Aku Ingin Punya Teman /2/

(Ilustrator: Putry Ayu Dahniar)

Penulis: Yaumi Sa’idah

Saat malam tiba, ayunan belakang rumah menjadi tempat kesukaan untuk berbincangku bersama bintang-bintang yang kuanggap sebagai temanku.

“Apakah aku terlalu buruk untuk mendapatkan seorang teman? Hanya satu orang teman saja, aku ingin satu saja sudah cukup. Kalian mengerti yang aku rasakan bukan?” ujar Sina seakan-akan para bintang di langit akan menjawab pertanyaannya.

“Ih, apa tidak dingin duduk di ayunan itu selama satu jam?”

Suara itu membuat Sina langsung membalikkan badan untuk mengetahui siapa yang menyapanya selembut itu di malam hari. Seorang gadis berambut panjang yang mengenakan pakaian serba merah dengan rambut sepundak terurai dengan lurus. “Dari mana dia datang?” “Bagaimana dia masuk ke rumahku?” “Dan siapa dia?”

Aku sudah sangat takut. Keringatku mulai membasahi pelipis dahiku. Aku langsung berpikiran bahwa gadis ini adalah makhluk tak kasat mata. “Aku ingin seorang teman, bukan hantu,” jeritku dalam hati.

“Aku saja sudah kedinginan hanya untuk berkomunikasi denganmu disini.”

“Kamu siapa?”

“Kamu tidak tahu aku? Kamu tidak mengingatku sama sekali?”

Aku menggelengkan kepala menjawab tidak sama sekali. Aku tidak ingat siapa gadis itu. Bahkan siapa namanya juga tidak aku tahu.

“Baiklah, tidak masalah, dalam waktu dekat kamu akan mengetahuinya,” ucapnya sambil mendekat ke arahku.

Gadis itu berjalan kearah ayunanku dan duduk disebelahku. “Namaku adalah Sani.”

“Sani? Mengapa bukan Sania. Aku masih acuh tak acuh kepada keadaan di mana ia mulai becerita tentang suasana malam itu.

“Bagaimana kamu bisa tahu aku di sini?”

“Karena … aku juga suka suasana tempat ini, dan aku sangat merindukannya.”

“Merindukan?”

Jawaban Sani tadi membuatku semakin bingung. Apa yang dia rindukan? Hanya aku di sini saat ini, dan aku baru melihat Sani malam ini. Walau sebenarnya, seakan-akan kami pernah bertemu, tapi entah di mana. Kepalaku langsung pusing ketika mengingat suatu hal dengan terpaksa.

“Kepalaku pusing, aku akan masuk,” ujarku dengan pelan sambil meninggalkannya seorang diri di ayunan tadi. Aku tidak memperdulikan apakah tindakanku kurang ajar atau semacamnya.

Setelah aku sampai ke kamar, aku mengintip ke arah luar untuk melihat apakah gadis misterius itu masih berada di sana. Tidak ada, kosong. Tidak ada siapa pun di taman itu. Aku mengira dugaanku telah benar, dia adalah gadis tak kasat mata. Ya Tuhan, apa yang terjadi padaku.

***

Sesampainya di sekolah pagi hari, aku disambut oleh ejekan-ejekan “kaki pendek” yang telingaku saja sudah muak dengan kata-kata itu. Mama pernah bilang, kalau dulu kakiku pernah diamputasi sebagian karena sebuah kecelakaan. Tapi, aku tidak pernah ingin menyalahkan takdir saat itu. Itu sudah menjadi alur hidupku untuk bertemu dengan seseorang yang selama ini aku rindukan.

“Sina, kakimu bertambah pendek, lihatlah.” Mereka menertawakanku dengan ejekan rendahan seperti itu.

Saat jam pelajaran berlangsung, seorang gadis berpakaian seragam sekolah lengkap dengan hiasan pita di kepalanya sedang berdiri di depan pintu coklat kelasku. Aku mengerutkan dahiku.

“Mengapa gadis misterius itu ada dihadapanku saat ini, mana mungkin siang bolong begini ada hantu,” pikirku dengan sangat bingung.

“Nah, anak-anak, kita kedatangan anak baru di sini, namanya adalah Sani Artika Putri, dia adalah pindahan dari Jawa Barat. Nah Sani, bisa duduk di sebelah Sina.”

Ternyata dia bukan hantu.  Dia manusia. Saat dia hendak duduk, dia tersandung oleh tongkatku yang kuletakkan di sebelahku.

“Bisa gak sih, kalau hidup itu jangan membahayakan orang lain, udah cukup merepotkan kamu di sini, jangan buat kesal anak baru bisa gak sih, ha?” bentak Laras kepadaku.

Aku terdiam, ingin menangis, ingin rasanya aku membentaknya kembali, tetapi aku juga tidak mempunyai seorang teman yang bisa mendukungku untuk itu. Aku tidak ingin dikroyok satu kelas.

“Kamu siapa? Bagaimana kamu datang ke rumahku tadi malam? Sekarang berada di samping tempat dudukku lagi.” Beribu pertanyaan masih tersimpan rapi di kepala kecilku ini.

Sani dengan senyum yang sangat damai mendekat ke arah telingaku dan berkata “Biarkan album biru yang akan menjawab semua pertanyaanmu”

“Album biru?”

Bersambung

Editor: Nurul Liza Nasution

Latest articles

Beramal Baiklah Layaknya Seperti Lebah

Penulis : Khoiriah Syafitri “Teruslah berbuat kebaikan dan jangan pernah bosan. Sebab tidak ada balasan untuk kebaikan melainkan kebaikan itu juga bahkan kebaikan yang lebih...

Masih Bertahan dalam Bosan?

Penulis: Muhammad Tri Rahmat Diansa Beberapa bulan sudah terlewat dan kita masih dipisahkan oleh jarak, sebab pandemi yang seolah tak ingin mengakhiri. Rasa bosan, jenuh,...

Tingkatkan Generasi Qur’ani, JPRMI Adakan Tablig Akbar

Medan, Dinamika Online - Dalam rangka meningkatkan generasi qur’ani organisasi Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) mengadakan kajian tabligh akbar dengan mengusung tema...

It’s Okay: Perjalanan Mencari Jati Diri

Judul : It's Okay to Not Be Okay atau Psycho But It’s Okay Genre : Romansa-Drama Sutradara : Park Shin-woo Penulis : Jo...

Tatang Koswara: Sniper Kaliber Dunia

Judul buku : Satu Peluru Satu Musuh Jatuh: Tatang Koswara Sniper Kaliber Dunia Penulis : A. Winardi Penerbit : Penerbit Buku Kompas Tahun...