Jus Stroberi Membawa Malapetaka

- Advertisement -
(Ilustrator: Muhammad Tri Rahmat Diansa)

Penulis: Miftahul Zannah

Kring…kring…kring… suara jam beker berbunyi. Langsung ku bereskan tempat tidur dan melipat selimut tebal, sekaligus meletakkan boneka ping kesayanganku yang berdekatan dengan bantal. Aku bergegas salat subuh dan bersiap untuk sarapan.

“Lala buruan sarapan,” panggil Ibu.

- Advertisement -

“Iya, Bu, otw,” jawabku.

Otw bahasa apa lagi itu, enggak usah pakai bahasa yang aneh-aneh,” jawab Ibu dengan nada kesal.

“Hem, otw artinya on the way, cuma disingkat aja, Bu, biar cepat,” sambungku dengan santai.

“Alah suda-sudah cepat makan nanti ketinggalan angkutan umum lagi.”

“Oke Ibuku sayang.”

Setelah sarapan, aku langsung berpamitan dan menuju persimpangan untuk mencari angkutan umum. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat mobil yang tidak asing. Ya, benar itu mobil Mila.

“Eh, Lala, yuk bareng,” ajak Mila.

“Ih, enggak enak, deh,” jawabku dengan nada memelas.

“Kamu lebay, ayo aku hitung sampai tiga kalau enggak aku tinggal ini,” 

“Hehehe iya, kamu ini berdosa banget mau ninggalin aku,” jawab Lala dengan wajah polosnya.

Mereka pun sampai di sekolah dan melihat Rena, Kayla, dan Sena sudah menunggu di taman sekolah.

“Hem, kalian lama amat untung belum bel masuk,” omel Rena.

“Maaf, ya, guys aku sama Lala lama, itu saja tadi aku liat Lala di simpang jadi bisa bareng deh. Kalau enggak, mungkin dia sudah terlambat,” jawab Mila.

“Hehe iya maaf ya semua,” jawab Lala.

Bel masuk berbunyi aku dan teman-teman masuk ke kelas. Kali ini pelajaran yang sangat ku suka, yaitu seni budaya.

“Selamat pagi anak-anak,” ucap Bu Ani.

“Selamat pagi, Bu,” jawab siswa serentak.

“Ibu mau memberi tugas. Tugasnya buat kelompok melukis alam yang ada disekitar kalian masing-masing terdiri dari lima orang, untuk kelompoknya bebas kalian pilih sendiri,”

Wah, kesempatan aku, Mila, Rena, Kayla dan Sena tepat lima orang jadi enggak perlu susah untuk mencari teman kelompok yang lain.

Istirahat…

“Kira-kira di mana nanti kita mengerjakannya, ya?” Tanya Rena.

“Kalau menurut aku, sih, taman biar lebih leluasa,” jawabku.

“Gunung aja biar bisa melihat keadaan yang sangat indah di atas puncak yang begitu tinggi, dihiasi awan putih menyelimuti langit dan memandang dia dari ketinggian,” ungkap Kayla.

“Eh, lu halu aja, sih. Hem, dia siap, Kay?” tanya Sena.

“Eh, hehe bercanda kok. Yasudah di taman saja,” jawab Kayla.

“Ih, kamu plin-plan, tapi benar, sih, taman kan luas banyak pohon-pohon lagi. Nah, jadi kita bisa melukis keadaan yang ada di sana,” jelas Mila.

“Oke nanti setelah pulang sekolah kita langsung ke sana, ya,” ajak ku.

Semuanya pun mengiyakan, tak terasa semua mata pelajaran telah berakhir dan kami langsung ke taman diantar oleh supirnya Mila. 

Taman…

“Di mana ini yang cocok biar keliatan semua?” tanya Mila.

“Sepertinya di bawah pohon pojok sana bagus, deh,” jawab Sena.

Kami pun menuju tempat yang di tunjuk oleh Sena, dan sekaligus menggelar tikar serta meletakkan alat lukis kami. Kebetulan aku dan Mila selalu membawa peralatan melukis. 

Guys, sepertinya kita butuh asupan, deh untuk mendapatkan ide-ide yang cemerlang,” tutur Kayla.

“Ih iyakan benar banget itu, perutku juga sudah keroncongan. Kruk..kruk,” jawab Sena

“Oke kita bagi tugas saja, aku dan Lala tetap disini. Kayla, Rena, dan Sena yang membeli makanan dan minuman,” terang Mila.

“Oke deh, makanan dan minumannya terserah kami, ya,” jawab Rena.

Aku dan Mila masih sibuk, kira-kira sisi taman mana yang bisa menjadi bahan lukisan kami. Selang beberapa menit setelah aku dan Mila diskusi dan menetapkan topik yang akan kami buat, Rena, Kayla, dan Sena pun kembali membawa makanan dan minuman yang banyak.

“Ya ampun kalau gini ceritanya kita kayak kemping hahaha,” ungkap Mila.

“Enggak papa jarang-jarang, loh, kita kemping di taman, biasanya kalo enggak di taman rumah Mila pasti Kayla,” terang Sena.

Rena pun membagikan makanan dan minumannya kepada kami, tanpa basa basi lagi kami menyantapnya terlebih dahulu. Selang lima menit ketika hendak mengerjakan tugas, tiba-tiba perasaanku enggak enak, badan ku terasa gatal dan memerah.

“Loh, Lala kamu kenapa? Tiba-tiba badan kamu merah-merah begitu,” tanya Mila.

“Ih, enggak tahu, ni, gatal banget. Bantu aku dong. Oh iya, tadi kamu beli minuman apa buat aku?” tanya Lala.

“Tadi aku beli jus stroberi dan vanilla,” jawab Sena.

“Ha, stroberi? Aku mau pulang saja,” jawabku.

Ketika hendak bergegas pulang, tiba-tiba terasa gelap dan aku pingsan. Setelah mataku terbuka aku melihat tempat itu sangat asing dan melihat Ayah dan ibuku berada disana.

“Ayah, Ibu, Lala ada di mana ini?” tanyaku.

“Kamu di rumah sakit nak, dua hari yang lalu kamu pingsan dan enggak sadarkan diri,” jawab Ibu.

Aku baru ingat 2 hari yang lalu kami sedang mengerjakan tugas dan aku meminum jus yang kata Sena itu jus stroberi. Ya, sepertinya waktu kecil aku juga pernah mengalami seperti ini. Kala itu aku sedang haus dan menemukan minuman di dalam kulkas dan langsung meminumnya. Kejadian itu terulang lagi badanku memerah dan pingsan. Sekarang aku tahu ternyata dari lezatnya jus stroberi membawa malapetaka buatku.

Editor: Dita Saharani 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share article

Latest articles