HMJ pada mau demo tambang batu bara yang katanya perlakuin pekerjanya kaya kerja rodi, udah dengar belum?” Deni menekan kalimatnya karena mulai kesal padaku yang tetap focus pada gawai.

“Lah ini gue lagi baca”, jawabku ringan.

“Baca apaan? Kan demonya ntar siang”

“Ampun dah bawel banget sih, ini gue lagi baca berita tentang tambang yang lu bilang barusan”.

“Seloww dude”, Deni benar-benar kesal hingga tidak menyadari ucapannya didengar oleh dosen yang sedang lewat di depan kelas kami

“Rasainlu” ejekku kepada Deni hingga memunculkan gelak seisi kelas.

Memang, informasi dan berita terkait masalah sosial, politik dan lingkungan selalu saja dilaporkan teman-teman kampus ku kepada ku. Kata mereka aku tergolong mahasiswa yang over kritis dan paling berani jika sudah menyangkut ketidakadilan, maka tidak heran selalu saja ada diskusi-diskusi kecil yang tercipta ketika aku ikut nongkrong. Ditambah aku juga seorang wartawan lepas pada sebuah surat kabar lokal, yang membuat aku lebih menguasai perihal investigasi terhadap suatu masalah.

“Habis ini mau kemana lo?” Farhan menghampiri ku usai mengumumkan bahwa dosen pada matakuliah kedua undur hadir jadwal hari ini.

“Mau ikut anak-anak HMJ ke Belawan, kan katanya tambang disana bakalan didemo ketua”, aku selalu menyematkan gelar ‘Ketua’ atau ‘Kosma’ setiap kali berbicara dengan Farhan berhubung dia memang kosma di kelasku, selain itu kulihat dia juga mahasiswa yang paling bijak yang pernah kutemui.

“Lah, sekarang makin ekstrim aja lo pake acara ikut-ikut demo segala”, balasnya setengah tertawa

“Kagaklah, gue bukan ikutan demonya, gue mah mantau aja. Siapa tau ada objek berita uehehe” jawab ku juga diselingi gelak.

“Iya dah wartawan, hati-hati lo. Jangan ikut-ikutan baku hantam ntar wkwkwk”

“Siap bapak kepala suku” tutupku sembari berjalan keluar kelas.

Entah kenapa, sejak dari SD hingga kini aku selalu tertarik dengan isu-isu sosial. Bahkan ketika aku berada dibangku SMP aku sudah mulai mengoleksi buku-buku politik. Ketika teman sebaya ku lebih senang menonton kartun, aku lebih tertarik menonton berita yang isinya tentang konflik social dan masalah perpolitikan. Kata nenekku sewaktu beliau masih hidup, mungkin aku tertular sifat kritis dari kedua orang tua ku yang seorang aktivis revolusi pada masa itu. Ya, aku mulai paham kenapa kami selalu berpindah-pindah tempat tinggal, aku juga mulai paham mengapa orangtua ku menghilang sebelum ditemukan mengapung di laut.

Mereka, pergi dengan tidak benar-benar meninggalkan. Mereka kembali pada Penciptanya bersama-sama, seperti janji pernikahan mereka “Sehidup Semati Berdua”. Orang tua ku mati karena menuntut keadilan, dan orang tuaku ‘dimatikan’ dengan cara tidak adil, itulah mengapa aku sedikit bangga dengan penyebab kematian mereka.

Hobi kita adalah pura-pura lupa

Tutup mata, tutup telinga seolah kita diciptakan tanpa pancaindra

Kita ini apa? Manusia tak beraga? Atau manusia tak berperasaan?

Atau mungkin kita bukan manusia?

Editor: Nurul Liza Nasution

Latest articles

UIN SU Umumkan Hasil Banding UKT Camaba

Medan, Dinamika Online – UIN SU mengumumkan hasil banding Uang Kuliah Tunggal (UKT) calon mahasiswa baru tahun ajaran 2020/2021 yang dilaksanakan pada Jumat, 15...

Komunitas WeRead Akan Langsungkan Webinar Amal

Medan, Dinamika Online – Komunitas Kita Baca (WeRead) akan melangsungkan kegiatan Webinar (Web Seminar) Amal dengan judul "1st Indonesian Collaboration Forum" pada hari ini,...

Tetap Produktif di Rumah, UKM Literasi UNG Langsungkan Diskusi Daring

Medan, Dinamika Online - Unit Kegiatan Mahasiswa Literasi Universitas Negeri Gorontalo (UKM Literasi UNG) melangsungkan diskusi daring dengan tema “Rebahan Secukupnya, Berjuang Selelahnya”. Kegiatan...

Besok, HMJ SA Adakan Kajian Bersama Ustaz Rifai’

Medan, Dinamika Online - Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ilmu Sosial UIN SU akan mengadakan Karoma (Kajian Ramadan Bersama) dengan tema...

Addin 305: Mengapa di Bulan Ramadan Masih Ada yang Bermaksiat?

Penulis : Iqbal Muhajir Rul Koto Bulan Ramadan telah hadir sejak beberapa hari yang lalu, kedatangannya pun disambut oleh umat muslim di seluruh dunia dengan...