Foto: www.google.com

Penulis: Saiful Hadi Pulungan

Pagi itu, matahari menyinsing. Disela jerjak besi jendela kamar terasa sinarnya mengintip dan membangunkanku. Sekumpulan burung walet tampak menyusuri langit. Dedaunan kering seketika gugur, lalu terbang disambut angin.

Kulihat jam dinding kamarku, tik, tik, tik, (suara yang aneh pikirku). Aku lupa jikalau hari ini adalah hari pertamaku sekolah, setelah sekian lama libur. Ada rasa bosan dan malas kurasa, apalagi, di hari pertama pastinya tidak ada kegiatan yang bermanfaat menurutku, biasanya disi dengan prosesi perkenalan (budaya yang aneh menurutku).

Kupakaikan baju lengan pendek dengan motif batik berwarna biru muda, dipadu dengan sedikit liris-liris simbol tut wuri handayani disekelilingnya. Dengan gagah kusigapkan rambutku dan menutupnya dengan topi, ditambah sepatu elegan dengan brand Paladio berbentuk pansus kesayanganku.

Sampai di sekolah, dengan sigap langkah kaki berdegup tegas, dada busung, ditambah senyum segaris di bibirku. Kususuri lorong-lorong kelas, dengan bertegur sapa kepada teman, guru, dan tidak lupa Pak Adit, sang penjaga sekaligus pembersih sekolahku. Bel berbunyi, tenoonet, tenoonet, tenoonet, lalu terdengar suara dari arah kantor sekolah, “kepada guru-guru, dan para siswa dipersilahkan mengambil posisi di lapangan, upacara bendera sebentar lagi akan dilaksanakan,” sambut Bu Nia selaku Tata Usaha sekolah.

Usai upacara bendera, aku duduk melamun di atas kursi kayu panjang yang hampir reyot, ya, seperti inilah kebiasaanku di sekolah yang menurutku sangat membosankan. Bagaimana tidak? Semua anak membenciku hanya karena profesi orang tuaku, sebagai penjual gorengan keliling. Hanya karena keputusanku bersekolah di sekolah elit ini, menambah mereka semakin miris melihatku. Padahal jika bukan karena beasiswa yang aku dapatkan, bisa saja aku sudah melawan perbuatan mereka yang menurutku sudah di luar batas kemanusiaan.

Bel istirahat berbunyi, semua anak berhamburan ke luar kecuali aku. Aku terduduk, seluruh wajahku tertutup oleh sweater liris hitam yang sering kupakai. Cukup lama aku terdiam, menuai lamunan semu, hingga pada saatnya aku merasa bosan, dan kuputuskan untuk beranjak mencari udara segar dengan harapan ada yang menegur dan bertutur sapa denganku.

Dengan berjalan menunduk menyusuri blok kelas, aku selalu mendapat cibiran dari para mulut kejam mereka yang tak henti-hentinya membicarakanku. Aku tak peduli, bahkan tak membuatku gundah sedikit pun. Tiba-tiba terasa sesuatu mengenai kepalaku, benda itu terjatuh tepatnya di kakiku. Parahnya lagi itu hanya botol air mineral yang tak berisi, kupungut dan kumasukkan ke dalam tong sampah.

Semua anak menghampiriku, salah satu dari mereka mendorong tubuhku hingga aku tersungkur ke lantai. “Bangunlah, ayo bangun anak miskin,” ucap seorang anak laki-laki yang mendorongku. Aku hanya bisa menangis menunduk, semua anak memukuliku hingga seluruh wajahku memar. Tak berselang lama, tiba-tiba seseorang datang, yang tak lain adalah Khanza, teman sekelasku yang terkenal suka membaca buku-buku sejarah. “Hentikan semuanya,” teriak Khanza sambil membawa guru BP. Seketika semua murid yang mengelilingiku terkejut dan spontan berlari berhamburan memasuki ruang kelasnya masing-masing.

Khanza secepat mungkin mendekatiku dan membantuku berdiri, “Kau tak apa Mim,” tanya Khanza lembut. “Tidak za, aku baik-baik saja,” jawabku menunduk. “Lebih baik kau obati dulu lukamu, kubantu berjalan ke UKS sekolah,” lanjutku sambil menopang tubuhnya di sisi kiriku. Setelah selesai diobati. Pak Maskur, wali kelasku mengizinkanku untuk pulang lebih dulu. Aku sangat bersyukur, sebab ini kali pertamaku bisa pulang lebih dulu dibanding hari biasanya.

***

Sudah hampir seminggu ini aku akrab dengan Khanza. Selain di kelas, Khanza juga satu forum diskusi di organisasi sekolah.  Apalagi kami adalah siswa yang katanya tersisihkan karena terlalu sibuk dengan membaca buku-buku klasik, fiksi, dan non fiksi.

Siang menjelang sore, langit tampak gelap dengan gumpalan mesranya. Sekawanan burung walet dengan kicauanya terasa mengudara membentuk rasi segi lima dilangit-langit bumi. Tetesan air mulai berjatuhan satu-persatu membasahi pejalan kaki, pedagang kaki lima yang bertengger di pinggir ruas jalan.

Khanza dan aku, berteduh di salah satu kedai edukasi. Sekeliling kedai itu terdapat buku-buku yang bergelantungan. Di bagian pojok kanan kedai tampak perpustakaan mini yang menyimpan berbagai ragam koleksi buku dari beberapa genre yang ada. Kami duduk, sambil menikmati secangkir kopi arabica dengan tastenya yang kental dan hitam pekat. Diseduh langsung oleh Pak Tiam, pemilik kedai kopi tersebut. Sembaring menunggu redanya hujan, Mim, Khanza dan Pak Tiam membuka diskusi kecil yang sifatnya membangun menurutku.

Aku masih tak paham dengan jalan pikiran Pak Tiam. Hanya bisa menerka-nerka maksud perkataannya tadi. Bahan mungkin aku bakal ditertawakan oleh Khanza karena lemotnya cara berpikirku. Hingga akhirnya, Pak Tiam duduk kembali di samping kami sembari menatap.

Akhirnya Pak Tiam menjelaskan kembali maksud dan tujuan dari perkataannya tadi. Sepanjang cerita itu, Mim, Khanza, dan Pak Tiam terasa amat dekat. Seakan sudah mengenal satu sama lain, bercanda ria, sharing, dan dapat pengalaman baru pastinya dari sepenggal cerita dari Pak Tiam. Sampai-sampai waktu magrib hampir tiba dan hujan yang sedari tadi mulai reda.

Ada pesan yang tersirat di dalam pertemuan itu, “Siapa dan di mana pun kita. Jangan pernah berpikir untuk melakukan hal yang instan, sebab proses jauh lebih mahal harganya di kemudian hari nanti. Dan menjaga ukhuwah di mana pun kita berada,” orang yang menjalin tali silaturrahmi kepada saudaranya Insya Allah, akan panjangkan umurnya, mudahkan rezekinya, dan berkah hidupnya (itu janji Allah), cernaku.

Editor: Siti Arifah Syam

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry