Ayah, Terima kasih Untuk Segalanya /3/

Ilustrator: Mhd. Haris

Penulis: Amelia Pratiwi

“Ayah sudah bilang berapa kali sama kamu Rena, jangan ikuti kegiatan tidak penting itu.” Ayah kembali marah ketika Rena tak kunjung mengikuti apa yang ayah inginkan.

“Kegiatan ini penting buat Rena, Ayah. Ini tahun terakhir Rena sekolah dan Rena ingin punya banyak teman dan kenangan,” jelas Rena.

Rena benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran sang ayah. Di saat dirinya akan mengikuti kegiatan pensi sekolah yang ia inginkan sejak dulu, tiba-tiba gurunya bilang kepada Rena bahwa ayahnya ada di depan gerbang dan ingin menjemput Rena pulang. Saat itu, Rena kesal sekali, dirinya begitu marah dan tak terima.

“Kamu gak boleh kelelahan, jadi turuti aja apa yang Ayah bilang,” kata ayah.

Rena menatap ayah tak terima, “Kapan sih Rena bisa melakukan segala hal yang Rena mau, kapan sih Ayah? Rena juga mau seperti Kak Disya, melakukan segala hal yang dia inginkan tanpa Ayah larang dan diatur. Hidup Kak Disya itu enak, bebas mau melakukan apapun. Rena juga ingin seperti itu. Rena sudah besar Ayah.”

Rena melihat sang ayah frustrasi, menghela napas dan mencoba tenang, “Kamu gak sama seperti Kak Disya. Kalian berbeda.”

“Maksud Ayah kami berbeda itu apa? Ayah tidak pernah menjelaskan segala sesuatu yang terjadi. Rena tidak mengerti.” Rena mengucapkan kalimat itu sambil menatap ayahnya sedih.

Tak lama, Rena pergi dari hadapan sang ayah, Rena ingin menjenguk kakaknya Disya. Rena ingin menemani Disya untuk malam ini. Rena tak ingin bertemu dengan ayah, Rena tak peduli jika Disya tak menyukai kehadirannya. Hal ini juga patut dipertanyakan, Rena tak mengerti mengapa Disya selalu terlihat malas jika bertemu dengannya.

Sesampainnya di rumah sakit, Rena tak mengetuk pintu kamar ruangan Disya. Gadis itu masuk dan duduk di hadapan Disya tanpa rasa segan sekalipun. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat Disya kaget.

“Astaghfirullah Rena, kamu gak sopan ih. Bukan ketuk pintu dulu atau salam.” Cerca Disya.

Rena menatap Disya sekilas, “Aku kesel sama Ayah. Aku kabur ke sini. Malam ini aku yang jagain Kak Disya.” Ketika Disya ingin protes, Rena dengan cepat menjawab, “Gak ada penolakan, yah. Aku males pulang.”

Disya menatap Rena yang kini tengah bermain dengan ponselnya, “Kenapa lagi kamu?”

Rena gantian menatap sang kakak, lalu menghela napas lelah. “Aku capek Kak, dilarang Ayah terus, aku gak bisa bebas dan menentukan apa yang aku mau. Aku sebel.”

Disya tersenyum miris. Rena seharusnya bersyukur jika ayah masih mau ikut campur tentang apa yang ia lakukan. Disya tak pernah merasakan hal itu.

“Bersyukur dong kamu, Ayah masih mau ikut campur tentang aktivitas kamu,” kata Disya.

Rena tertawa mendengarnya, “Denger ya Kak, Rena udah capek dilarang dan diatur terus, bersyukur bagaimana, kalau setiap apa yang Rena lakukan tidak pernah bisa mandiri dan memilih sendiri. Rena udah besar Kak, Rena ingin hidup bebas seperti Kak Disya.”

Disya terkejut mendengar pernyataan dari Rena, dirinya tak salah dengar jika Rena ingin hidupnya tak diatur seperti dirinya.

“Kak Disya punya hidup yang menyenangkan. Kak Disya bisa bebas melakukan segala hal yang Kakak lakukan tanpa dimarahi oleh Ayah. Aku ingin seperti Kak Disya.” Lanjut Rena.

Mendengar ucapan Rena membuat Disya tertawa lucu, Disya merasa ada yang tidak benar dalam keluarganya. Mengapa mereka jadi merasa iri satu sama lain, mengapa di antara mereka tidak ada yang bersyukur dan menjalankan hari dengan baik.

“Kakak justru ingin seperti kamu, Rena. Kakak ingin merasakan bagaimana diatur dan dikhawatirkan oleh Ayah. Kamu beruntung bisa mendapatkan itu. Kamu beruntung diizinkan untuk mengeluh dihadapan Ayah. Kamu beruntung Ayah mau mendengarkan keluh kesah kamu. Kakak gak pernah mendapatkan hal itu.” Disya tersenyum tipis.

“Kamu beruntung karena kamu selalu dianggap benar di mata Ayah. Kamu beruntung, Ayah selalu menyayangi kamu. Kamu harus bersyukur Rena. Kamu gak akan sanggup dan gak akan pernah mau punya kehidupan bebas seperti aku jika setelah lelah dan kamu gak tahu mau pulang kemana. Kamu gak tahu mau berteduh dan bercerita ke siapa. Kamu gak akan mau punya kehidupan bebas jika kamu gak punya siapa-siapa.” Lanjut Disya.

Rena terkejut ketika mendengar ucapan Disya. Rena tak pernah tahu bahwa kakaknya sudah sejauh ini melangkah dari mereka. Rena tak pernah tahu bahwa kebebasan kakaknya begitu menyiksa. Rena bahkan terkejut ketika kakaknya sudah tak menemukan kata pulang setelah lelah berpetualangan di dunia luar.

Rena hanya sadar bahwa kak Disya kesepian. Kak Disya sendirian. Fakta ini membuat Rena merasa bersalah. Rena tak punya niatan untuk merebut perhatian sang ayah. Rena tulus menyayangi Disya. Rena sangat mengagumi kemandirian kakaknya. Rena tak pernah tahu bahwa kakaknya selalu merasa sendirian di dunia padahal ia ada jika kakaknya butuh.

Tanpa mereka berdua sadari, Kevin sedari tadi mendengar obrolan mereka berdua di depan pintu. Kevin sedih melihat begitu rapuhnya keluarganya. Begitu menderitanya Disya karena hal ini. Kevin tak pernah tahu jika luka Disya sudah sejauh ini. Kevin benar-benar ketinggalan jejak tentang keberadaan Disya yang dekat tapi ternyata jauh. Disya tak pernah benar-benar merasa ada di dalam rumah. Kevin menyesal mengetahui fakta ini cukup lama, Kevin tak ingin Disya merasa tersakiti lebih jauh. Ayahnya harus bertanggung jawab dan memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.

Disya dan Rena harus tahu kebenarannya. Mereka tidak boleh terlalu jauh terluka.

Bersambung…….

Editor : Yaumi Sa’idah

 

 

Latest articles

Jalur UM-Mandiri 2020, UIN SU: Kuota 1300 Camaba

Medan, Dinamika Online – UIN SU membuka kuota 1300 untuk calon mahasiswa baru (Camaba) tahun akademik 2020/2021. Hal tersebut berdasarkan pernyataan Yunni Salma, S.Ag.,...

Gelar Seminar, Sema FSH: Kita Gali Ilmu Pengetahuan Terhadap Hukum

Medan, Dinamika Online - Senat Mahasiswa (Sema) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) mengadakan seminar daring bertajuk "Menggagas Penegakan Hukum Pidana di Indonesia pada Era...

FEBI Lahirkan Wisudawan Terbaik pada Wisuda ke-73

Medan, Dinamika Online - UIN Sumatera Utara mewisudakan sebanyak 649 wisudawan/ti pada sidang senat terbuka. Wisuda ke-73 yang berlangsung di Aula Utama Kampus II...

5 Tips Berani Bicara, Himatika Adakan Diskusi Online

Medan, Dinamika Online – Himpunan Mahasiswa Matematika (Himatika) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN SU adakan diskusi online dengan mengangkat tema “Berani Bicara, Tunjukkan Kualitas...

UIN SU Wisudakan 649 Mahasiswa

Medan, Dinamika Online - UIN SU mewisudakan sebanyak 649 mahasiswa pada sidang senat terbuka Wisuda ke-73. Prosesi ini berlangsung di Aula Utama Kampus II...