Foto: Internet

Penulis: Lelya Hilda Amira Ritonga

Drrtt… Drrtt…

Gawaiku begetar menandakan ada pesan masuk. Kubiarkan saja. Aku terus melanjutkan hobiku, melukis di atas sketch book yang hampir menuju lembar akhir ini. Aku melukis wajah ketua kelasku, Amrul. Ah memalukan memang menggambar orang disuka. Setelah selesai melukis, satu jam kemudian kubuka gawai yang baru saja kulepas dari chargernya itu.

Setelah kubuka. Kulihat pesan masuk itu dari nomor yang tidak kukenali.

Besok libur?

Pesan yang entah siapa pengirimnya. Lalu kujawab,

Iya.

Balasan singkat, meski tanpa tahu nama sang pengirim. Aku tak peduli, mungkin dia teman satu sekolahku. Memang besok sekolah diliburkan, aku tahu dari guru bidang kesiswaan di sekolah menengah pertamaku.

Setelah membalas pesan yang tidak kukenali. Ia kembali membalas.

Terima kasih ya

Kembali tak kuhiraukan, aku tidak suka berbasa-basi.

Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Menurutku, hanya aku sendiri dalam keluarga yang tidak suka bergaul. Sementara abang dan adikku suka bergaul, terbukti dengan mereka yang suka membawa teman-teman ke rumah. Padahal rumahku tidak terlalu besar namun, entah mengapa teman-teman abang dan adikku suka berkunjung ke rumah. Berbeda jauh denganku yang tidak pernah membawa teman ke rumah, kecuali ketika ada tugas kelompok.

Aku lebih suka diam berlama-lama di kamar. Melakukan banyak hal yang menyenangkan bagiku, namun tidak bagi orang lain. Seperti maraton, nonton drama, anime, melukis atau sekadar coret-coret sketchbook, stalking seluruh media sosial ketua kelasku, mengemil, membaca novel, dan hal lainnya.

Aku tak habis pikir. Mengapa hal-hal yang kuanggap sangat menyenangkan dianggap membosankan oleh mereka? Nonton drama? Ah mereka tidak tahu kalau menonton itu begitu seru. Mengikuti alur cerita drama yang terkadang menegangkan, mengharukan, bahkan lucu. Melukis juga bukanlah hal yang masuk dalam daftar membosankan, sebab dalam melukis terdapat sensasi menarik pada tiap garis pensil dari sudut satu ke sudut lainnya. Banyak yang tidak tahu betapa asyiknya meraut pensil tumpul hingga tajam. Dan memikirkan warna apa yang sesuai untuk gambar ini dan itu, ah semuanya mengasyikkan bagiku.

Kebiasaanku sebelum tidur adalah menamatkan satu episode lagi pada film favoritku. Setelah selesai, aku meletakkan ponsel pintarku di atas nakas. Kuamati jam dinding, waktu menunjukkan tepat pukul 01.00 WIB dini hari. Aku harus segera tidur. Gawai bergetar. Ah sudahlah. Aku tidak peduli, mataku sudah tak tahan lagi.

Keesokan harinya, abangku sibuk membangunkanku dari mimpi, aku tidak suka jika dia yang bertugas membangunkanku. Tidak menggunakan hati.

“Yak Gembul! Mbul! Bangun!” bentaknya membangunkanku seperti tentara-tentara yang harus bangun pagi.

“Inikan udah!!!” jeritku tepat di telinganya. Ah dia tidak tahu pukul berapa tadi malam aku tidur.

“Yasudah” katanya berlalu pergi.

“Abaaaaanggg” pangilku. Dan dia hanya melambaikan tangannya keluar kamar. Dasar, untung sayang batinku.

Sedikit memperkenalkan, yang tadi itu abangku. Ia bernama Nasa Bumi Putra. Aku biasa manggilnya bang Nas, kalau kesal aku tidak pernah menggunakan kata bang. Meskipun sifatnya jail, tapi ia sangat baik menjagaku. Suatu ketika aku pernah pulang dalam keadaan menangis, lalu kuadukan pada ayah, beberapa menit kemudian abangku keluar dari kamar, menaiki motornya menuju rumah teman yang membuatku menangis.

Ia jua begitu manis, saat aku sakit ia lebih sering di rumah untuk menjagaku. Dan saat hari kelahiranku, ia memberikan kejutan padaku. Bahkan saat aku pulang larut malam, ia bersedia jemput walau sudah kukatakan akan ada teman yang mengantar, namun ia menolak. Ah ternyata ia juga tipe orang yang posesif, itu yang membuatku terkadang kesal. Andai saja ia tahu bahwa ada seorang lelaki yang dekat denganku, mungkin dalam sekejap lelaki itu akan menghilang dibuat si abang.

Selain abang, aku juga memiliki adik perempuan bernama Kayla Bumi Putri. Aku memanggilnya Dek Ayi. Kami berbeda jauh, tujuh tahun. Ia berwajah imut, cantik dengan mata hitam pekat. Walaupun masih berumur delapan tahun, namun cara bicaranya seperti anak remaja.

“Kak tolong diam kak,” ucap adik kecilku yang baru saja melewati pintu kamarku menuju meja makan.

“Ah.. ampun sultan,” jawabku sambil menunduk.

Setelah merapikan ranjangku lalu melakukan bersih-bersih kemudian menuju meja makan. Sudah menjadi kebiasaan keluarga kami, sarapan itu harus dilakukan bersama setiap hari. Kulihat wajah abang dan adik menatapku tajam, sepertinya mereka marah akibat menungguku.

“Dinda, tadi ada teman kamu yang cari,” ucap bunda sambil memberi susu putih segelas.

“Siapa bun?” jawabku sambil menerima gelas dari bunda.

“Bunda tidak tahu. Namanya Amrul kalau bunda enggak salah,”

“Ah bunda, jangan bercanda ah,” kataku mencubit lengan abang di sampingku.

“Ngapai juga bunda bercanda sayang. Tadi saat kamu mandi dia datang menanyakanmu. bunda bilang lagi mandi, terus dia titip salam terus pergi,” jelas bunda.

“Ah gak mungkin Amrul ketua kelas kan ya? Mimpi apa aku tadi malam,” gumamku.   

“Yaudah makan dulu nak. Nanti kamu hubungi teman kamu itu,” ucap ayah memotong pembicaraanku dengan bunda. “Iyaa yah” jawabku.

Setelah makan, aku mempercepat makan lalu masuk ke dalam kamar. Aku hanya ingin mencari kebenaran mengenai ucapan bunda tadi.

Aku mengirim pesan via Whatsapp kepada lelaki yang dimaksud bunda.

Tadi pagi ke rumah ya? Ada apa?

Lalu menunggu selama 30 menit, namun belum ada balasan. Satu jam masih sama belum ada balasan. Dua jam masih sama, padahal hanya dengan cara ini aku bisa chat si kawan, tapi justru tidak aktif.

Karena menunggu terlalu lama, akhirnya aku pergi ke toko buku membeli sebuah novel baru yang sedang hangat diperbincangkan dengan judul “Konspirasi Alam Semesta” karya Fiersa Besari.

Setelah menapaki toko buku ini, ternyata hanya tersisa satu novel, aku berniat mengambilnya. Namun, secara bersamaan ada tangan seseorang yang lebih dulu mengambilnya.  “Malangnya nasibku Ya Tuhan,” keluhku. Aku penasaran siapa yang mengambilnya dariku, saat mendongak ternyata dia adalah lelaki yang sejak tadi kunantikan balasan chat-nya.

“Amrul?,” suaraku tak jelas, bergetar. Mungkin dia tak dengar. Kemudian aku menenangkan diri.

“Eh, Amrul,” ucapku lebih santai padanya.

“Baca novel jugak Rul?”

“Ah.. iya Din,” jawabnya ringkas padahal aku ingin dia jelaskan pakai 5W+1H (biar lama bicaranya).

“Oh..” jawabku juga ringkas.

Kemudian aku berjalan lagi mencari buku lainnya. Aku sudah lupa apa yang ingin kutanyakan padanya tadi sebab jantungku masih berdegub.

Pertemuan itu begitu saja. Tidak ada lagi interaksi karena ternyata dia hanya ingin membeli novel itu, kemudian pergi. Aku pun juga tak jadi membeli, karena yang kumau hanya novel yang diambil Amrul itu.

Aku pulang dengan wajah ditekuk, lalu masuk ke dalam kamar. Tiba-tiba terselip dalam pikiranku untuk meminjam novel itu pada Amrul.

Setelah selesai mandi, ganti baju tidur, aku langsung ke meja belajar untuk mengerjakan tugas resume buku sejarah. Ketika duduk, kulihat ada bingkisan berwarna biru favoritku.

“Ah, besok aku ulang tahun ya? Eh tapi ini kok kadonya sekarang sih? Gak seru amat,” ucapku bermonolog.

Karena penasaran, kubuka kado berwarna biru itu. Aku terkejut, isinya novel yang tadi siang ingin kubeli, novel yang jadinya dibeli Amrul. Namun, bukan hanya novel, ada sebuah kertas berwarna biru dengan tulisan singkat yang mampu membuatku terbang kupu-kupu di perutku. Tulisannya hanya 10 kata.

Ini Amrul. Ke Dinda. Novelnya bagus din. Ini untuk kamu.

Aku senang juga bingung. Mengapa tak diberi saat besok saja, persis saat ulang tahunku?

Pertanyaanku pun terjawab tak lebih dari dua jam lamanya. Grup WhatsApp kelasku ramai dengan kabar duka. Aku sudah menemukan jawaban dari pertanyaanku saat membuka kado berwarna biru itu. hatiku kesal, marah, sedih, semuanya bersatu. Aku menangis sejadi-jadinya. Selamat jalan Amrul. Tunggu aku.

Editor: Shofiatul Husna Lubis

1 comment

Tingggalkan Komentar Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.