Cinta di Balik Ka’bah /2/

- Advertisement -

(Ilustrator/Tumbularani)

Penulis : Miftahul Zannah

Setelah mereka mengenal satu sama lain, Tiba-tiba dokter masuk ke ruangan dan mengatakan kalau Rara sudah boleh kembali ke tempat penginapan.

- Advertisement -

Ali kemudian memesan taksi untuk mengantarkan Rara. Pada awalnya Rara menolaknya, tetapi Ali mencegahnya karena khawatir dengan Rara apabila kembali sendirian. Dan akhirnya Rara pun luluh.

Di perjalanan, Ali sedikit bercerita tentang aktivitasnya selama di Makkah. “Jadi mengapa kamu bisa tinggal di sini?” tanya Rara

“Ya… pada awalnya saya mendapatkan beasiswa dari kampus sebelumnya untuk lanjut di Universitas Umm Al-Qur’an Mekkah, setelah selesai pendidikan saya di minta oleh guru saya untuk menjadi imam masjid, dan saya putuskan untuk tetap tinggal di sini dan mengajak orang tuaku untuk tinggal bersamaku,”

“Masyaallah ternyata kamu berprestasi ya!!”

Tiba-tiba Ali memberi pertanyaan yang membuat Rara gugup untuk menjawabnya. “Ra, apa kamu sudah mempunyai pasangan?”

“Hem… sampai saat ini belum ada. Tapi sudah beberapa kali ibuku menjodohkan dengan pria yang sama sekali aku tidak tertarik. Entah kenapa sepertinya hati ini belum saatnya untuk menikah, karena aku masih mau menjalankan karirku. Kalau kamu sendiri gimana?”

“Sama seperti kamu, sendiri itu nyaman. Walaupun menikah adalah fitrah setiap orang, tetapi saya belum menemukan sosok wanita yang membuatku nyaman. (Kalau mengobrol sama kamu seperti ini rasanya nyaman sekali, tapi rasanya jantungku mau copot),” tambah Ali dalam hati.

“Ah ya Ali, besok saya akan pulang ke Indonesia, saya harap kamu ikut mengantarkanku ke bandara besok. Apa kamu mau?” tanya Rara. 

Masih dalam keadaan bengong. “(Secepat inikah pertemuanku dengannya),” gumam Ali.

“Ali… Ali…” Rara melambaikan tangannya ke hadapannya, Tetapi Ali tidak merespon, kemudian Rara menepuk tangannya dan berhasil.

“Astagfirullahalaziim… maaf Rara, aku tidak merespon kamu bicara,” sesal Ali.

“Emangnya kamu memikirkan apa? Ah saya tahu, pasti kamu memikirkan saya besok pulang ya?”

Idihh.. percaya diri banget sih. (Padahal dalam hatinya ia),” tambah Ali dalam hati.

“Saya memikirkan besok bisa mengantar kamu atau tidak. Soalnya anak murid saya besok mulai belajar kembali.” kata Ali mengingat jadwalnya besok 

“Kalau tidak bisa tidak apa, saya tidak maksa, kalau kamu bisa ya saya sangat senang, tapi kalau tidak bisa ya…..” kata Rara terpotong.

“Hem.. liat besok deh. Sudah sampai nih kita, saya antar kamu sampai sini saja ya. Saya tidak bisa ikut masuk, soalnya tugas saya masih ada.” ucap Ali.

“Oh iya tidak apa, kamu hati-hati di jalan ya.” pesan Rara.

Dan keesokan harinya Rara dan seluruh jamaah akan berangkat. Rara masih menunggu kedatangan Ali. Sampai ia ditegur oleh petugas  yang membawa mereka. Iya meminta waktu sebentar lagi.

“Kita akan terlambat dan ketinggalan pesawat apabila waktunya ditunda tunda mbak.” Kemudian Rara pun akhirnya menuruti perkataan petugas. Dengan hati kecewa Rara sampai di bandara. Di bandara Rara kepikiran dengan Ali, apakah semalam adalah pertemuan terakhirnya dengan Ali, sambil meneteskan air mata kekecewaannya.

Dan seluruh penumpang dipersilahkan masuk ke pesawat. Tidak beberapa lama kemudian pesawat pun melaju. Tetapi Rara masih saja melihat dari kaca jendela pesawat. 

“Selamat tinggal tanah suci, semoga saya bisa kembali ke sini lagi dalam keadaan sehat walafiat. Dan selamat tinggal Ali semoga kamu hidup bahagia, dan jangan pernah lupakan saya” ucap Rara dalam hati.

Bersambung….

Editor : Rindiani

Share article

Latest articles