Aku Si Mahasiswa Tingkat Akhir

- Advertisement -
(Ilustrator: Muhammad Tri Rahmat Diansa)

Penulis: Risma Dona Siregar

Waktu menunjukkan pukul tujuh, matahari terasa cepat menebarkan senyumnya. Pagi ini angin menghembuskan kerinduannya pada dedaunan yang kian menguning. Diriku mencoba menghitung daun yang jatuh satu persatu, hembusan angin semakin kuat membuat jilbabku pun melambai-lambai. Terik matahari kian panas, aku pun berhenti menghitung daun melangkah keluar pagar dan menatap jalan yang lurus. Anak-anak berangkat sekolah, beberapa roda dua melewatiku dipinggir jalan. 

Aku teringat sebuah pesan yang dikirim via sms yang isinya; Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang bangun di pagi hari dan hanya dunia yang di pikirannya, sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak Allah dalam dirinya maka Allah akan menanamkan empat penyakit: Kebingungan yang tiada putus-putusnya, kesibukan yang tidak pernah ada ujungnya, kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi, dan khayalan yang tidak berujung.” (HR. Imam Thabrani).

- Advertisement -

Pandanganku masih tertuju pada anak-anak yang berangkat sekolah, berjalan sambil bercanda dengan kawan-kawan.  Aku sejenak termenung di ujung pintu pagar, sesekali ku tatap matahari.

“Kak, sedang apa di situ, berjemur, ya?” Maulina mengagetkan ku

“Hai, dek Lina, cantik kali hari ini, mau ke mana?” Aku tak menjawab pertanyaannya namun aku memujinya. Aku pernah mengikuti pelatihan motivasi, kata pematerinya dalam sehari kita harus memuji orang tapi aku lupa kenapa harus memuji.

“Ah, kakak ini, Lina mau kerja, Kak.”

“Oh,mau berangkat kerja,” sahutku.

“Iya Kak, balas Lina.

***

“Perjuangan ini menuntut pengorbanan darimu,” kata-kata ini selalu terngiang di telingaku.

Aku adalah mahasiswa semester tujuh, bisa dikatakan mahasiswa tingkat akhir. Lika liku rumit perkuliahan kini hampir ku masuki. Ya, aku yakin semua mahasiswa pasti merasakan hal yang sama. Perjalanan ini menyita waktu dan tenaga, terkadang air mata dan keringat. Masa-masa pahit di kampus itu dirasakan saat menjadi mahasiswa akhir. Aku percaya tidak ada mahasiswa akhir yang tidak merasakan kejenuhan, sakit, kecewa dan sedih juga bahagia saat skripsi di acc. Hal yang perlu dibekali dengan tebal adalah kesabaran dan kegigihan.

Aku yang saat ini menjadi mahasiswa akhir, merasakan banyak hal di perjalanan ini. Terkadang hampir rapuh, butuh kekuatan dan kesabaran yang ekstra penuh untuk menjalaninya. Satu hal yang membuatku tetap bertahan hingga saat ini yaitu orang tua. Wajah mereka selalu di pelupuk mata, karena merekalah aku ada dan aku bisa sampai disini. Mereka mengorbankan apa saja untuk anaknya, kebun, tanah dan emas tak bernilai di mata mereka asal anaknya bahagia dan sukses mereka juga ikut merasakan bahagia.

Orang tuaku adalah sang motivatorku selama ini. Aku selalu mengeluarkan air mata bila ingat mereka, pengorbanan dan ketulusan mereka tak mampu aku balas. Jika orang tuaku butuh tulang maka akan kuberikan tulangku ini untuk mereka. Teringat saat masih semester pertama, saat mau berangkat ke perantauan, kubasuh kaki mereka  dengan air yang telah ku sediakan, sembari menangis aku berkata;

“Yah, Mak, mohon maaf bila selama ini aku menyusahkan ayah sama mamak, mohon doanya untuk kakak ya,” ucapku dengan mata yang berkaca-kaca.

Ayah dan umakku pun tak bisa menahan air mata, mereka peluk dan cium aku. Aku tahu perasaan mereka yang begitu berat membiarkan anak perempuannya yang sering sakit kini malah jauh dari pandangan mereka. Air mata saksi perjalananku ke perantauan. Aku tak kan sia-siakan pengorbanan mereka.

Segala hambatan dan rintangan yang saat ini dan nanti kuhadapi tak akan kubiarkan membuatku berhenti berjuang. Hal ini harusku jadikan fondasi untuk lebih semangat mengejar cita-cita dan membuat perjuangan orang tuaku tidak sia-sia. Mereka harus melihat anaknya dengan bangga. 

Segala keluh kesahku selama ini selalu kuceritakan pada umakku, tidak lupa dengan nasehat-nasehatnya yang selalu membuatku bangkit lagi di setiap akhir percakapan kami. Orang tua kita adalah orang yang paling mengerti dan paham tentang kita. Pada saat kita bahagia mereka akan turut bahagia. Begitu pun saat kita sedang sedih, sedang bingung atau bahkan kita termenung dikarenakan banyaknya masalah yang dihadapi. Walaupun kita tidak menceritakan nya, orang tua kita pasti langsung paham saat melihat kita. 

Selalu diberi semangat dan nasehat bukan berarti aku tidak pernah merasa lelah dan hampir putus asa. Apalagi di posisiku saat ini yang menjadi mahasiswa akhir, lengkap dengan segala kerumitan tentang perkuliahan. Hingga suatu saat ibuku melihat langsung saat aku merenung.

“Kak, sedang apa di situ sendirian, mikirin apa sih?” tanya umakku.

“Enggak Mak, cuma lagi mikirin tentang perkuliahan,” jawabku dengan wajah yang berusaha tersenyum.

Sekarang posisiku memang sedang di rumah dikarenakan pandemi yang tak kunjung berakhir. Setelahnya aku dan emakku bercerita panjang, aku memang selalu menceritakan apa pun kepada emakku, apalagi masalah atau saat aku bingung memilih sesuatu. Kuceritakan semua yang sedang kupikirkan. Hingga akhirnya ibuku kembali memberiku sinergi lewat nasehat dan kata-kata motivasinya. 

Selama ini aku percaya betul, kalau bercerita adalah salah satu cara mengurangi beban pikiran. Apalagi kita bercerita kepada orang yang tepat. Orang tua tidak mungkin membuat anaknya merasa tersesat sendirian. Ia akan berusa mencari dan memberikan jalan keluar dari permasalahan. 

Tetapi hanya kepada orangtua saja aku begitu terbuka, berbeda dengan teman-teman ku, walau mungkin orang mengira aku memiliki banyak teman, tetapi tak satu pun dari mereka yang tahu tentang perjalanan hidupku, bahkan sahabatku sendiri. Itu adalah prinsipku selama ini, berteman tetapi bukan berarti harus menceritakan setiap masalah. Setiap aku diterpa kesulitan atau masalah aku hanya meminta doa dari mereka tanpa memberitahu masalahnya.

Kembali lagi ke topik, tentang aku yang sedang di fase akhir. Ya, semua kesulitan-kesulitan yang kuhadapi di awal perkuliahan tingkat akhir ini, tidak akan kubiarkan menghambat perjalananku. Aku harus berjuang lebih keras lagi. Ini belum seberapa dibanding senior yang mungkin sekarang melebihi batas per semester dalam perkuliahan dikarenakan kesulitan yang selalu menghampiri. Baik itu datangnya dari diri sendiri atau mungkin dosen pembimbing yang lumayan susah untuk bekerja sama.

Banyak hal yang memang menjadi sebuah pengalaman ketika menjadi mahasiswa akhir. Setiap mahasiswa pasti mempunyai satu kendala yang membuat dia belum selesai. Begitu juga denganku. Aku harus berusaha, belajar serta berdoa agar Allah mempermudah segala urusanku, hingga aku bisa lulus tepat waktu. Hal yang kuimpikan salah satunya adalah ingin melihat senyum orang tuaku di acara wisuda nanti, tentu hal itu akan ku abadikan lewat foto bersama dengan wajah nan bahagia orang tuaku. 

Ayo, lebih semangat lagi di tingkat akhir karena sesungguhnya ini adalah awal bagi kita untuk memasuki dunia yang lebih berat lagi.

Editor: Anggia Nurulita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share article

Latest articles