Ani Idrus, Sang Wartawati Nasional

1
Desain oleh: Lelya Hilda Amira Ritonga.

Penulis: Lelya Hilda Amira Ritonga

Belum lama ini, kita telah memperingati Hari Pers Nasional yang jatuh pada tanggal 09 Februari. Salah satu tokoh pers nasional yakni Ani Idrus. Adapun wajah Ani Idrus yang ternyata pernah menghiasi laman google tepat pada hari ulang tahunnya yang ke 101 pada bulan november tahun 2019 lalu. Google mengingatkan kembali kepada kita, khususnya kaum milenial, yang banyak melupakan bahkan sama sekali tidak tahu mengenai salah satu sosok wartawati kebanggaan Indonesia ini.

Ani Idrus adalah sosok pejuang perempuan yang berasal dari Sawah Lunto, Sumatera Barat. Ia lahir dan dibesarkan di sana sampai ia remaja. Ibunya bernama Siti Djalisah dan ayah kandungnya bernama Sidi Idrus. Sejak remaja, Ani tinggal bersama ibu dan ayah tirinya, Misan. Ani memulai pendidikannya di sekolah dasar di wilayah tersebut.

Baca juga: Sejarah Kopi di Indonesia

Pada tahun 1928, Ani pindah ke Medan. Ia melanjutkan pendidikannya di Methodist English School, Meisjeskop School, Schakel School. Sejak saat itulah Ani mulai suka menulis dan merupakan awal mula Ani pada akhirnya menekuni dunia pers. Lalu, Ani berkuliah di Fakultas Hukum UISU Medan pada tahun 1962 sampai 1965. Dan melanjutkan kuliahnya di tempat yang sama, menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik tahun 1975.

Ani memulai karirnya sebagai seorang wartawan di tahun 1930. Ani Idrus turut andil dalam majalah Panji Pustaka, Jakarta. Lalu pada tahun 1936 ia bekerja di Sinar Deli, Medan. Tak berhenti sampai disitu, pada tahun 1938, Ani bersama suaminya, ia menerbitkan majalah politik “Seruan Kita” dan di tahun 1947 juga menerbitkan “Harian Waspada”. Kemudian pada tahun 1949, Ani menerbitkan majalah “Dunia Wanita”.

Baca juga: Simpan Sampahmu untuk Laut Kita

Di zaman kolonial Belanda, untuk menjadi seorang wartawan sangatlah susah. Bagi yang ingin menjadi seorang wartawan haruslah orang yang berani karena perlakuan pemerintah kolonial Belanda yang senantiasa mematikan semangat perjuangan bangsa indonesia.

Perjuangan Ani di dunia pers erat kaitannya dengan seorang perempuan. Tulisannya kebanyakan tentang perempuan. Salah satunya adalah “Posisi Kaum Perempuan dalam Pengelolaan Manajemen Pers” saat pekan diskusi di aula Pusat Kebudayaan Perancis di Jakarta.

Ani menulis cerpen di sejumlah media dengan nama pena Lady Andy. Lewat cerpen-cerpennya Ani ingin  menyampaikan bahwa perempuan harus mampu membela haknya dan jangan mau diperlakukan sewenang-wenang. Ia pun ingin mendorong kaum perempuan untuk mengejar kemajuan dirinya.

Selain tertarik pada dunia pers, Ani juga terjun pada dunia politik dan pendidikan. Dalam dunia pendidikan ia pernah mendirikan Taman Indria pada tahun 1953. Lalu, ia mendirikan SD Swasta Katlia dan di tahun 1978, dan ia juga mendirikan Yayasan Pendidikan Democratic. Selanjutnya, pada tahun 1953 ia mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Rohaniah. Kemudian, pada tahun 1987 mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STKIP).

Baca juga: Gempa Bumi Terdahsyat di Dunia

Dalam hal politik, berdasarkan info yang ada, ia pernah menjadi Wakil Ketua Indonesia Muda, organisasi yang merupakan wadah perjuangan pergerakan pemuda. Ia juga sempat menjadi Anggota Partai Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) di Medan, pada tahun 1937 dan Anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) pada tahun 1949. Pada tahun 1950, ia mendirikan Front Wanita Sumatera Utara dan menjabat sebagai ketua.

Selama hidupnya, Ani beberapa kali mendapatkan penghargaan, seperti:

  • Pada tahun 1990, Ani mendapat penghargaan dari Menteri Penerangan Indonesia sebagai wartawan di atas 70 tahun yang masih aktif untuk berkontribusi.
  • Pada tahun 90-an, Ani pernah mendapat anugerah Satya Penegak Pers Pancasila dari Menteri Penerangan Indonesia, yang pada saat itu hanya diberikan kepada 12 tokoh pers nasional.
  • Pada tahun 1959, Ani mendapatkan penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
  • Pada tahun 1959, Ani mendapatkan piagam Pembina Penataran Tingkat Nasional dari BP7 Jakarta.

Baca juga: LPM Dinamika UIN SU Pertahankan Penghargaan ISPRIMA 2020

Ani meninggal di Medan, Sumatera Utara pada 9 Januari 1999 di usia 80 tahun. Ani dimakamkan di Pemakaman Umum Jalan Thamrin, Medan.

Editor : Khairatun Hisan

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.