Akankah Manusia Bisa Tergantikan?

0
Penulis adalah Pemimpin Umum LPM Dinamika UIN SU

Oleh: Kurniawan

Perkembangan teknologi yang cukup pesat terkadang membuat pikiran kita menjadi liar. Bisa dikatakan lebih ke level khawatir. Menyaksikan bagaimana robot-robot saat ini yang dibekali dengan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, bisa mengancam manusia kehilangan pekerjaan, karena robot tersebut bisa bekerja layaknya manusia.

Kekhawatiran yang dibungkus dengan rasa kagum semakin memuncak, saat Agustus lalu sebuah perusahaan teknologi di China memproduksi robot bernama Emma, diklaim robot tersebut adalah yang tercanggih saat ini karena semakin mirip dengan manusia. Robot ini bahkan bisa berekspresi.

Otak manusia yang pintar dan tidak terbatas, didukung dengan informasi dan alat yang semakin canggih saat ini, memang membuat sesuatu yang kita rasa mustahil pun bisa saja hadir dalam bentuk yang sederhana.

Kemajuan teknologi ini memang tidak bisa kita hindari, karena inovasi berjalan seiring kemajuan pengetahuan manusia, dengan kata lain mimpi ditambah kemampuan dan keinginan maka jadilah sebuah inovasi. Kehadiran inovasi membuat berbagai kemungkinan baru, semuanya menuntut kita untuk mampu beradaptasi.

Berjuta manusia di bumi ini, semuanya punya potensi untuk menemukan hal baru. Didukung dengan kemudahan informasi, membuat kita kadang-kadang terkejut, baru saja kemarin belajar tentang satu hal dan belum begitu mahir, tiba-tiba sistemnya berubah lagi. Fenomena ini sebagian orang menikmatinya dengan suka cita, namun tak jarang yang mengaku sakit kepala.

Awalnya perubahan pola ini cukup mengkhawatirkan, karena perkembangan ini tidak bisa dibendung. Semakin hari manusia semakin pintar menciptakan robot canggih untuk membantunya menyelesaikan pekerjaan. Berarti besar kemungkinan lapangan kerja akan semakin berkurang. “Kalau sikit-sikit robot, terus apa lagi pekerjaan manusia?” Sepertinya banyak yang berpikir seperti itu.

Opini ini memang wajar, melihat saat ini robot tidak hanya membantu manusia untuk mebereskan rumah. Tapi, robot sekarang sudah ikut membantu persalinan seorang ibu di rumah sakit.

Namun, jika kita pikir-pikir, semakin banyak hal baru, seharusnya semakin banyak juga cara manusia untuk bekerja. Karena secanggih-canggihnya teknologi, ia tetap buatan manusia. Lalu, hanya manusia juga yang bisa memperbaikinya jika suatu saat rusak.

Bukan hanya itu, robot tetaplah robot. Meskipun bisa melakukan aktivitas yang sangat mirip dengan manusia, tetapi manusia butuh lebih dari sekadar kenyataan yang objektif. Robot tidak mengenal moral kemanusiaan, robot tidak akan bisa membangun komunikasi sebaik manusia.

Robot mungkin saja lebih cerdas dan lebih cepat, namun pekerjaan tidak hanya memandang dua hal tersebut. Pengambilan keputusan, empati, kolaborasi dan memahami perspektif adalah hal yang tidak bisa ditinggalkan dari dunia pekerjaan.

Pada dasarnya, inovasi yang diciptakan manusia adalah untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan, memberikan kemudahan, serta alternatif baru untuk melakukan aktivitas. Banyak yang sudah kita rasakan manfaatnya bukan hanya memudahkan pekerjaan saja, bahkan untuk ibadah pun campur tangan teknologi banyak sekali membantu.

Intinya, Robot meskipun dibekali dengan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan yang sangat canggih. Namun ia tetaplah hanya pembantu manusia. Tidak perlu syok apalagi sampai menganggapnya musuh baru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.