Foto: www.google.com

Penulis : Ahmad Azwar Batubara

“Berhasil atau tidaknya usaha ini tergantung pada kesungguhan hati kita, tergantung pada kesanggupan kita bekerja. Saya yakin bahwa nasib Tanah Air di masa depan terletak di tangan kita.” (Sutomo)

Tiada pernah hilang di ingatan kita, bangsa ini dahulu tersiksa dengan sistem kerja paksa tanpa henti yang dilakukan oleh Belanda ketika menjajah bangsa ini. Banyak luka dan air mata yang jatuh di bumi pertiwi atas penjajahan tersebut. Belum lagi sumber daya alam di negara Gemah Ripah Loh Jinawi yang terus-menerus digrogoti dan dicuri oleh para bangsa penjajah.

Rakyat Indonesia sangat terpuruk dan tersiksa dengan keadaan ini menyebabkan para pemuda terdahulu membuat suatu pergerakan agar terlepas dari rantai penindasan dan penjajahan. Banyak penggerak-penggerak pada masa itu menginginkan kebebasan dan terus-menerus membangkitkan semangat rakyat Indonesia.

Kebangkitan nasional salah satu peristiwa penting di negara ini. Mengutip dari website Kemdikbud.go.id, Kebangkitan Nasional adalah masa di mana bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme, serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang sebelumnya tidak pernah muncul selama masa penjajahan, terbukti dengan adanya Budi Utomo, salah satu organisasi yang memperjuangkan dan membangkitan semangat bangsa Indonesia.

Kebangkitan yang bertujuan membangkitkan jiwa kebangsaan dan rasa harga diri yang kuat terhadap seluruh lapisan masyarakat di Indonesia, kaum terpelajar yang dipelopori oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo dan tokoh pemuda seperti Sutomo mulai menggerakkan para pemuda dan pelajar Indonesia untuk membentuk organisasi yang akan bergerak dalam bidang sosial, budaya, ekonomi, dan politik.

Pada tahun 1906, kaum terpelajar tersebut mulai terjun ke daerah-daerah untuk mencari dukungan moral dan material dari kaum bangsawan, para pegawai, dan dermawan agar bersedia secara aktif membantu usaha dalam memperbaiki nasib bangsanya. Dalam ceramahnya di depan para pelajar STOVIA, Dr. Wahidin Sudirohusudo melontarkan keinginannya untuk mendirikan badan pendidikan yang disebut Studiefonds. Ajakan tersebut mendapat sambutan hangat dari seluruh pelajar.

Salah seorang pelajar STOVIA yang bernama Sutomo segera menghubungi kawan-kawannya untuk mendiskusikan mengenai nasib bangsanya. Pada hari Minggu, tanggal 20 Mei 1908 Sutomo yang saat ini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Pada waktu itu Sutomo dan kawan-kawannya di ruang kelas Sekolah Kedokteran STOVIA di Batavia atau Jakarta mendirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama Budi Utomo (Budi Luhur).

Sudah hampir 108 tahun Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Segala visi dan misi yang dibentuk pemerintah dan persiapan konsep acara selalu dibentuk setiap tahunnya. Namun yang menjadi permasalahan di era digital saat ini, sudah sejauh manakah para pemuda mengenal lebih dekat apa arti dari Kebangkitan Nasional?

Mungkin hanya sedikit para pemuda yang mengetahui makna Kebangkitan Nasional yang sesungguhnya. Dapat dilihat para pemuda dewasa ini yang hanya mementingkan diri sendiri, hanya mementingkan kebutuhan pribadinya saja. Contoh yang selalu kita perhatikan dengan saksama adalah ketika sebuah kampus atau universitas membuat kebijakan-kebijakan yang mempersulit mahasiswa, hanya segelintir mahasiswa yang mau ikut dan turut berpartisipasi untuk mengkritisi dan memantau kebijakan kampus tersebut. Ini menunjukkan bahwasanya masih banyak sekali pemuda dan mahasiswa apatis di negara ini.

Masih mengkutip website Kemendikbud.go.id, ada beberapa kelemahan perjuangan bangsa terdahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan, salah satunya perlawanan terhadap penjajah masih secara sporadis dan tidak serentak. Bila kita telaah lebih dalam para pejuang yang terdahulu, salah satu penyebab gagalnya suatu kelompok dalam memperoleh kemerdekaan adalah karena para pejuang terdahulu hanya bergerak di daerahnya masing-masing, belum mau untuk bergerak bersama melawan penjajahan.

Peristiwa reformasi pada tahun 1998, merupakan salah satu pencapaian terbesar jika seluruh pemuda bersatu untuk menghantam dan menghancurkan kebijakan peemerintah yang dikira sudah tidak dapat ditoleransi lagi. Turunnya Presiden Soeharto dari singgasananya merupakan salah satu bukti nyata bahwasanya kita sebagai pemuda harus bersatu membuka cakrawala agar tetap kritis bukan apatis.

Begitu juga dengan para pemuda yang dewasa ini disebut-sebut sebagai agent of change namun hanya berdiam diri mementingkan diri sendiri tanpa memerhatikan situasi di sekelilingnya bahkan di negaranya. Hal ini menjadi persoalan penting yang harus diselesaikan.

Sudah saatya kita sebagai pemuda lebih tanggap dan lebih peduli terhadap keadaan di sekitar kita. Hidup bukan hanya untuk diri sendiri, hiduplah untuk orang banyak. Ayo Bergerak! Ayo Bertindak!

Editor             : Shofiatul Husna Lubis