Advertisement
Foto : Dok. Dinamika
Foto : Dok. Dinamika

Hawa dingin menyergap. Kumandang Azan Subuh memaksa mata untuk bangun dari pertapaannya. Di Makassar, matahari terlihat lebih indah, memberi semangat untuk kembali hidup. Sudah seminggu berlalu kami menyibukkan diri di Sulawesi Selatan, tepatnya di Makassar. Selama satu minggu mengikuti pelatihan, tidak lengkap rasanya jika tidak menyempatkan waktu untuk menelusuri keindahan wisatanya.

Berbagai objek wisata yang ditawarkan, akan memanjakanmu untuk menghabiskan masa-masa liburan di Sulawesi Selatan. Satu diantaranya tertuang dalam kisah menarik tentang perjalanan kami menuju sebuah objek wisata bahari, sebuah pantai yang familiar bernama “Apparalang”, begitu masyarakat menyebutnya. Apparalang baru-baru ini mulai menampakkan diri untuk diekspos. Belum banyak yang tahu tentang tempat wisata bahari yang satu ini, tentunya tidak semasyur Pantai Bira yang juga berada di Sulawesi Selatan.

Untuk sampai ke objek wisata ini, kami harus menempuh jarak sekitar 160 km dari Kota Makassar dengan menggunakan jasa rental kendaraan mobil. Perlu 3 hingga 4 jam perjalanan untuk sampai di lokasi wisata. Berlokasi di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, objek wisata ini menjadi surga tersembunyi di pesisir Sulawesi Selatan.

Pukul 09.00 WIB, perjalanan kami pun dimulai. Meninggalkan hiruk pikuk Kota Makassar, jauh dari jalanan macet dan kebisingan kota, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan suasana pesisir yang letaknya di daerah perbukitan. Suasana perbukitan dengan daerah pesisir, inilah yang akan kita saksikan selama di perjalanan ke lokasi wisata tujuan.

Sepoi angin dan jejeran pohon kelapa yang melambai-lambai menggambarkan suasana pesisir dan sejuknya daerah perbukitan. Sementara daerah pedesaan semakin terasa dengan keberadaan rumah penduduk yang berjejer dan masih melekat pada nila-nilai arsitektur tradisional masyarakat Bugis dan Makassar, seperti rumah panggung dengan simbol tanduk kerbau di atap rumahnya.

Beberapa gerombolan kawanan kuda sesekali terlihat di sepanjang jalan, mata tidak jemu-jemu menikmati pemandangan dan panorama alam yang indah. Pemandangan ini jarang sekali ditemui di daerah asal kami (Sumatera, read). Kawanan kuda yang dilepas begitu saja, ketika pertama  melihatnya seolah ada tanya dalam benak, apakah itu merupakan binatang ternak atau kuda liar yang sering berkeliaran di sepanjang padang rumput yang gersang. Sisa rumput-rumput mengering akibat ganasnya matahari.

Luasnya ladang-ladang garam milik para penduduk nampak di sisi kanan dan kiri jalan membuat kita merasa benar-benar semakin dekat dengan pesisir pantai, artinya jarak ke Apparalang semakin dekat pula. Untuk dapat menyentuh pantai, kita harus masuk ke dalam hutan. Walau sebagian badan jalan sudah diberi sentuhan aspal, namun semakin jauh ke dalam hutan, semakin curam pula jalan yang harus dilewati. Permukaan tanah di daerah sekitar Apparalang merupakan perbukitan yang masih beralaskan tanah liat, semakin menambah hasrat petualang.

Pengunjung yang menggunakan kendaraan mobil maupun sepeda motor harus tetap menjaga keamanan dan keselamatan diri, kondisi jalan yang berada di bukit sangat beresiko terutama di musim hujan karena permukaannya yang licin.

Lama menempuh perjalanan, akhirnya sampailah kami di lokasi tujuan. Berpagarkan sebuah kayu panjang yang disambung satu sama lain, “Dilarang masuk kendaraan” begitulah kalimat larangan yang tertulis di sebuah  tutup kaleng besar bercat merah yang tertempel di pagar pembatas. Di kiri dan kanan jalan merupakan hutan Kita hanya boleh berjalan kaki jika igin masuk lebih jauh, kendaraan dapat diparkirkan di tempat parkir yang telah disediakan.

Di tempat ini juga disediakan pondok untuk tempat istirahat. Di kiri dan kanan terdapat beberapa pedagang menjajakan souvenir, buah tangan dari Apparalang. Lurus ke arah depan, kita akan menemui tulisan dengan ukuran besar, terbuat dari kayu yang dibentuk menjadi kata “APPARALANG”. Di sisi kanannya terdapat menara yang tingginya sekitar 5 meter dari permukaan tanah, dari atas menara inilah kita bisa melihat pemandangan yang menakjubkan.

Ada satu lagi menara yang paling tinggi, letaknya berada di puncak bukit, tidak jauh dari menara yang pertama kali kita jumpai. Dari atas menara inilah seluruh pemandangan di sekitar Apparalang terlihat dengan jelas, baik pemandangan hutan yang luas dan pesona lautnya yang mempesona. Saat pertama menginjakkan kaki, yang terlontar hanyalah lirih-lirih takjub akan pesonanya. Pantai Apparalang sangat berbeda dengan pantai yang ada pada umumnya. Pantai yang biasanya memiliki pasir putih dan ombak yang menghempas di bibir pantai, namun di sini kita akan menemui hal yang jauh berbeda. Tidak ada pasir putih, dan hempasan ombak di bibir patai. Di pinggir pantai terdapat banyak tumpukan karang yang membatu, bahkan ada tumpukan karang yang membatu dnegan ukuran raksasa. Beberapa bagiannya terasa tajam saat diinjak tanpa menggunakan alas kaki. Tidak ada yang tahu, di balik tebing tinggi nan curam itu, ada pesona bak surga yang menakjubkan yang akan membuat mata terkesima memandangnya. Biru air laut dan airnya yang jernih akan menggoda kita untuk berenang bebas.

Jika ingin langsung menyentuh air laut nan biru dan jernih, kita harus menuruni tangga yang berada di pinggir tebing curam, saat melangkahkan kaki perlahan menuruni satu per satu anak tangga, kita akan merasakan sensasi adrenalin yang menantang, mengantarkan kita ke dalam surga dunia yang indah. Setelah berhasil menuruni anak tangga, kami pun menjeburkan diri untuk menikmati jernihnya laut Apparalang. Kedalaman air laut yang bervariasi sangat cocok untuk perenang amatir. Di sisi kiri pantai, air laut tidak terlalu dalam, tapi di sisi kanan, jangan berani mencoba bagi yang tidak pandai berenang, atau jika ingin kita dapat menyewa beberapa alat bantu untuk berenang.

Lama berendam di air laut, tak terasa hari mulai senja. Dari pantai Apparalang, warna merah senja terlihat begitu indah. Perlahan senja mulai menenggelamkan dirinya. Sungguh beruntung kami, senja berganti dengan malam yang berhiaskan bulan purnama. Kami berhasil mengabadikan keindahan malam itu dengan mengambil beberapa foro. Di Sulawesi Selatan, pemandangan alam yang satu ini terlihat sangat indah. Pukul 07.00 WIB kami pun kembali menuju Makassar. Rasanya berat untuk meninggalkan Apparalang yang telah memberikan pesona yang tak terlupakan. Namun malam memaksa kami untuk meninggalkan keindahan ini. Semoga kedatangan kami ini bukanlah menjadi yang pertama dan terakhir.

Itulah kisah perjalanan kami di Sulawesi Selatan tepatnya di objek wisata bahari Apparalang. Sampai jumpa di kisah perjalanan lainnya. Jangan lupa untuk mengabadikan foto di setiap perjalananmu, dan jangan lupa untuk menuliskannya dan berbagi pengalaman perjalananmu. Hal ini salah satu cara untuk mengabadikannya.

Penulis            : Nurtiandriyani S