Bunga Tidur

(Ilustrator/Mhd. Haris)

Penulis: Iin Prasetyo

Menyerupai rintik rinai peluhku/ tapi aku tak menikmati kemarau dan dibasahi rinai tak pula/ aku hanya menginginimu, tidak hampa balasan rindu/ bila, kurasai sesuatu yang ada dalam dadamu/ pada jarak terdekat kau menepati ujung mataku, perlahan menjumlah jemari — dalam satu rasa, kita memberai rindu di satu titik temu,/ sayang, itu cuma asa yang rahasia.//

Krik-krik-krik… bersahutan jangkrik-jangrik pemecah sepi dini hari, sekerlip pejam tak sampai nikmati mimpi. Angin dingin menyelinap dari ventilasi jendela tiga sisi menerbang-nerbangkan tirai dan mengembus setiap sela tubuhnya, ia nikmati desah khayal sang pujaan sanubari. Serupa hewan nokturnal, aktif pada malam hari. Pikirannya menekunkan rumusan diksi larik demi larik, menyiratkan pengertian rindu yang luas namun, memfokus pada satu paras.

Ada yang berbeda pada suasana hatinya. Kekesalan lantaran (tak cuma) rindu pada sosok lelaki dalam setiap larik puisinya. Waktu demi waktu, tanpa jeda, bejibun pertanyaan kapan dan di mana titik pertemuan menyibak rindu dalam sekelumit kenyataan, hangat dalam lekat dan menyatu-padu dua jiwa di bilangan kasih teguh.

Entah apa yang ada dalam khayalnya, ia seperti telah diperbudak rindu — sesak sebak di dada memeras kekuatan daya tahan tubuhnya. Kendali diri yang sulit ia atasi, napas terengah-engah, sepasang mata sembap, dua bidang pipinya semakin menipis, kerutan dan noda hitam tanda penuaan dini di wajahnya memperjelas pada kediriannya dalam tekan batin, begitulah rumusan masalahnya, ya, apalagi kalau bukan tentang rindu, rindu.

Al Fioni si penyair sendu. Ia sangat membenci rindu, sebenarnya. Namun, rasa yang terpatri di relung sanubari sepadan dengan rindunya sehingga ia tak bisa membenci. Ty, si pangeran dalam diksi-diksinya. Ty-lah, suspect kekacauan batin Al Fioni. Setahun kurang dua minggu mereka bertahan entah dalam ikatan apa pada jarak dan masa yang tak terbilang. Seiya-sekata dalam satu asa-satu rasa, saling kagum yang mendalam — mereka, dua belah hati yang yakin dipersatukan yang Maha Satu. Berpegang pada mufakat itu Ty dan Al Fioni terus menjaga komunikasi segenting apa pun.

Nyatanya, ini sudah hari ke dua puluh sembilan selama setahun menjalani komunikasi jarak jauh Ty tanpa kabar. Seperti kehidupan pra-medsos, tak ada media sosial yang dimanfaatkan sebagai pintasan yang menyempadani dua negeri. Hubungan mereka terasa semakin rumit.

***

“Al, aku di sana belajar. Kalau studiku sudah siap aku langsung balik dan kita menikah,” sejuknya ucapan Ty meyakinkan Al Fioni.

Tidak ada sekata pun dari Al Fioni, titahnya seperti larik-larik diksi yang menubi indah dan lugas itu seakan tak mampu menyanggah ujaran Ty, hatinya larut dalam rasa percaya. Ia hanya mampu tersenyum, senyum tawar seakan tak rida mengucapkan safe flight, “Safe flight pangeranku.”

Jiwanya hambar. Ketika jarak antaranya dengan Ty adalah babak masalah baru — entah bagaimana nanti penyelesaian masalah komunikasi mereka. Sampai-sampai ilusi di pikirannya kalau nanti Ty membawa calonnya dari Mesir, rapuh — sakitnya tak bisa dikiaskan oleh bahasa apa pun.

Ia mengenal Ty sejak SMA. Satu sekolah, Ty adalah seniornya. Intinya mereka saling mengagumi. Tidak ada waktu yang pas untuk saling mengungkap rasa yang serupa di hati keduanya. Pacaran? Mereka paham itu bukan pilihan yang juga pas.

Rasa itu, semakin lama kian berkesinambungan. Siapa yang dapat menahan fitrah manusia yang satu ini? Omong kosong: kalau dia dapat menahannya sendirian. Ty cukup manly. Semua rasa kagum telah diungkapnya kepada Al Fioni. Tapi, ia tak mau gegabah atas masalah yang cukup rumit ini, ia tak mau terperosok pada situasi yang nantinya memaksa pemikirannya bahwa rasa itu tak lagi indah, (salah satunya) dikarenakan cemburu.

Bijaksana sekali, ia fokus belajar dan berprestasi sebab, masa mudanya tak akan dapat direvisi — sedang ketertarikan pada lawan jenis tak hanya bisa direvisi (mungkin) bisa dicari lagi. Mendapat beasiswa pascasarjana di Univesitas Iskandariah adalah perjuangan yang tak seringan kapas, butuh komitmen. Kendati, Al Fioni juga bagian dari komitmennya.

***

Dini hari hampir menjangkau kidung subuh, jarum pendek jam dinding belum berkutik di antara angka empat dan lima. Sesak sebak di hatinya berpadu dengan kantuk. Entah, ia terus gelisah resah, lembaran puisi tak mampu menampung luapan rindu yang menekan hati. Napasnya seakan mau habis. Gemetaran. Pandangannya hampa, seakan ia mendengar menyatunya suara riang-riang dan denging ujaran janji tiga ratusan hari yang lalu, ‘kalau-studiku-sudah-siap-aku-langsung-balik’. Tertidur ia — terbaring dalam kekacauan jiwa.

***

Degup jantungnya semakin tak karuan. Peluh seni terus bercucuran entah ke mana muaranya, kedua tangannya mencengkram seprai hingga lepas dari simpulan kasur pegasnya. Kedua kakinya terus berganti posisi: melekuk kemudian lurus lagi dan berulang-ulang begitu. Matanya memaksa memicing. Mulutnya seakan mau memekik tapi terbungkam. Rambutnya acak-acakan seiring pergerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan cepat. Ia merintih-rintih.

***

Saya terima nikahnya…// Sah?// Sah….

Hancur — apa yang telah ia dengar meluluhlantahkan pertahanan jiwanya.

Seperti derasnya hujan melampau dataran tinggi gersang terban tanahnya di kerendahan. Sedu sedan, air mata seorang perempuan penyair sendu itu larut bersama peluh membasahi sekujur tubuh.

Pikirnya: ‘inikah jawaban rinduku, Ty? Saat aku terus khawatir pada ruang sela dan masa yang terpenjara. Saat kau bilang kau akan balik saat itu juga aku terus merakit jiwaku menjadi kekuatan utuh, inilah nilai sebuah percaya, Ty. Berkian-kian waktu rindu ini seperti tirani, kau balik kau pun bertandang di arah yang berlawanan dari kediamanku, rumah perempuan asing. Siapa dia, Ty?’. Entah bahasa yang bagaimana dapat mewakili kepedihan hatinya. Tergerus air mata pilu dan terjerembap oleh keterpurukan yang semestinya ia bangkit dari jatuhnya — ia tak bisa begitu.

Dini hari meraih batasannya, jarum pendek jam dinding telah beranjak tepat ke angka lima. Kamar yang dingin kontras dengan suhu badannya, penuh keringat. Seprai  yang mengalasi tidurnya pun lembab dan acak-acakan.

Ia masih terpejam.

‘… hoo, you stress me out you kill mee/ you drag me down you fuck me up/ we’re on the ground, we’re screaming/ I don’t know how to make it stop – …//’ -nada panggilan ponselnya, lagu: Back to You, dari: Louis-

“Hem…,” gumamnya masih terpejam lesuh. Ia tak melihat nama yang memanggil di ponselnya.

“Hei, aku mau balik besokkk. Maaf, kalau hampir sebulan ini aku nggak ada kabar. Ponselku hilang, lagian aku sedang ujian akhir semester. Saat itu benar-benar genting. Dan sekarang kegentingan itu sudah selesai…. oke, baik kau tak perlu tanya lagi masalah ini, setuju?” dari kota Alexandriah, Mesir Ty menelepon Al Fioni. Heboh, memekakkan telinga.

Perempuan sendu itu bangkit, duduk, dan terbelalak sambil meraba-raba badan dan seprainya yang lembap. Sementara ponselnya tak lagi di genggaman — ia terperanjat kalau barusan yang ia alami tentang pernikahan itu, hanya….

Halo…halo, Al, kau baik-baik saja?” Ty terus memanggil dalam ponsel yang terletak cukup jauh dari telinganya.

Al Fioni duduk menekur, menekuk kedua lutut sambil menyisir rambut dengan sepuluh jarinya.

Editor: Ayu Wulandari Hasibuan

Latest articles

Pemilihan Pengurus Baru, PEMAPASID Adakan Musyawarah Besar

Medan, Dinamika Online – PEMAPASID (Persatuan Mahasiswa Kota Padang Sidempuan) telah mengadakan musyawarah besar dengan tema "Menciptakan Generasi Kader Pemapasid yang Memiliki Nilai Ukhuwah...

Cara Jitu Bangun Pagi

Penulis : Nurur Ramadhan Nasution Mayoritas orang memiliki harapan untuk bangun pada pagi hari, mulai dari kalangan pelajar yang masih duduk di bangku sekolah, mahasiswa,...

Bangun Potensi Buat Berita, Jurnalistik Syams Gelar Pelatihan

Medan, Dinamika Online – Guna membangun potensi dalam pembuatan berita, i Jurnalistik Syams MAN 1 Medan menggelar pelatihan dengan pembahasan “Membuat Berita”. Pelatihan ini...

Antisipasi Penyebaran COVID-19, Dema FIS Langsungkan Kegiatan Berbagi

Medan, Dinamika Online - Untuk menghindari penyebaran Covid-19, Dema Fakultas Ilmu Sosial (FIS) mengadakan kegiatan berbagi dengan tema "Katakan Tidak pada Corona". Kegiatan ini...

Langgar Prokes, Pemko Medan Tutup Sementara Tempat Usaha

Medan, Dinamika Online – Dilansir dari laman resmi Humas Pemko Medan, Pemerintah Kota Medan melalui Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) mengumumkan bahwa...