Kebenaran Seharga Nyawa

- Advertisement -
(Ilustrator: Putri Ayu Dahniar Harahap)

Penulis: Asep Muhammad Sobirin

“Apa yang anda lakukan adalah perbuatan keji, mencari pundi-pundi materi dengan cara seperti ini,” hardik Aji kepada lelaki paruh baya dihadapannya. 

“Kita, kalau tak mau diusik jangan mengusik urusan orang lain. Apa Ibumu tak mengajarkan tata krama itu?” ujar lelaki paruh baya itu dengan santainya. “Pikir-pikir lagi tindakanmu saat ini, jangan sampai salah langkah,” tambahnya dengan nada mengancam. 

- Advertisement -

“Ini bukan tentang tata krama, tidak lagi pantas orang yang keji seperti anda dihadiahi tata krama! Sudah lama aku ingin membongkar kedok kebohongan anda,” kata Aji dengan lantangnya. 

“Apakah ini langkah yang kau ambil? Kau masih muda dan terlihat cerdas, sayang sekali rasanya bila kau harus mati dengan cara seperti ini. Apakah kebenaran ini seharga nyawa?” ancam sang lelaki itu sambil menodongkan senapan berkaliber 9 mm ke antara kedua mata Aji. 

(6 jam sebelumnya) 

“Bang baksonya 1 porsi, kuahnya setengah mangkok saja, tidak usah pakai daun sop tapi bawang gorengnya dilebihkan,” 

pagi itu suasana begitu sejuk dan lebih redup ketimbang beberapa hari sebelumnya. Padahal musim penghujan masih butuh satu bulan lagi. Setidaknya itu yang menjadi alasan mengapa Aji kali ini mengawali hari dengan menyantap semangkuk bakso, padahal dia adalah orang yang sangat pilah-pilih makanan dan makan bakso di pagi hari tentu bukan hal yang tepat. 

Sembari menunggu bakso yang dipesannya tadi, tak henti-henti ia menggulir laman sebuah web seakan mencari informasi tentang seseorang. “Tom Anggara Wijaya” adalah nama yang diketik oleh Aji. Melihat dari perawakan dan tampilan Aji pada saat itu, sudah menunjukkan jelas bahwa ia adalah seorang jurnalis pada sebuah media tersohor di kotanya. Integritas media yang ia bawa sangat jelas ingin ditunjukkan lewat kalimat “Kebenaran Bersifat Mutlak” pada kartu pers yang ia gantungkan di kantong bajunya.

“Trrrttt..trrrtttt..trrrrtt” bunyi gawai Aji. 

“Halo Aji, bagaimana persiapan mu? 6 jam lagi wawancara dengan bapak Tom Anggara akan dimulai,” tanya seseorang yang tertulis pemimpin redaksi pada layar panggilan gawai milik Aji. 

“Iya pak, saya sudah sangat siap, hari ini akan saya bongkar habis kedoknya,” jawab Aji dengan yakin. 

“Oke pastikan semuanya sesuai dengan prosedur dan pastikan juga perlengkapan mu.” 

Tampaknya dihari ini lagi-lagi Aji akan mengungkap sebuah kebenaran, terhitung dengan ini setidaknya ada 15 kasus yang sudah diungkap oleh Aji, padahal ia hanyalah seorang jurnalis bukan detektif. 

“Ini baksonya mas,”

“Akhirnya datang juga,” ucap Aji yang sudah tak sabar menyantap baksonya.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB, sekitar 30 menit lagi wawancara akan dimulai. Aji sudah menapaki sebuah gedung bertuliskan Rumah Amal Anggara Wijaya tempat berkumpulnya anak jalanan dan kurang mampu yang menjadi alasan Tom Anggara Wijaya ‘narasumber Aji saat ini’ menjadi tersohor dimana-mana. Jika dilihat dari berbagai sumber, Tom adalah seorang pengusaha dan pebisnis, ia mendirikan rumah amal tersebut untuk menolong anak-anak yang kurang mampu. Setidaknya itulah yang dibaca Aji di laman internet. 

Sikap kedermawanannya itu dianggap sebagai pahlawan oleh masyarakat kurang mampu di daerah tersebut. Aji masih ingat betul dua hari yang lalu ia mewawancarai salah seorang wanita tua yang anaknya dititipkan ke rumah amal milik Tom. “Anak saya sudah 5 tahun saya titipkan di sana dan sekarang dia sudah tumbuh besar, adik mau lihat fotonya? Pak Tom memang orang yang hebat, kami tidak tahu bagaimana kehidupan kami kalau tidak ada dia,” wanita itu tampak sangat bersyukur. 

“Mas Aji santoso,” panggil salah seorang pegawai

“Saya mas,” Aji pun memasuki gedung tersebut dan melewati lorong-lorong dengan hanya membawa sebuah gawai, karena barang-barang Aji harus ditinggalkan di pintu masuk. Dia semakin yakin dengan firasatnya sebab gedung terlihat sepi bahkan langkah kaki mereka saja bergema dan terdengar ke seisi lorong. 

Penasaran Aji bertanya kenapa gedung begitu sepi. “Mas, ini rumah amal tempat penampungan anak jalanan kan mas? Kemana mereka semua yah, sebagai tempat penampungan ini terlampau sepi,” tapi pegawai tersebut hanya menjawab singkat “saya hanya pegawai mas,”

***

“Oke sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada bapak Tom Anggara Wijaya karena telah meluangkan waktunya untuk saya wawancarai,” kata Aji mengawali sesi wawancara, Tom hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum seperti perawakan seorang pebisnis sukses pada umumnya.

10 menit sudah berlangsung proses wawancara hingga terlontar satu pertanyaan yang memang sengaja ditahan oleh Aji sampai Tom hanyut dalam pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. “Kemana anak-anak jalanan itu bapak kirim?”

Seketika Tom mengerutkan dahinya. “Untuk sebuah rumah amal tempat ini terlalu sepi. Dua hari yang lalu saya mewawancarai para orang tua atau kerabat yang anaknya dititipkan ke rumah ini, mereka menunjukkan sebuah foto anak-anak mereka yang tumbuh dewasa di sini. Tetapi ada yang janggal dalam setiap foto, foto tersebut melalui proses pengeditan dan ada di internet, tipuan sederhana seperti itu memang ampuh bagi mereka,” tampak Tom makin terbelalak mendengar pertanyaan dari Aji. 

“Bagaimana, Pak?”

Tom terdiam sebentar lalu tersenyum sambil mengisyaratkan kepada para pengawalnya untuk keluar dan menutup pintu ruangan. “Argumen mu itu, atas dasar apa?” tanya Tom dengan santai sambil berdiri dan membuka jendela di belakang tempat duduknya. 

“Rumah amal yang anda kelola saat ini hanyalah sebuah kedok, anda menjual anak-anak jalanan yang anda tampung di rumah ini dan berbohong kepada keluarga mereka. Pandai anda bersilat lidah kepada keluarga mereka mengatakan bahwa anak-anak itu anda kirim keluar negeri untuk bersekolah atau berkuliah di sana, hanya agar keluarga mereka tidak datang berkunjung kemari menanyai kabar anaknya, yang anda lakukan adalah perbuatan keji!”

Senapan itu masih tertodong di depan kepala Aji. “Kau adalah orang yang pintar Aji, sayang sekali kau harus mengakhiri hidup mu seperti ini”

“Kebenaran adalah hal yang mutlak!” teriak Aji 

“Selamat tinggal Aji,” 

crakcrak pyarrrrrtrrrrrr… (suara gelas pecah)

Tiba-tiba Tom tersungkur dan tampak ada jarum bius di punggungnya. Aji pun menelpon atasannya “sesuai prosedur yah,” ucap Aji bernapas lega meski wajahnya masih sedikit pucat lantaran telat sedikit saja perhitungan mereka nyawanya akan melayang. 

Satu hari berselang, akhirnya tulisan Aji dipublikasikan dan disebar ke berbagai tempat. Tom Anggara Wijaya yang mereka idolakan tidaklah hanya seorang mafia yang melakukan segala cara untuk menarik pundi-pundi materi.

Editor: Anggia Nurulita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share article

Latest articles